Arkeolog Cina Berhasil Menemukan Makam Kaisar Cao Cao
Wednesday, December 30, 2009
Edit
Sebelumnya kita hanya mengenalnya lewat novel ternama "Romance of the three kingdoms" atau film blockbuster "Red Cliff". Kali ini, Jenderal Cao Cao yang perkasa kembali muncul ke permukaan sehabis para arkeolog Cina mengumumkan bahwa mereka mungkin telah menemukan makam pemimpin yang legendaris tersebut.
Kompleks pemakaman yang ditemukan diperkirakan berusia sekitar 1.800 tahun dan dipercaya merupakan daerah peristirahatan terakhir Cao Cao, seorang jenderal cerdas dan pemimpin pada kala ke-3 yang sering ditampilkan dalam kisah-kisah rakyat sebagai politisi yang licik.
Kompleks tersebut ditemukan di desa Xigaoxue di bersahabat kota Anyang, Propinsi Henan, dan mempunyai luas 8.000 kaki persegi. Didalamnya ada terowongan sepanjang 130 kaki yang menuju ke sebuah ruang bawah tanah.
Menurut para sejarawan, kepandaian militer dan politik Cao Cao telah menciptakan ia bisa membangun negara Wei yang dianggap sebagai negara terkuat dan termakmur di Cina selama periode tiga kerajaan (208 - 280 M) dimana dikala itu Cina terbagi kedalam tiga wilayah yang berbeda.
Dalam makam itu ditemukan jasad dua wanita dan seorang laki-laki serta lebih dari 250 relik selama penggalian yang berlangsung selama satu tahun belakangan.
Jasad laki-laki itu diidentifikasi sebagai seorang laki-laki berumur 60an. Sedangkan dua jasad wanita itu diperkirakan berusia 50an dan 20an.
Menurut para ahli, jasad laki-laki tersebut ialah Cao Cao yang meninggal pada tahun 220 Masehi di usia 65 tahun. Sedangkan dua jenazah wanita lainnya diduga sebagai permaisuri dan pelayannya.
Di dalam kompleks pemakaman tersebut juga ditemukan lukisan-lukisan watu yang menampilkan kehidupan sosial masyarakat masa Cao Cao. Lalu ditemukan juga sebuah lempengan watu yang berisi tabrakan mengenai obyek-obyek kurban dan beberapa barang lain yang dianggap sebagai milik pribadi Cao Cao.

Sebelumnya, sebuah lempengan watu bertuliskan "Raja Wu dari Wei", yaitu gelar yang diberikan kepada Cao Cao sehabis ia meninggal, sempat dicuri dari makam tersebut, namun pihak yang berwajib berhasil mendapatkannya kembali.
"Lempeng watu bertuliskan gelar tersebut ialah bukti terkuat yang kami miliki bahwa makam itu ialah milik Cao Cao." Kata Liu Qingzhu, arkeolog dari Chinese Academy of Social Sciences.
"Kami percaya tidak ada satu orangpun yang sanggup mempunyai relik yang bertuliskan mengenai Cao Cao di dalam sebuah makam sebanyak itu, kecuali, tentu saja makam itu milik Cao Cao sendiri."
Cao Cao yang kita kenal lewat buku-buku dan film ialah pemimpin terakhir dinasti Han timur sebelum hasilnya membentuk negara sendiri pada periode kekacauan politik masa tiga kerajaan.
Ia meninggal pada tahun 220 Masehi di Luoyang, sebuah kota di timur dinasti han dan dianugerahkan gelar sebagai kaisar negara Wei yang didirikannya.
Ayahnya ialah anak adopsi dari kasim kepala di pengadilan kerajaan dan Cao ialah seorang komandan sebuah pasukan kecil sebelum ia diangkat sebagai jenderal sehabis berhasil memadamkan pemberontakan yang mengancam kerajaan Han.
Karakter yang menampilkan Cao Cao sering digambarkan sebagai seorang berandalan yang licik dalam novel ternama "Romance of The Three Kingdoms". Karakternya yang licik ini begitu populer di Cina sehingga bahkan dijadikan pepatah yang berbunyi "Jika kau membicarakan Cao Cao, maka Cao Cao akan datang". Selain sebagai jenderal, Cao Cao juga dikenal sebagai seorang penyair.
