Q & A: Apakah Film Fourth Kind Menurut Pada Cerita Nyata?
Wednesday, February 24, 2010
Edit
Evan said...
Bang enigma, sudah pernah nonton fourth kind ? atau tahu ihwal film semi dokumenter tsb? Apa komentar anda? kalau sanggup nanti tolong dibahas ya..thx.
February 19, 2010 6:54 PM
Bang enigma, sudah pernah nonton fourth kind ? atau tahu ihwal film semi dokumenter tsb? Apa komentar anda? kalau sanggup nanti tolong dibahas ya..thx.
February 19, 2010 6:54 PM
Film Fourth Kind yakni sebuah film yang ditulis dan disutradarai oleh Olatunde Osunsanmi yang mulai tayang perdana pada tanggal 6 November 2009. Film ini mengklaim bahwa apa yang diceritakannya menurut pada kisah aktual mengenai misteri hilangnya sekelompok orang di sebuah desa berjulukan Nome di Alaska.
Pada awal-awal film ini, penonton disuguhi dengan pemandangan berupa gunung dengan pohon-pohon yang indah. Namun, bergotong-royong Nome tidak mempunyai pemandangan menyerupai itu. Wajar, lantaran film ini bergotong-royong diambil di Bulgaria.
Lalu, dimulailah kisah film ini yang belakangan menceritakan bahwa sekelompok orang yang hilang secara misterius tersebut bergotong-royong diculik oleh para alien.
Namun sebelum melihat kasus ini lebih jauh, saya akan bercerita sedikit mengenai judul film ini.
Close Encounter
Kata "Fourth Kind" mungkin sedikit asing bagi beberapa dari kalian. Istilah ini bergotong-royong merupakan sebuah terminologi dalam dunia ufo.
Dalam bukunya yang berjudul "The UFO experience : A scientific Inquiry" yang terbit tahun 1972, seorang peneliti UFO bernama J. Allen Hynek pertama kali mulai mengemukakan istilah Close Encounter of the First Kind hingga Third Kind. Lalu Fourth kind dan seterusnya ditambahkan oleh peneliti lainnya.
Untuk sekedar menambah pengetahuan, saya akan jelaskan secara singkat mengenai istilah-istilah ini :
Close Encounter of the First kind yakni pengalaman penampakan satu atau lebih objek terbang tidak dikenal yang sanggup berupa piring terbang atau cahaya-cahaya aneh.
Close Encounter of the Second Kind yakni pengalaman dengan UFO yang disertai dengan imbas fisik menyerupai panas, radiasi, kerusakan pada daratan, imbas pada manusia, binatang yang ketakutan, sinyal yang terganggu atau waktu yang hilang (Lost Time).
Close Encounter of the Third Kind yakni perjumpaan dengan makhluk alien. Hynek tidak mendefinisikan makhluk ini dengan terang atau menyebut asal-usulnya. Ia hanya mengatakannya sebagai "animate beings". Istilah ini juga pernah dipakai oleh Stephen Spielberg untuk salah satu judul filmnya.
Sedangkan istilah Close Encounter of the Fourth Kind merujuk kepada insiden penculikan oleh alien.
UFO yang membawa dampak berupa luka atau kematian.
Sedangkan Seventh Kind merujuk kepada hibridisasi alien dengan manusia, sebuah konsep yang diterima luas oleh para penganut teori UFO masa purba.
Memisahkan Fiksi dengan Realita
Jadi, dari judulnya saja, film ini sudah mengindikasikan mengenai penculikan oleh alien. Namun, pertanyaannya apakah film ini benar-benar menurut pada insiden aktual ?
Jawaban untuk pertanyaan ini yakni : Ya !
Memang, di Nome, Alaska, selama kurun waktu 40 tahun, puluhan orang yang kebanyakan yakni suku orisinil lokal menghilang atau tewas tanpa lantaran yang jelas. Dalam hitungan statistik, Nome memang termasuk desa dengan persentase kehilangan orang terbesar di Amerika.
Tapi, benarkah para alien menculik para penduduk Nome yang hilang tersebut ?
