Perjanjian Green Hilton Memorial Agreement Yaitu Dokumen Palsu - Analisis
Thursday, October 10, 2013
Edit
Akhir-akhir ini sebuah dokumen yang disebut Green Hilton Memorial Agreement cukup menjadikan kehebohan di dunia maya. Dokumen misterius ini menyebutkan bahwa Amerika Serikat mempunyai hutang 57.000 ton emas kepada Indonesia. Bahkan disebutkan bahwa dokumen inilah yang mengakibatkan CIA ikut menggulingkan Presiden Sukarno. Tapi, sebaiknya kita tidak melihat terlalu jauh. Soalnya ada alasan berpengaruh untuk menyampaikan bahwa dokumen ini sesungguhnya ialah dokumen palsu.
Saya membuat alur tarikan garis untuk tanda tangan orisinil dan tanda tangan pada dokumen Green Hilton. kalian bisa melihat keduanya sangat jauh berbeda. Terlihat pada karakter "S", "K" dan "R".
Ini ialah alur tarikan garis pada tanda tangan asli.
Dan ini ialah alur tarikan garis pada dokumen Green Hilton Memorial
Pada kasus Green Hilton Memorial, disebutkan bahwa dokumen tersebut ditandatangani pada tanggal 14 November 1963 di Jenewa, Swiss.
Kita bisa mengusut keabsahannya dengan cara melacak keberadaan sang penandatangan. Dalam hal ini Presiden Sukarno dan Kennedy.
Lalu dimana Sukarno pada tanggal tersebut?
Di Indonesia, dokumen ini mungkin gres heboh pada tahun 2013 ini. Namun di Amerika, informasi ini sudah beredar semenjak tahun 2008 lewat situs situs berita memuatnya mirip ini (saya kutip apa adanya):
"Inilah perjanjian yang paling menggemparkan dunia. Inilah perjanjian yang mengakibatkan terbunuhnya Presiden Amerika Serikat John Fitzgerald Kennedy (JFK) 22 November 1963. Inilah perjanjian yang kemudian menjadi pemicu dijatuhkannya Bung Karno dari bangku kepresidenan oleh jaringan CIA yang memakai ambisi Soeharto. Dan inilah perjanjian yang hingga kini tetap menjadi misteri terbesar dalam sejarah ummat manusia."
Mengenai isi perjanjian tersebut, saya rasa tidak perlu saya posting seluruhnya. Jika kalian ingin mengetahuinya, kalian bisa membaca informasi lengkapnya di situs tersebut.
Mengenai isi perjanjian tersebut, saya rasa tidak perlu saya posting seluruhnya. Jika kalian ingin mengetahuinya, kalian bisa membaca informasi lengkapnya di situs tersebut.
Bagi mereka yang kurang memahami duduk kasus ekonomi mungkin akan sedikit kebingungan membacanya. Yang bisa saya tangkap, emas sebesar itu dipinjamkan oleh Sukarno kepada Amerika untuk dipakai sebagai cadangan agar pihak Amerika bisa mencetak uang dolar.
Singkatnya mirip ini:
1. Sukarno memegang kuasa atas emas-emas (yang disebut sebesar 57.000 ton) tersebut.
2. Lalu Sukarno memindahkan emas itu ke Amerika.
3. Sebagai gantinya, pihak Amerika akan memperlihatkan bunga senilai 2,5 persen dari harga emas.
4. Karena Sukarno tumbang, pembayaran bunga tersebut belum pernah dicairkan hingga kini dan emas tersebut lenyap dari pantauan radar.
Mungkin beberapa dari kalian akan bertanya mengapa emas itu dipakai untuk mendukung pencetakan uang dolar. Penjelasannya kurang lebih mirip ini:
Pada tahun 1963, sistem keuangan Amerika masih memakai "Gold Standard". Artinya untuk setiap dolar yang dicetak, maka harus ada emas yang dicadangkan. Dengan kata lain, jikalau mempunyai pemanis cadangan emas sebanyak 57.000 ton, maka Amerika bisa mencetak uang dolar sebesar nilai emas tersebut.
Amerika Serikat gres menghentikan sistem Gold Standard pada tahun 1971. Dan pada tahun 2013 ini sudah tidak ada negara yang memakai sistem semacam itu.
Jadi kita tahu alasannya sekarang.
Mungkin di antara kalian ada yang ingin tau berapa nilai bergotong-royong emas sebanyak 57.000 ton itu. Untuk sekedar informasi, nilainya terperinci sangat besar. Saya sudah membuat sedikit perhitungan mengenainya yang bisa kalian lihat pada gambar berikut ini.