Kuburan tersebut ditemukan dengan tidak sengaja pada Desember 2008 ketika seorang pekerja bersahabat Kilin sedang menggali lumpur untuk menciptakan watu bata. Penemuan itu tidak dilaporkan kepada pemerintah dan pejabat lokal gres mengetahui mengenai inovasi itu ketika lempeng watu yang bertuliskan gelar Cao Cao disita dari seorang penjarah makam.
(dailymail.co.uk)
Kompleks pemakaman yang ditemukan diperkirakan berusia sekitar 1.800 tahun dan dipercaya merupakan daerah peristirahatan terakhir Cao Cao, seorang jenderal cerdas dan pemimpin pada kala ke-3 yang sering ditampilkan dalam kisah-kisah rakyat sebagai politisi yang licik.
Kompleks tersebut ditemukan di desa Xigaoxue di bersahabat kota Anyang, Propinsi Henan, dan mempunyai luas 8.000 kaki persegi. Didalamnya ada terowongan sepanjang 130 kaki yang menuju ke sebuah ruang bawah tanah.
Menurut para sejarawan, kepandaian militer dan politik Cao Cao telah menciptakan ia bisa membangun negara Wei yang dianggap sebagai negara terkuat dan termakmur di Cina selama periode tiga kerajaan (208 - 280 M) dimana dikala itu Cina terbagi kedalam tiga wilayah yang berbeda.
Dalam makam itu ditemukan jasad dua wanita dan seorang laki-laki serta lebih dari 250 relik selama penggalian yang berlangsung selama satu tahun belakangan.
Jasad laki-laki itu diidentifikasi sebagai seorang laki-laki berumur 60an. Sedangkan dua jasad wanita itu diperkirakan berusia 50an dan 20an.
Menurut para ahli, jasad laki-laki tersebut ialah Cao Cao yang meninggal pada tahun 220 Masehi di usia 65 tahun. Sedangkan dua jenazah wanita lainnya diduga sebagai permaisuri dan pelayannya.
Di dalam kompleks pemakaman tersebut juga ditemukan lukisan-lukisan watu yang menampilkan kehidupan sosial masyarakat masa Cao Cao. Lalu ditemukan juga sebuah lempengan watu yang berisi tabrakan mengenai obyek-obyek kurban dan beberapa barang lain yang dianggap sebagai milik pribadi Cao Cao.
Sebelumnya, sebuah lempengan watu bertuliskan "Raja Wu dari Wei", yaitu gelar yang diberikan kepada Cao Cao sehabis ia meninggal, sempat dicuri dari makam tersebut, namun pihak yang berwajib berhasil mendapatkannya kembali.
"Lempeng watu bertuliskan gelar tersebut ialah bukti terkuat yang kami miliki bahwa makam itu ialah milik Cao Cao." Kata Liu Qingzhu, arkeolog dari Chinese Academy of Social Sciences.
"Kami percaya tidak ada satu orangpun yang sanggup mempunyai relik yang bertuliskan mengenai Cao Cao di dalam sebuah makam sebanyak itu, kecuali, tentu saja makam itu milik Cao Cao sendiri."
Cao Cao yang kita kenal lewat buku-buku dan film ialah pemimpin terakhir dinasti Han timur sebelum hasilnya membentuk negara sendiri pada periode kekacauan politik masa tiga kerajaan.
Ia meninggal pada tahun 220 Masehi di Luoyang, sebuah kota di timur dinasti han dan dianugerahkan gelar sebagai kaisar negara Wei yang didirikannya.
Ayahnya ialah anak adopsi dari kasim kepala di pengadilan kerajaan dan Cao ialah seorang komandan sebuah pasukan kecil sebelum ia diangkat sebagai jenderal sehabis berhasil memadamkan pemberontakan yang mengancam kerajaan Han.
Karakter yang menampilkan Cao Cao sering digambarkan sebagai seorang berandalan yang licik dalam novel ternama "Romance of The Three Kingdoms". Karakternya yang licik ini begitu populer di Cina sehingga bahkan dijadikan pepatah yang berbunyi "Jika kau membicarakan Cao Cao, maka Cao Cao akan datang". Selain sebagai jenderal, Cao Cao juga dikenal sebagai seorang penyair.
Kuburan tersebut ditemukan dengan tidak sengaja pada Desember 2008 ketika seorang pekerja bersahabat Kilin sedang menggali lumpur untuk menciptakan watu bata. Penemuan itu tidak dilaporkan kepada pemerintah dan pejabat lokal gres mengetahui mengenai inovasi itu ketika lempeng watu yang bertuliskan gelar Cao Cao disita dari seorang penjarah makam.
(dailymail.co.uk)


