Misteri Easter Island Dan Moai
Sunday, June 28, 2009
Edit
Pada hari paskah tahun 1722, penjelajah Belanda mendarat di Easter Island atau pulau Paskah. Sebuah peradaban yang terisolasi oleh samudera Pasifik seluas 4.000 km akan segera bertemu dengan kebudayaan luar untuk pertama kalinya. Namun para penjelajah Belanda yang tiba di kawasan itu menemukan sesuatu yang aneh, sebuah pulau yang dihiasi oleh ratusan patung-patung batu raksasa dan sebuah kebudayaan yang ternyata tidak se-primitif yang mereka kira. Dari mana asal para penduduk tersebut ? Mengapa dan bagaimana caranya mereka menciptakan patung-patung watu raksasa itu ? Ilmu pengetahuan modern masih berusaha menyusun kepingan-kepingan puzzle itu.
Sejarah
Pulau paskah ketika ini terletak di teritori negara Chili, tepatnya di sebelah selatan samudera Pasifik. Perjumpaan pertama antara penduduk pulau paskah atau Rapa Nui, begitu penduduk lokal menyebutnya, dengan penjelajah Belanda yaitu sebuah kejutan budaya yang luar biasa. Beberapa pelaut membunuh 10 penduduk orisinil hanya dalam tempo beberapa menit sesudah mereka mendarat. Belum lagi musibah yang menyusul. Populasi pulau itu menyusut dari 12.000 orang sampai 111 orang hanya dalam beberapa abad. Hingga kini, para penduduk yang mendiami pulau paskah diketahui mempunyai garis keturunan Chili - yang justru menjadikan teka-teki baru. Tidak ada yang sanggup dimintai keterangan mengenai asal mula penduduk pulau tersebut. Hanya ilmu pengetahuanlah satu-satunya impian untuk membongkar misteri jatuh bangunnya peradaban misterius ini.
tengkorak yang digali dari pulau itu menawarkan bahwa DNA itu mengandung sebuah "sidik jari" yang disebut "Motif Polynesia". Hal ini mengindikasikan bahwa penduduk orisinil pulau paskah yaitu orang polynesia. Para pelaut polynesia berlayar dari barat ke timur, sebuah perjalanan yang menandai permulaan petualangan kaum polynesia. Teori Thor Hayerdahl terbantahkan.
Penelitian lain terhadap artefak pulau paskah dengan memakai metode karbon menawarkan bahwa para pelaut polynesia itu tiba di pulau paskah sekitar tahun 700 Masehi. Dan bukti-bukti menawarkan bahwa 1.000 tahun kemudian, para polynesian masih hidup terisolasi di pulau berukuran 22 X 11 Km itu.
Para penduduk pulau paskah hidup dari menangkap ikan dan bercocok tanam. Pada awalnya diperkirakan penduduknya berjumlah 12.000 orang. Keberhasilan membangun kebudayaan di kawasan itu dimanifestasikan dengan sebuah karya monumental, sebuah karya yang masih menjadi misteri sampai ketika ini, yaitu patung moai.
Bagaimana mereka menciptakan patung itu ?
Moai telah menjadikan rasa ingin tahu semenjak penemuannya pertama kali pada tahun 1722. Tidak ada satupun patung itu yang berdiri ketika para ilmuwan tiba di kawasan itu. Patung-patung yang berdiri ketika ini yaitu hasil perbaikan dan penyusunan yang dilakukan oleh para ilmuwan. Pertanyaannya adalah, bagaimana caranya sebuah lingkungan masyarakat jaman watu membuat, mengukir dan memindahkan patung-patung itu ke tempatnya ? dan untuk apa ?
Saat ini kita sanggup menemukan 900 moai di seluruh pulau paskah dengan tahapan konstruksi yang berbeda-beda. Beberapa patung mempunyai berat sampai 80 ton masing-masing, dua kali lipat dari sebongkah watu Stonehenge di Inggris. Dan luar biasanya, kawasan berdirinya patung itu berjarak sekitar 16 km dari kawasan asal watu itu diambil. Bagaimana mereka memindahkan batu seberat itu dan sejauh itu ? Pertanyaan ini belum terjawab sampai ketika ini.
tengkorak-tengkorak yang ditemukan terkubur di pulau itu. Sepertinya para penduduk saling membunuh. Kejadian ini terjadi pada ketika yang bersamaan dengan berkurangnya populasi burung dan binatang yang biasa dimakan.