Emas sebesar 57.000 ton itu sama dengan 61.685 Trilyun Rupiah. Sebuah jumlah yang sangat besar. Mungkin kita sukar membayangkannya. Sebagai perbandingan, pada September 2013, jumlah hutang luar negeri Indonesia ialah 2.983 Trilyun. Kaprikornus benar mirip yang diisukan selama ini. Harta karun revolusi Sukarno akan bisa melunasi seluruh hutang Indonesia dan bahkan masih mempunyai kelebihan untuk memakmurkan rakyat. Itu pun jikalau emas tersebut memang ada.
Tapi baiklah, cukup dengan hitung-hitungan ekonomi. Seperti yang sudah saya katakan di paragraf pembuka, ada alasan untuk menyebut dokumen tersebut sebagai dokumen palsu sehingga saya rasa saya tidak perlu berbicara lebih lanjut soal harta sebesar itu.
Jika mau menelusuri lebih jauh, saya yakin akan menemukan lebih banyak bukti palsunya dokumen ini. Namun saya berhenti dikala telah mendapat beberapa yang saya anggap cukup fatal. Nah, ini ialah bukti-bukti yang saya maksud.
Stempel Kepresidenan Amerika Serikat
Stempel kepresidenan Amerika ada di sebelah kiri. Pada stempel tersebut tertulis United States of America (Bagian atas) dan The President (Bagian bawah). Masalahnya ialah desain semacam ini tidak pernah dipakai sama sekali.
Memang desain stempel presiden Amerika Serikat beberapa kali mengalami perubahan. Tapi tidak pernah ada yang mirip stempel pada dokumen Green Hilton Memorial Agreement tersebut.
Pada stempel yang asli, di belakang burung Rajawali terdapat 13 gumpalan awan yang tidak terlihat pada stempel dokumen Green Hilton memorial Agreement.
Desain stempel semacam ini mulai berlaku semenjak executive order 10860 tahun 1960. Pada tahun 1963, seharusnya Kennedy juga memakai stempel yang sama.
Lalu bagaimana dengan stempel kepresidenan Republik Indonesia?
Stempel Presiden Sukarno pada dokumen tersebut mirip dengan stempel kepresidenan yang didesain tahun 1950. Kaprikornus saya rasa tidak bermasalah.
Memang, ada kemungkinan bahwa saya salah dalam hal ini. Bisa saja stempel yang dipakai pada perjanjian internasional berbeda dengan versi resmi (Stempel presiden Amerika mempunyai beberapa versi tergantung tujuan penggunaan). Namun saya kira kemungkinannya akan sangat kecil. Penggunaaan kata "United States of America" sendiri tidak pernah ada di dalam stempel versi manapun. Yang ada hanya "United States".
Jadi, bukti pertama kita ialah masalah stempel kepresidenan Amerika yang tidak sesuai.
Sekali lagi, mungkin saya salah, mungkin juga tidak. Karena itu untuk menguatkan dugaan saya mengenai palsunya dokumen ini, saya akan memperlihatkan bukti tambahan.
Bekas Cropping Pada Dokumen?
Jika kita melihat dengan baik salah satu screenshot dokumen yang ada, kita bisa melihat logo burung Garuda di atas dokumen tampaknya merupakan hasil sebuah cropping.
Lihat bekas mirip kotak pada burung Garuda tersebut. Apakah itu bekas cropping? Jika iya, maka tampaknya logo itu telah ditempel lewat photoshop.
Selain itu, logo burung Garuda tersebut berbeda dengan stempel resmi kepresidenan RI. Kita tidak pernah melihat ada logo resmi negara dengan sayap Garuda memotong lingkaran.
Desain semacam ini mirip dengan pajangan burung Garuda yang ada di kedutaan besar Republik Indonesia di Washington.
Tapi, ini ialah pajangan. Tentu saja berbeda dengan stempel resmi untuk dokumen. Apakah mungkin sang pemalsu dokumen telah menjiplak desain pajangan ini alasannya ialah mengiranya sebagai versi resmi kepresidenan RI?
Nah, untuk yang satu ini, saya pun tidak menyampaikan bahwa saya niscaya benar. Bisa jadi kertas dokumen tersebut memang mempunyai bentuk "kotak" mirip cropping. Dan bisa jadi juga saya salah dalam hal penggunaan logo resmi kepresidenan pada perjanjian internasional.