Jawabannya yakni : Tidak ! Paling tidak itulah tanggapan dari FBI dan para penduduk lokal Nome.
Teknik Penyutradaraan dan Marketing
Film ini bergotong-royong hanyalah sebuah interpretasi liar dari seorang pembuat film, sama menyerupai interpretasi Stephen Spielberg yang percaya bahwa Crystal Skull yakni tengkorak alien di film Indiana Jones and the kingdom of Crystal Skull.
Yang membuat para penonton terkecoh yakni keahlian sang sutradara membuat narasi dan metode pengambilan gambar yang membuat atmosfer semi dokumenter pada film ini. Metode ini bukan hal yang gres lantaran sebelumnya film "Blair Witch Project" dan "Paranormal Activity" juga memakai metode yang serupa.
Selain metode pengambilan gambar yang cerdas, hal lain yang membuat banyak orang terkecoh yakni metode marketing yang dilancarkan untuk mempromosikan film ini.
Dalam facts sheet yang diberikan oleh Universal Studio mengenai film ini, disebutkan bahwa Olatunde Osunsami pertama kali terinspirasi untuk membuat film ini sesudah mendengar mengenai Dr. Abigail Tyler dari seorang temannya.
Lalu, dalam Facts sheet itu juga disebutkan bahwa :
"Pada ekspresi dominan gugur tahun 2000, pasien sang terapis (Dr. Abigail Tyler), di bawah efek hipnotis, memperlihatkan sikap yang memperlihatkan adanya perjumpaan dengan makhluk yang bukan manusia."
Disebutkan juga bahwa sementara sang psikolog menyelidiki fenomena ini, ia menemukan adanya sejarah kasus orang hilang di wilayah itu yang dimulai semenjak tahun 1960an. Semakin ia menggali lebih dalam, semakin ia percaya bahwa cerita-cerita yang disampaikan pasiennya bukanlah False Memory, melainkan sebuah bukti komprehensif yang mengkonfirmasi adanya insiden penculikan oleh alien.
Lalu, di bab lain statement itu juga menyampaikan bahwa sebagian adegan yang ditampilkan di film itu yakni adegan-adegan aktual yang diciptakan ulang.
Untuk menambah berpengaruh efek pencitraan itu, pada awal film, Milla Jovovich tampil dengan menyampaikan bahwa ia memerankan Dr. Abigail Tyler dan adegan yang akan disaksikan sangat mengganggu.
Kombinasi dari semua teknik ini karenanya membuat kepercayaan bahwa insiden yang diceritakan dalam film ini sungguh-sungguh nyata.
Apa yang bergotong-royong terjadi di Nome ?
Nome, yakni sebuah desa kecil di Alaska yang berpenduduk hanya sekitar 4.000 jiwa. Dalam rentang waktu sekitar 40 tahun, puluhan penduduk desa itu menghilang atau tewas lantaran karena yang tidak sanggup dijelaskan, kebanyakan yakni para penduduk orisinil Alaska.
Walaupun telah terjadi semenjak tahun 1960an, gres pada tahun 2005 FBI dipanggil untuk menyelidiki kasus ini lantaran kecurigaan adanya pembunuh berantai yang bergentayangan di Alaska. Departemen analisa sikap FBI dari Quantico oke untuk memprofile setiap kasus dengan tujuan untuk menemukan mata rantai yang menghubungkannya.
Setelah melaksanakan penyelidikan intensif terhadap 24 kasus yang diserahkan oleh kepolisian setempat, FBI menemukan hanya 9 orang yang benar-benar menghilang tanpa jejak. Sisanya tewas oleh lantaran yang tidak terlalu jelas. Namun FBI berkesimpulan bahwa tewasnya sejumlah orang ini sangat erat kaitannya dengan konsumsi alkohol dan cuaca ekspresi dominan hambar yang sangat tidak bersahabat. Nome memang populer dengan kafe dan minuman kerasnya.
