Apakah Sardinia Yaitu Atlantis Yang Hilang ?
Thursday, August 6, 2009
Edit
Para sarjana terkemuka dunia baru-baru ini berkumpul di Roma untuk mendiskusikan sebuah ilham kontroversial yang menyampaikan bahwa Sardinia yaitu pulau Atlantis yang hilang. Teori ini yang pertama kali disinggung dalam sebuah buku yang ditulis oleh jurnalis Italia berjulukan Sergio Frau telah menarik banyak perhatian dari masyarakat internasional, baik kebanggaan ataupun kritikan.
Buku itu, walaupun telah terjual sebanyak 30.000 kopi, tetap dianggap para akademisi sebagai sebuah sensasi yang tidak ilmiah dan tidak berdasar. Namun teori ini menerima perhatian besar tahun kemudian dikala UNESCO mengorganisir sebuah simposium mengenai informasi tersebut di Paris yang menyarankan biar ilham tersebut menerima pertimbangan serius. Kemudian sesudah itu, Akademisi, arkeolog, geolog dan sejarawan dari seluruh Italia berkumpul di Rome's Accademia dei Lincei untuk meneliti teori tersebut lebih mendalam dan mendiskusikan kemungkinan penelitian lanjutan di masa depan.
Pulau Atlantis menyerupai diketahui yaitu sebuah pulau misterius yang sampai sekarang keberadaannya belum diketahui secara pasti. Pulau ini pertama kali disinggung oleh filsuf Yunani Plato dalam bukunya Timaeus dan Critias (360 SM) yang menyampaikan bahwa sebuah pulau dengan peradaban maju dihancurkan oleh sebuah bencana. Para ilmuwan menduga bahwa tragedi yang dimaksud yaitu Tsunami.
Atlantis terletak di satu kawasan di wilayah Atlantik alasannya Plato menyampaikan bahwa pulau itu terletak di seberang Pilar Herkules. Menurut penulis Yunani kuno lainnya yang berjulukan Erathosthenes, pilar herkules terletak di selat Gibraltar.
Namun Frau percaya bahwa Erathosthenes, yang juga seorang pustakawan dan hebat geografi yang hidup di Alexandria pada kala kedua SM melaksanakan kesalahan. Frau percaya pilar Herkules terletak di Sisilia. Frau menerima kesimpulan ini sesudah melihat dua peta kuno Mediterania zaman perunggu. Satu peta menunjukkan Tunisia dan Sisilia hampir bersentuhan, peta yang lain yang menunjukkan Selat Gibraltar, dan keduanya menunjukkan kemiripan.
Frau berpikir bahwa Erathosthenes memindahkan pilar itu alasannya 120 tahun antara era Plato dan eranya, dunia Yunani berubah secara dramatis dan selat antara Sisilia dan Afrika sudah bukan merupakan serpihan kerajaan Yunani. Lebih Lanjut, pergeseran geologis dan naiknya permukaan air maritim memperlebar jarak antara Tunisia dan Sisilia yang akibatnya menjadi penyebab kesalahan Erathosthenes.
struktur piramida Yonaguni di Jepang.
(redicecreations.com)
Buku itu, walaupun telah terjual sebanyak 30.000 kopi, tetap dianggap para akademisi sebagai sebuah sensasi yang tidak ilmiah dan tidak berdasar. Namun teori ini menerima perhatian besar tahun kemudian dikala UNESCO mengorganisir sebuah simposium mengenai informasi tersebut di Paris yang menyarankan biar ilham tersebut menerima pertimbangan serius. Kemudian sesudah itu, Akademisi, arkeolog, geolog dan sejarawan dari seluruh Italia berkumpul di Rome's Accademia dei Lincei untuk meneliti teori tersebut lebih mendalam dan mendiskusikan kemungkinan penelitian lanjutan di masa depan.
Pulau Atlantis menyerupai diketahui yaitu sebuah pulau misterius yang sampai sekarang keberadaannya belum diketahui secara pasti. Pulau ini pertama kali disinggung oleh filsuf Yunani Plato dalam bukunya Timaeus dan Critias (360 SM) yang menyampaikan bahwa sebuah pulau dengan peradaban maju dihancurkan oleh sebuah bencana. Para ilmuwan menduga bahwa tragedi yang dimaksud yaitu Tsunami.
Atlantis terletak di satu kawasan di wilayah Atlantik alasannya Plato menyampaikan bahwa pulau itu terletak di seberang Pilar Herkules. Menurut penulis Yunani kuno lainnya yang berjulukan Erathosthenes, pilar herkules terletak di selat Gibraltar.
Namun Frau percaya bahwa Erathosthenes, yang juga seorang pustakawan dan hebat geografi yang hidup di Alexandria pada kala kedua SM melaksanakan kesalahan. Frau percaya pilar Herkules terletak di Sisilia. Frau menerima kesimpulan ini sesudah melihat dua peta kuno Mediterania zaman perunggu. Satu peta menunjukkan Tunisia dan Sisilia hampir bersentuhan, peta yang lain yang menunjukkan Selat Gibraltar, dan keduanya menunjukkan kemiripan.
Frau berpikir bahwa Erathosthenes memindahkan pilar itu alasannya 120 tahun antara era Plato dan eranya, dunia Yunani berubah secara dramatis dan selat antara Sisilia dan Afrika sudah bukan merupakan serpihan kerajaan Yunani. Lebih Lanjut, pergeseran geologis dan naiknya permukaan air maritim memperlebar jarak antara Tunisia dan Sisilia yang akibatnya menjadi penyebab kesalahan Erathosthenes.
struktur piramida Yonaguni di Jepang.
(redicecreations.com)