Untuk itu, saya akan memperlihatkan bukti lainnya.
Tanda Tangan Sukarno Dari dokumen Green Hilton Memorial tersebut, ada indikasi bahwa tanda tangan Presiden Sukarno berbeda dengan tanda tangan aslinya. Mari kita bandingkan tanda tangan Sukarno pada dokumen tersebut dengan tanda tangan orisinil yang kita miliki.
Ini ialah tanda tangan Sukarno yang orisinil yang diambil dari belahan Keppres No.129 tahun 1961 perihal penyederhanaan partai politik.
Sedangkan ini ialah tanda tangan Sukarno pada dokumen Green Hilton.
Sedikit mengenai tanda tangan. Karena tanda tangan merupakan hasil dari goresan pena tangan, maka hampir dipastikan bahwa tidak akan ada tanda tangan yang sama persis, bahkan walaupun yang menandatangani ialah orang yang sama. Kadang, mood yang berbeda bisa menghasilkan tanda tangan yang berbeda pula. Tapi, ada satu yang selalu sama.
Yang saya maksud ialah cara ia menarik garisnya (stroke).
Tanda tangan sendiri ialah produk dari kebiasaan yang telah berlangsung selama puluhan tahun. Ketika seseorang membubuhinya di atas sebuah dokumen, ia tidak berpikir. Ia hanya menggoreskan penanya. Semuanya otomatis, sama mirip dikala kalian mengikat tali sepatu. Karena itu, cara ia menarik garis niscaya akan sama pada setiap tanda tangan.
Jadi, jikalau kalian ingin mengusut keaslian tanda tangan seseorang, periksalah tarikan garisnya. Jika berbeda, maka dipastikan bahwa tanda tangan tersebut telah dipalsukan, walaupun terlihat sangat mirip.
Dalam kasus dokumen Green Hilton Memorial Agreement ini, terperinci arah tarikan garis kedua tanda tangan berbeda.
Ini ialah alur tarikan garis pada tanda tangan asli.
Dan ini ialah alur tarikan garis pada dokumen Green Hilton Memorial
Bisakah kalian melihat perbedaannya?
Selain perbedaan pada tiga karakter tersebut, salah satu kesalahan yang paling fatal ialah kurangnya tanda titik dan garis pada tanda tangan Green Hilton Memorial. Kalian bisa mengusut semua tanda tangan Sukarno. Titik dan garis pada ujung tanda tangan tersebut selalu ada.
Pada dokumen yang satu lagi, titik dan garis ini muncul. Tapi, tarikan garis pada karakter "S" berbeda dengan yang satunya lagi.
Saya tidak akan heran dengan hal ini. Mereka yang menjiplak tanda tangan niscaya hanya akan memiripkan tanda tangan tanpa peduli dengan alur tarikannya.
Selain masalah tarikan. Ada satu lagi yang menarik. Jika kalian teliti, niscaya kalian sudah bisa menemukan perbedaan lainnya dari tanda tangan yang orisinil dan tidak.
Perhatikan kembali gambar tanda tangan orisinil dan tanda tangan pada Green Hilton Memorial. Bisakah kalian melihat perbedaannya?
Perbedaannya ialah pada nama penandatangan. Pada tanda tangan orisinil ditulis "Sukarno". Pada tanda tangan palsu ditulis "Soekarno". Sebuah kesalahan kecil yang dilupakan oleh sang pemalsu.
Soal ejaan ini, ada ceritanya.
Dalam buku Bung Karno penyambung pengecap rakyat karya Cindy Adams yang terbit tahun 1965, disebutkan bahwa Presiden Sukarno sendirilah yang meminta namanya ditulis dengan "Sukarno" dan bukan "Soekarno". Ini dikarenakan pada tahun 1947, Indonesia sudah resmi memakai Ejaan Soewandi yang salah satu cirinya ialah mengganti "OE" dengan "U". Kaprikornus Sukarno ingin konsisten dengan perubahan itu.
Sang pemalsu tanda tangan mungkin melihat tanda tangannya dan membaca "Soekarno" sehingga ia ikut memperlihatkan nama itu pada dokumen.
Masih kurang kuatkah buktinya?
Kalau begitu, saya berikan bukti yang terakhir.