Mungkin sebagian dari kalian tidak percaya dengan kesimpulan FBI, tapi apapun kesimpulan mereka, tidak pernah sekalipun dalam kasus ini pernah muncul teori mengenai alien, baik dari FBI, kepolisian, penduduk ataupun keluarga korban.
Namun, bagi Olatunde Osunsanmi, kasus orang yang hilang ini dieksploitasi dengan menyebutnya sebagai kasus penculikan alien.
Kawerak Inc, sebuah organisasi nirlaba di Alaska yang turut mendorong pihak berwajib menyelidiki kasus ini lebih serius bahkan menganggap film Fourth Kind sebagai film yang mengada-ada.
"Film itu terlihat menggelikan," Kata presiden Kawerak Inc, Melanie Edwards. "Film ini tidak sensitif terhadap anggota keluarga dari orang-orang yang menghilang di Nome."
Walikota Nome, Denise Michels, memperlihatkan komentar senada,"Film horor yang berusaha menyampaikan bahwa penduduk-penduduk Nome yang hilang yakni akhir penculikan alien hanyalah sebuah fantasi Holywood."
"Orang-orang harus sadar bahwa film ini cuma sebuah thriller science fiction."
Michels juga menyampaikan bahwa akhir film ini, para penduduk Nome banyak mendapatkan telepon dari orang-orang yang menanyakan soal kebenaran kisah film ini, dan mereka cukup lelah menanggapinya.
Lalu, jikalau teori penculikan alien dianggap mengada-ada, bagaimana dengan Dr. Abigail Tyler ?
Apakah psikolog ini benar-benar ada ?
Dr. Abigail Tyler - Psikolog Misterius
Inipun sebuah teknik marketing yang lain. Sang sutradara mengaku bahwa ia mendengar mengenai Dr. Abigail Tyler dan mendapatkan banyak informasi darinya mengenai insiden penculikan alien di Nome. Namun bergotong-royong tidak ada orang yang pernah mendengar mengenai Dr. Abigail Tyler, termasuk tubuh pemberi lisensi psikolog negara bab dan presiden Asosiasi Psikolog Negara Bagian.
Satu-satunya sumber website yang bekerjasama dengan psikologi yang menyebutkan nama Dr.Abigail Tyler yakni alaskapsychiatryhournal.org. Dalam halaman web itu kita sanggup menemukan nama dan biografi singkat Dr. Abigail Tyler.
Jika memang namanya ada di halaman web itu, mengapa namanya tidak dikenal sama sekali di kalangan psikolog ?
Jawabannya yakni : alaskapsychiatryhournal.org adalah bab dari taktik pemasaran film tersebut.
Domain tersebut ternyata didaftarkan pada Agustus 2009, hanya 3 bulan sebelum peluncuran film tersebut. Setelah film tersebut beredar luas, web tersebut ternyata sudah tidak sanggup diakses.
Terlalu kebetulan !
Tentu saja, web ini merupakan bab dari taktik viral marketing yang dilancarkan pembuat film Fourth Kind.
Selain web itu, beberapa orang yang mencoba mencari keberadaan Dr Tyler selalu menemui jalan buntu dan tampaknya satu-satunya orang yang mengkonfirmasi keberadaan Dr.Tyler hanya sang sutradara film, Olatunde Osunsami.
Jika Dr. Abigail Tyler benar-benar ada, dimanakah beliau berada kini ?
Catatan tambahanTulisan ini saya ambil dari beberapa media asing yang pernah menulis mengenai kisah Nome yang sesungguhnya. Link-linknya, sanggup kalian lihat dengan mengklik sumber-sumber di bawah tulisan. Kesimpulannya, tentu saja, film ini hanyalah sebuah film science fiction, bukan dokumenter atau semi dokumenter.
Karena goresan pena ini berfokus pada film Fourth Kind, maka saya tidak bercerita panjang lebar soal misteri lenyapnya penduduk Nome. Lagipula, informasi mengenai insiden Nome sangat sedikit sehingga saya tidak sanggup membuatnya menjadi goresan pena yang informatif. Kaprikornus kalian harus puas dengan pembahasan ini.
(cnn.com, adn.com)
Komentar Pilihan
Chris said...
