Nasa Menemukan Fosil Basil Pada Meteorit Planet Mars
Saturday, November 28, 2009
Edit
Pada tahun 1984, sebuah meteorit yang diberi instruksi Allen Hills (ALH) 84001 ditemukan di sebuah daerah di Antartika. Meteorit tersebut diperkirakan jatuh ke bumi 13.000 tahun yang lalu. Setelah lebih dari 20 tahun, NASA mengumumkan bahwa mereka telah berhasil menemukan bakteri-bakteri gila pada permukaan dan struktur bebatuan tersebut, bukti adanya kehidupan di planet Mars.
Para ilmuwan percaya bahwa sebuah asteorid atau komet telah menghantam permukaan Mars jutaan tahun yang kemudian dan mengakibatkan bebatuan di permukaan Mars berhamburan ke ruang angkasa. Bebatuan itu melayang di ruang angkasa selama 16 juta tahun sebelum kesudahannya salah satunya jatuh di Antartika 13.000 tahun yang lalu.
Pada tahun 1996, NASA dan pemerintah Amerika Serikat mengeluarkan pernyataan yang mengejutkan bahwa tampaknya meteorit tersebut mengandung basil dari planet Mars.
Foto-foto yang dirilis menawarkan adanya objek-objek yang ibarat makhluk hidup.
Namun pada tahun itu, ketertarikan atas inovasi tersebut segera lenyap alasannya yakni para ilmuwan lain menuduh meteorit tersebut telah terkontaminasi. Mereka juga berargumen bahwa panas yang dihasilkan dikala kerikil itu berhamburan ke luar angkasa mungkin telah membuat struktur mineral yang disalahartikan sebagai mikrofosil.
Walaupun perdebatan terus berlangsung, penelitian terus dilanjutkan oleh NASA, kali ini dengan memakai mikroskop elektron resolusi tinggi, teknologi yang belum tersedia pada tahun 1996. Dan dengan teknologi inilah, inovasi tahun 1996 terkonfirmasi kembali.
Penelitian atas meteorit itu dipimpin oleh Dr Kathie Thomas-Keprta dan para ilmuwan lain di Johnson Space Center di Houston, Texas. Penelitian tersebut memfokuskan pada analisis detail kristal magnetik, partikel-partikel magnetik mikro dan piringan karbonat di dalam batu. Beberapa basil tertentu di bumi diketahui mengandung kristal magnetik yang dipercaya berfungsi mirip kompas mikro untuk membantu mereka mengetahui arah. Kristal ini kemudian akan menjelma bentuk yang tidak biasa dikala bergabung dengan bakteri, dan bentuk inilah yang terlihat pada ALH 84001.
Sebagai tambahan, para peneliti menyampaikan bahwa kemurnian materi kimia yang ditemukan pada kerikil tersebut lebih mengarah kepada sesuatu yang biologis dibanding geologis. Lagipula Batu tersebut menawarkan kemungkinan adanya interaksi dengan air.
Dr Dennis Bazylinski dari Universitas Nevada yang mereview laporan inovasi itu yang dipublikasikan di jurnal Geochemical dan Meteoritic Society menyampaikan :
"Saya rasa laporan ini sangat luar biasa. Saya sudah berkecimpung di bidang basil magnetik semenjak usang dan aku percaya bahwa salah satu indikasi yang menawarkan adanya kehidupan di Mars yakni adanya kristal magnetik di meteorit yang tampaknya memang terekstrak dari bakteri. Pada mulanya, aku mengira ada kesalahan. Namun kini aku tidak ragu lagi."
Dr Bazylinski juga menyampaikan bahwa salah satu organisme bumi yang sedang ditelitinya mempunyai bentuk partikel yang sangat mirip dengan yang ada pada meteorit Mars.
Penemuan ini memang masih akan diperdebatkan. Namun apabila terkonfirmasi, maka inovasi ini mungkin akan menjadi inovasi sains terbesar di periode ini.
(dailymail.co.uk)
Para ilmuwan percaya bahwa sebuah asteorid atau komet telah menghantam permukaan Mars jutaan tahun yang kemudian dan mengakibatkan bebatuan di permukaan Mars berhamburan ke ruang angkasa. Bebatuan itu melayang di ruang angkasa selama 16 juta tahun sebelum kesudahannya salah satunya jatuh di Antartika 13.000 tahun yang lalu.
Pada tahun 1996, NASA dan pemerintah Amerika Serikat mengeluarkan pernyataan yang mengejutkan bahwa tampaknya meteorit tersebut mengandung basil dari planet Mars.
Foto-foto yang dirilis menawarkan adanya objek-objek yang ibarat makhluk hidup.
Namun pada tahun itu, ketertarikan atas inovasi tersebut segera lenyap alasannya yakni para ilmuwan lain menuduh meteorit tersebut telah terkontaminasi. Mereka juga berargumen bahwa panas yang dihasilkan dikala kerikil itu berhamburan ke luar angkasa mungkin telah membuat struktur mineral yang disalahartikan sebagai mikrofosil.
Walaupun perdebatan terus berlangsung, penelitian terus dilanjutkan oleh NASA, kali ini dengan memakai mikroskop elektron resolusi tinggi, teknologi yang belum tersedia pada tahun 1996. Dan dengan teknologi inilah, inovasi tahun 1996 terkonfirmasi kembali.
Penelitian atas meteorit itu dipimpin oleh Dr Kathie Thomas-Keprta dan para ilmuwan lain di Johnson Space Center di Houston, Texas. Penelitian tersebut memfokuskan pada analisis detail kristal magnetik, partikel-partikel magnetik mikro dan piringan karbonat di dalam batu. Beberapa basil tertentu di bumi diketahui mengandung kristal magnetik yang dipercaya berfungsi mirip kompas mikro untuk membantu mereka mengetahui arah. Kristal ini kemudian akan menjelma bentuk yang tidak biasa dikala bergabung dengan bakteri, dan bentuk inilah yang terlihat pada ALH 84001.
Sebagai tambahan, para peneliti menyampaikan bahwa kemurnian materi kimia yang ditemukan pada kerikil tersebut lebih mengarah kepada sesuatu yang biologis dibanding geologis. Lagipula Batu tersebut menawarkan kemungkinan adanya interaksi dengan air.
Dr Dennis Bazylinski dari Universitas Nevada yang mereview laporan inovasi itu yang dipublikasikan di jurnal Geochemical dan Meteoritic Society menyampaikan :
"Saya rasa laporan ini sangat luar biasa. Saya sudah berkecimpung di bidang basil magnetik semenjak usang dan aku percaya bahwa salah satu indikasi yang menawarkan adanya kehidupan di Mars yakni adanya kristal magnetik di meteorit yang tampaknya memang terekstrak dari bakteri. Pada mulanya, aku mengira ada kesalahan. Namun kini aku tidak ragu lagi."
Dr Bazylinski juga menyampaikan bahwa salah satu organisme bumi yang sedang ditelitinya mempunyai bentuk partikel yang sangat mirip dengan yang ada pada meteorit Mars.
Penemuan ini memang masih akan diperdebatkan. Namun apabila terkonfirmasi, maka inovasi ini mungkin akan menjadi inovasi sains terbesar di periode ini.
(dailymail.co.uk)