Keberadaan Presiden Sukarno dan Kennedy
Sebuah dokumen resmi negara dihentikan salah dalam sumbangan tanggal. Dalam surat kelurahan, mungkin masih bisa. Tapi terperinci tidak untuk perjanjian sekaliber Green Hilton Memorial ini.Pada kasus Green Hilton Memorial, disebutkan bahwa dokumen tersebut ditandatangani pada tanggal 14 November 1963 di Jenewa, Swiss.
Kita bisa mengusut keabsahannya dengan cara melacak keberadaan sang penandatangan. Dalam hal ini Presiden Sukarno dan Kennedy.
Lalu dimana Sukarno pada tanggal tersebut?
Memang susah melacak keberadaan Sukarno. Soalnya dokumentasi kita tidak cukup memadai. Namun ada indikasi berpengaruh bahwa Sukarno tidak berada di Swiss.
Tahun 1960-an ialah tahun yang cukup rumit bagi Indonesia. Tahun 1962, Indonesia dipercaya menjadi tuan rumah Asian Games ke-4. Karena Indonesia menjalin hubungan baik dengan Cina dan Palestina, maka Indonesia menolak keikutsertaan Taiwan dan Israel. Ini mengakibatkan komite Olimpiade Internasional memberi hukuman kepada Indonesia.
Sukarno menjadi marah. Lalu ia memutuskan untuk membuat event tandingan semacam Olimpiade yang disebut Ganefo (Games of the New Emerging Forces). Sambil membawa semangat yang juga dibawa oleh gerakan non blok, Sukarno menekankan kekuatan Ganefo sebagai simbol pemberontakan terhadap kekuatan adidaya.
Nah, Ganefo pertama diadakan pada tanggal 10-22 November 1963. Acara tersebut dibuka eksklusif oleh Presiden Sukarno. Kaprikornus pada tanggal 10 November, Sukarno masih ada di Jakarta. Tidak ada catatan mengenai keberadaannya pada tanggal 14 November.
Tapi pertanyaannya adalah: "Apakah dalam masa penyelenggaraan event yang dianggapnya sebagai simbol kekuatan negara-negara berkembang itu Sukarno mau pergi ke Swiss?
Saya rasa tidak.
Jadi, saya menduga bahwa Sukarno tidak berada di Swiss pada tanggal itu. Saya pun tidak bisa menemukan catatan perjalanannya ke Swiss pada tanggal tersebut.
Mungkin kalian masih belum puas dengan balasan ini. Tunggu dulu. Masih ada Kennedy.
Sebenarnya pemalsu dokumen ini kurang teliti. Seharusnya mereka tahu bahwa gerak-gerik presiden Amerika dicatat dengan teliti dan didokumentasikan dengan sangat baik. Bahkan 50 tahun sehabis itu, kita masih bisa melacaknya.
Dalam kasus ini mereka telah menentukan tanggal yang salah. Dan ini fatal.
Pada tanggal 14 November 1963, Kennedy ternyata sedang berada di Washington, Amerika Serikat, dan tidak berada di Swiss. Saat itu ia memperlihatkan konferensi pers dan menjawab pertanyaan aneka macam wartawan. Kalian bisa melihatnya di situs JFK Library atau kalian juga bisa melihat rekamannya di link youtube berikut ini.
Masih belum puas?
Baiklah, saya lanjutkan.
Pada tanggal 15 November 1963, Kennedy juga tidak ada di Swiss alasannya ialah ia menghadiri konferensi AFL CIO di New York. AFL CIO ialah salah satu organisasi serikat buruh di Amerika.
Tapi tunggu dulu. Mungkin di antara kalian ada yang tidak puas kemudian bertanya, "Bro enigma, apa yang dilakukan Kennedy sebelum ia konferensi pers pada tanggal 14 November?"
Pertanyaan bagus. Pada tanggal 13 November, Kennedy masih ada di Washington, menghadari program dengan Resimen Black Watch of the Royal Highlanders. Kalian bisa melihat rekaman youtubenya disini.
Bagaimana? bukankah ini menunjukan bahwa pada tanggal 13,14 dan 15 November 1963 Kennedy tidak berada di Swiss? Kaprikornus bagaimana caranya ia menandatangani dokumen Green Hilton Memorial tersebut?
Indikasi stempel kepresidenan Amerika yang palsu, kemungkinan cropping pada dokumen, tanda tangan Sukarno yang juga terindikasi dipalsukan dan Presiden Kennedy yang terperinci tidak berada di Swiss pada tanggal ditandatanganinya dokumen itu. Apakah bukti-bukti ini masih kurang kuat?