Sudah banyak yg comment ya...
Berbicara ttg alien memang tidak pernah ada matinya. Kecenderungan insan utk menyukai misteri, membuat fantasi 'liar'nya diperlukan sebagai kenyataan. Tapi 'biasanya' insan berharap semoga 'fantasi liar'nya itu tetap ada celah utk exist, walaupun fakta bertubi2 mengantamnya...
Saya rasa sang sutradara 4th kind ini memang Brilliant. Setuju dgn Mr.Enigma. Sang sutradara hampir berhasil memanipulasi opini penonton dgn teknik dokumenternya.Tapi pengerjaannya agak 'terburu-buru' saya rasa. Ada beberapa alasan yang mengungkapkan kelemahannya:
1. Media propagandanya, alaskapsychiatristjournal.com, berusia terlalu muda jikalau dihitung dari peluncuran film. Yaitu spt yg Mr.Enigma bilang. Informasi menyerupai ini hanya sanggup diperoleh melalui perjuangan EXTRA. Seharusnya, jurnal propaganda itu diluncurkan bertahun-tahun sebelum peluncuran 4th kind. Biar terkesan lbh meyakinkan.
2. Penonton seolah 'disihir' bahwa film itu memuat rekaman dokumentasi Dr. Abigail Tyler yg orisinil yg digambarkan sbg seorang perempuan berwajah pucat, bermata cekung dan terkesan depresi. Penonton akan merasa demikian, lantaran di awal film, muncul Milla Jovovich yg menyampaikan dirinya berperan sbg Dr. Abigail Tyler dan menambahkan beberapa 'info' suplemen spt rentang waktu insiden antara tgl 1 - 9 oktober 2000, tempatnya di Nome, Alaska. Dan yg paling mengesankan, KLAIM yg dikatakan oleh Milla bahwa dlm film 4th Kind ditambahkan rekaman dokumentasi film Dr. Abigail Tyler yg orisinil dari sesi hypnotherapy olehnya. Milla juga menyampaikan bahwa film ini dibentuk menurut arsip aktual material video, audio dan interview Dr. Abigail Tyler dgn sang Sutradara. Milla juga menyampaikan nama2 tokoh dlm film ini sudah diubah dgn alasan derma privasi. Ditambahkan pula bahwa beberapa cuplikan dlm film ini diklaim sbg 'extremely disturbing'.
Kemudian dgn sentuhan gaya dokumenter, yg pd ketika tertentu mengalihkan cuplikan film ke rekaman dokumenter kemudian balik lg ke cuplikan film atau ditayangkan secara bersamaan, dan sensor terhadap penyebutan nama orang2 yg terlibat, merupakan teknik yg cukup efektif. Semua hal itu sudah cukup utk membangun opini umum pd penonton bahwa film ini menurut yakni benar dan mengungkapkan kejadiannya sebenarnya, alias non-fiksi.
Nah, kini apakah psychiatrist Dr. Abigail Tyler benar2 ada?
Jika beliau nyata, seharusnya namanya terdaftar di organisasi keprofesiannya, spt yg dijelaskan Mr.Enigma.
Tapi, jikalau ditanya: ''Apakah film The Fourth Kind yakni true story?''.
Maaf, saya harus menjawabnya 'TIDAK'.
Karena apapun yang disodorkan dalam film ini sbg bukti/fakta dari rekaman video , audio dan interview dgn 'Dr. Abigail Tyler' akan SIA-SIA lantaran yang diwawancarai oleh sutradara film ini pada awal film (Olatunnde Osunsanmi) yakni BUKAN Dr. Abigail Tyler, tapi yakni seorang aktris Inggris berjulukan CHARLOTTE MILCHARD (Google it!) . Jadi, wawancara yang ditayangkan pd awal film antara sang sutradara dgn Dr. Abigail Tyler yakni PALSU. Wawancara yakni rekayasa.
Sehingga klaim film ini menurut material dokumentasi jadi KEHILANGAN VALIDITASnya dan memang tak salah ini merupakan FILM PEMBOHONGAN, lantaran memaksakan fiksi menjadi seolah2 aktual untuk MERAUP KEUNTUNGAN. Tapi, apapun yg terjadi dgn film ini, tampaknya tidak sanggup mengubur teori Alien Abduction utk selamanya. Karena misteri yang lain tentangnya is still out there.
Selalu ada kawasan buat spekulasi..selalu ada kemungkinan2...SELALU ADA SISI YANG LAIN... ^_^
February 26, 2010 9:05 AM
Pada awal-awal film ini, penonton disuguhi dengan pemandangan berupa gunung dengan pohon-pohon yang indah. Namun, bergotong-royong Nome tidak mempunyai pemandangan menyerupai itu. Wajar, lantaran film ini bergotong-royong diambil di Bulgaria.
Lalu, dimulailah kisah film ini yang belakangan menceritakan bahwa sekelompok orang yang hilang secara misterius tersebut bergotong-royong diculik oleh para alien.
Namun sebelum melihat kasus ini lebih jauh, saya akan bercerita sedikit mengenai judul film ini.
Close Encounter
Kata "Fourth Kind" mungkin sedikit asing bagi beberapa dari kalian. Istilah ini bergotong-royong merupakan sebuah terminologi dalam dunia ufo.
Dalam bukunya yang berjudul "The UFO experience : A scientific Inquiry" yang terbit tahun 1972, seorang peneliti UFO bernama J. Allen Hynek pertama kali mulai mengemukakan istilah Close Encounter of the First Kind hingga Third Kind. Lalu Fourth kind dan seterusnya ditambahkan oleh peneliti lainnya.
Untuk sekedar menambah pengetahuan, saya akan jelaskan secara singkat mengenai istilah-istilah ini :
Close Encounter of the First kind yakni pengalaman penampakan satu atau lebih objek terbang tidak dikenal yang sanggup berupa piring terbang atau cahaya-cahaya aneh.
Close Encounter of the Second Kind yakni pengalaman dengan UFO yang disertai dengan imbas fisik menyerupai panas, radiasi, kerusakan pada daratan, imbas pada manusia, binatang yang ketakutan, sinyal yang terganggu atau waktu yang hilang (Lost Time).
Close Encounter of the Third Kind yakni perjumpaan dengan makhluk alien. Hynek tidak mendefinisikan makhluk ini dengan terang atau menyebut asal-usulnya. Ia hanya mengatakannya sebagai "animate beings". Istilah ini juga pernah dipakai oleh Stephen Spielberg untuk salah satu judul filmnya.
Sedangkan istilah Close Encounter of the Fourth Kind merujuk kepada insiden penculikan oleh alien.
UFO yang membawa dampak berupa luka atau kematian.
Sedangkan Seventh Kind merujuk kepada hibridisasi alien dengan manusia, sebuah konsep yang diterima luas oleh para penganut teori UFO masa purba.
Memisahkan Fiksi dengan Realita
Jadi, dari judulnya saja, film ini sudah mengindikasikan mengenai penculikan oleh alien. Namun, pertanyaannya apakah film ini benar-benar menurut pada insiden aktual ?
Jawaban untuk pertanyaan ini yakni : Ya !
Memang, di Nome, Alaska, selama kurun waktu 40 tahun, puluhan orang yang kebanyakan yakni suku orisinil lokal menghilang atau tewas tanpa lantaran yang jelas. Dalam hitungan statistik, Nome memang termasuk desa dengan persentase kehilangan orang terbesar di Amerika.
Tapi, benarkah para alien menculik para penduduk Nome yang hilang tersebut ?
Jawabannya yakni : Tidak ! Paling tidak itulah tanggapan dari FBI dan para penduduk lokal Nome.
Teknik Penyutradaraan dan Marketing
Film ini bergotong-royong hanyalah sebuah interpretasi liar dari seorang pembuat film, sama menyerupai interpretasi Stephen Spielberg yang percaya bahwa Crystal Skull yakni tengkorak alien di film Indiana Jones and the kingdom of Crystal Skull.
Yang membuat para penonton terkecoh yakni keahlian sang sutradara membuat narasi dan metode pengambilan gambar yang membuat atmosfer semi dokumenter pada film ini. Metode ini bukan hal yang gres lantaran sebelumnya film "Blair Witch Project" dan "Paranormal Activity" juga memakai metode yang serupa.
Selain metode pengambilan gambar yang cerdas, hal lain yang membuat banyak orang terkecoh yakni metode marketing yang dilancarkan untuk mempromosikan film ini.
Dalam facts sheet yang diberikan oleh Universal Studio mengenai film ini, disebutkan bahwa Olatunde Osunsami pertama kali terinspirasi untuk membuat film ini sesudah mendengar mengenai Dr. Abigail Tyler dari seorang temannya.
Lalu, dalam Facts sheet itu juga disebutkan bahwa :
"Pada ekspresi dominan gugur tahun 2000, pasien sang terapis (Dr. Abigail Tyler), di bawah efek hipnotis, memperlihatkan sikap yang memperlihatkan adanya perjumpaan dengan makhluk yang bukan manusia."
Disebutkan juga bahwa sementara sang psikolog menyelidiki fenomena ini, ia menemukan adanya sejarah kasus orang hilang di wilayah itu yang dimulai semenjak tahun 1960an. Semakin ia menggali lebih dalam, semakin ia percaya bahwa cerita-cerita yang disampaikan pasiennya bukanlah False Memory, melainkan sebuah bukti komprehensif yang mengkonfirmasi adanya insiden penculikan oleh alien.

Lalu, di bab lain statement itu juga menyampaikan bahwa sebagian adegan yang ditampilkan di film itu yakni adegan-adegan aktual yang diciptakan ulang.
Untuk menambah berpengaruh efek pencitraan itu, pada awal film, Milla Jovovich tampil dengan menyampaikan bahwa ia memerankan Dr. Abigail Tyler dan adegan yang akan disaksikan sangat mengganggu.
Kombinasi dari semua teknik ini karenanya membuat kepercayaan bahwa insiden yang diceritakan dalam film ini sungguh-sungguh nyata.
Apa yang bergotong-royong terjadi di Nome ?
Nome, yakni sebuah desa kecil di Alaska yang berpenduduk hanya sekitar 4.000 jiwa. Dalam rentang waktu sekitar 40 tahun, puluhan penduduk desa itu menghilang atau tewas lantaran karena yang tidak sanggup dijelaskan, kebanyakan yakni para penduduk orisinil Alaska.
Walaupun telah terjadi semenjak tahun 1960an, gres pada tahun 2005 FBI dipanggil untuk menyelidiki kasus ini lantaran kecurigaan adanya pembunuh berantai yang bergentayangan di Alaska. Departemen analisa sikap FBI dari Quantico oke untuk memprofile setiap kasus dengan tujuan untuk menemukan mata rantai yang menghubungkannya.
Setelah melaksanakan penyelidikan intensif terhadap 24 kasus yang diserahkan oleh kepolisian setempat, FBI menemukan hanya 9 orang yang benar-benar menghilang tanpa jejak. Sisanya tewas oleh lantaran yang tidak terlalu jelas. Namun FBI berkesimpulan bahwa tewasnya sejumlah orang ini sangat erat kaitannya dengan konsumsi alkohol dan cuaca ekspresi dominan hambar yang sangat tidak bersahabat. Nome memang populer dengan kafe dan minuman kerasnya.
Mungkin sebagian dari kalian tidak percaya dengan kesimpulan FBI, tapi apapun kesimpulan mereka, tidak pernah sekalipun dalam kasus ini pernah muncul teori mengenai alien, baik dari FBI, kepolisian, penduduk ataupun keluarga korban.
Namun, bagi Olatunde Osunsanmi, kasus orang yang hilang ini dieksploitasi dengan menyebutnya sebagai kasus penculikan alien.
Kawerak Inc, sebuah organisasi nirlaba di Alaska yang turut mendorong pihak berwajib menyelidiki kasus ini lebih serius bahkan menganggap film Fourth Kind sebagai film yang mengada-ada.
"Film itu terlihat menggelikan," Kata presiden Kawerak Inc, Melanie Edwards. "Film ini tidak sensitif terhadap anggota keluarga dari orang-orang yang menghilang di Nome."
Walikota Nome, Denise Michels, memperlihatkan komentar senada,"Film horor yang berusaha menyampaikan bahwa penduduk-penduduk Nome yang hilang yakni akhir penculikan alien hanyalah sebuah fantasi Holywood."
"Orang-orang harus sadar bahwa film ini cuma sebuah thriller science fiction."
Michels juga menyampaikan bahwa akhir film ini, para penduduk Nome banyak mendapatkan telepon dari orang-orang yang menanyakan soal kebenaran kisah film ini, dan mereka cukup lelah menanggapinya.
Lalu, jikalau teori penculikan alien dianggap mengada-ada, bagaimana dengan Dr. Abigail Tyler ?
Apakah psikolog ini benar-benar ada ?
Dr. Abigail Tyler - Psikolog Misterius
Inipun sebuah teknik marketing yang lain. Sang sutradara mengaku bahwa ia mendengar mengenai Dr. Abigail Tyler dan mendapatkan banyak informasi darinya mengenai insiden penculikan alien di Nome. Namun bergotong-royong tidak ada orang yang pernah mendengar mengenai Dr. Abigail Tyler, termasuk tubuh pemberi lisensi psikolog negara bab dan presiden Asosiasi Psikolog Negara Bagian.
Satu-satunya sumber website yang bekerjasama dengan psikologi yang menyebutkan nama Dr.Abigail Tyler yakni alaskapsychiatryhournal.org. Dalam halaman web itu kita sanggup menemukan nama dan biografi singkat Dr. Abigail Tyler.
Jika memang namanya ada di halaman web itu, mengapa namanya tidak dikenal sama sekali di kalangan psikolog ?
Jawabannya yakni : alaskapsychiatryhournal.org adalah bab dari taktik pemasaran film tersebut.
Domain tersebut ternyata didaftarkan pada Agustus 2009, hanya 3 bulan sebelum peluncuran film tersebut. Setelah film tersebut beredar luas, web tersebut ternyata sudah tidak sanggup diakses.
Terlalu kebetulan !
Tentu saja, web ini merupakan bab dari taktik viral marketing yang dilancarkan pembuat film Fourth Kind.
Selain web itu, beberapa orang yang mencoba mencari keberadaan Dr Tyler selalu menemui jalan buntu dan tampaknya satu-satunya orang yang mengkonfirmasi keberadaan Dr.Tyler hanya sang sutradara film, Olatunde Osunsami.
Jika Dr. Abigail Tyler benar-benar ada, dimanakah beliau berada kini ?
Catatan tambahanTulisan ini saya ambil dari beberapa media asing yang pernah menulis mengenai kisah Nome yang sesungguhnya. Link-linknya, sanggup kalian lihat dengan mengklik sumber-sumber di bawah tulisan. Kesimpulannya, tentu saja, film ini hanyalah sebuah film science fiction, bukan dokumenter atau semi dokumenter.
Karena goresan pena ini berfokus pada film Fourth Kind, maka saya tidak bercerita panjang lebar soal misteri lenyapnya penduduk Nome. Lagipula, informasi mengenai insiden Nome sangat sedikit sehingga saya tidak sanggup membuatnya menjadi goresan pena yang informatif. Kaprikornus kalian harus puas dengan pembahasan ini.
(cnn.com, adn.com)
Komentar Pilihan
Chris said...
Sudah banyak yg comment ya...
Berbicara ttg alien memang tidak pernah ada matinya. Kecenderungan insan utk menyukai misteri, membuat fantasi 'liar'nya diperlukan sebagai kenyataan. Tapi 'biasanya' insan berharap semoga 'fantasi liar'nya itu tetap ada celah utk exist, walaupun fakta bertubi2 mengantamnya...
Saya rasa sang sutradara 4th kind ini memang Brilliant. Setuju dgn Mr.Enigma. Sang sutradara hampir berhasil memanipulasi opini penonton dgn teknik dokumenternya.Tapi pengerjaannya agak 'terburu-buru' saya rasa. Ada beberapa alasan yang mengungkapkan kelemahannya:
1. Media propagandanya, alaskapsychiatristjournal.com, berusia terlalu muda jikalau dihitung dari peluncuran film. Yaitu spt yg Mr.Enigma bilang. Informasi menyerupai ini hanya sanggup diperoleh melalui perjuangan EXTRA. Seharusnya, jurnal propaganda itu diluncurkan bertahun-tahun sebelum peluncuran 4th kind. Biar terkesan lbh meyakinkan.
2. Penonton seolah 'disihir' bahwa film itu memuat rekaman dokumentasi Dr. Abigail Tyler yg orisinil yg digambarkan sbg seorang perempuan berwajah pucat, bermata cekung dan terkesan depresi. Penonton akan merasa demikian, lantaran di awal film, muncul Milla Jovovich yg menyampaikan dirinya berperan sbg Dr. Abigail Tyler dan menambahkan beberapa 'info' suplemen spt rentang waktu insiden antara tgl 1 - 9 oktober 2000, tempatnya di Nome, Alaska. Dan yg paling mengesankan, KLAIM yg dikatakan oleh Milla bahwa dlm film 4th Kind ditambahkan rekaman dokumentasi film Dr. Abigail Tyler yg orisinil dari sesi hypnotherapy olehnya. Milla juga menyampaikan bahwa film ini dibentuk menurut arsip aktual material video, audio dan interview Dr. Abigail Tyler dgn sang Sutradara. Milla juga menyampaikan nama2 tokoh dlm film ini sudah diubah dgn alasan derma privasi. Ditambahkan pula bahwa beberapa cuplikan dlm film ini diklaim sbg 'extremely disturbing'.
Kemudian dgn sentuhan gaya dokumenter, yg pd ketika tertentu mengalihkan cuplikan film ke rekaman dokumenter kemudian balik lg ke cuplikan film atau ditayangkan secara bersamaan, dan sensor terhadap penyebutan nama orang2 yg terlibat, merupakan teknik yg cukup efektif. Semua hal itu sudah cukup utk membangun opini umum pd penonton bahwa film ini menurut yakni benar dan mengungkapkan kejadiannya sebenarnya, alias non-fiksi.
Nah, kini apakah psychiatrist Dr. Abigail Tyler benar2 ada?
Jika beliau nyata, seharusnya namanya terdaftar di organisasi keprofesiannya, spt yg dijelaskan Mr.Enigma.
Tapi, jikalau ditanya: ''Apakah film The Fourth Kind yakni true story?''.
Maaf, saya harus menjawabnya 'TIDAK'.
Karena apapun yang disodorkan dalam film ini sbg bukti/fakta dari rekaman video , audio dan interview dgn 'Dr. Abigail Tyler' akan SIA-SIA lantaran yang diwawancarai oleh sutradara film ini pada awal film (Olatunnde Osunsanmi) yakni BUKAN Dr. Abigail Tyler, tapi yakni seorang aktris Inggris berjulukan CHARLOTTE MILCHARD (Google it!) . Jadi, wawancara yang ditayangkan pd awal film antara sang sutradara dgn Dr. Abigail Tyler yakni PALSU. Wawancara yakni rekayasa.
Sehingga klaim film ini menurut material dokumentasi jadi KEHILANGAN VALIDITASnya dan memang tak salah ini merupakan FILM PEMBOHONGAN, lantaran memaksakan fiksi menjadi seolah2 aktual untuk MERAUP KEUNTUNGAN. Tapi, apapun yg terjadi dgn film ini, tampaknya tidak sanggup mengubur teori Alien Abduction utk selamanya. Karena misteri yang lain tentangnya is still out there.
Selalu ada kawasan buat spekulasi..selalu ada kemungkinan2...SELALU ADA SISI YANG LAIN... ^_^
February 26, 2010 9:05 AM