Sebuah tabrakan kayu kuno menawarkan adanya tabrakan orang-orang kurus kering diatasnya, merujuk kepada insiden kelaparan. Peristiwa kelaparan ini mungkin telah membawa penduduk pulau paskah saling memakan temannya. Populasi penduduk pulau itu telah melebihi pertumbuhan sumber-sumber alamnya.
Bukti lain yang mendukung yaitu sebuah studi yang dilakukan oleh John Flenley. Ia menemukan bukti bahwa pada suatu masa, pulau itu dipenuhi oleh pohon palem. Namun penjelajah Belanda yang tiba di pulau itu pada tahun 1722 menyampaikan bahwa pulau itu hanya sedikit sekali mempunyai pohon. Sekali lagi, insiden lenyapnya pohon-pohon ini dipercaya mendahului perang saudara diantara penduduk. Keterbatasan pohon mengakibatkan mereka tidak sanggup menciptakan kapal untuk menangkap ikan. Karena itu kelaparan melanda. Erosi tanah menghantam pulau beberapa kali dan tidak ada kapal untuk melarikan diri. Flenley percaya bahwa pulau paskah yaitu pola kehancuran ekologis yang sistematis.
Pemulihan sumber daya
Apabila terjadi kelaparan dan kehancuran masyarakat, mengapa penjelajah Belanda yang mendarat tahun 1722 menyampaikan bahwa mereka menemukan penduduk yang sehat dan ladang gandum yang subur ? Jawabannya terletak pada sebuah kawasan di pulau itu yang berjulukan Orongo, sebuah tebing yang terletak diantara sebuah gunung berapi dan pulau kecil di laut. Disana ditemukan tabrakan kayu kuno yang menawarkan adanya "birdman" atau "manusia burung".
Catatan sejarah menawarkan adanya sebuah kontes antar suku di pulau itu. Masing-masing suku mengutus satu orang untuk saling berlomba berenang sekitar 1 mil ke arah bahari dan lalu memanjat sebuah tebing disitu untuk mengambil sebuah sarang burung. Suku mana yang menang, maka kepala sukunya akan menjadi pemimpin pulau selama satu tahun dan ia punya hak untuk mengalokasikan sumber masakan yang terbatas. Di dalam masa yang penuh kekerasan dan keterbelakangan, demokrasi ditegakkan sampai kemakmuran kembali menghampiri pulau itu. Ya, mereka berhasil mengatasi tantangan alam dengan "birdman", Namun pulau itu tidak siap menghadapi tragedi terbesar mereka yang akan segera datang.
that2cold)
(wikipedia)
Sejarah
Pulau paskah ketika ini terletak di teritori negara Chili, tepatnya di sebelah selatan samudera Pasifik. Perjumpaan pertama antara penduduk pulau paskah atau Rapa Nui, begitu penduduk lokal menyebutnya, dengan penjelajah Belanda yaitu sebuah kejutan budaya yang luar biasa. Beberapa pelaut membunuh 10 penduduk orisinil hanya dalam tempo beberapa menit sesudah mereka mendarat. Belum lagi musibah yang menyusul. Populasi pulau itu menyusut dari 12.000 orang sampai 111 orang hanya dalam beberapa abad. Hingga kini, para penduduk yang mendiami pulau paskah diketahui mempunyai garis keturunan Chili - yang justru menjadikan teka-teki baru. Tidak ada yang sanggup dimintai keterangan mengenai asal mula penduduk pulau tersebut. Hanya ilmu pengetahuanlah satu-satunya impian untuk membongkar misteri jatuh bangunnya peradaban misterius ini.
tengkorak yang digali dari pulau itu menawarkan bahwa DNA itu mengandung sebuah "sidik jari" yang disebut "Motif Polynesia". Hal ini mengindikasikan bahwa penduduk orisinil pulau paskah yaitu orang polynesia. Para pelaut polynesia berlayar dari barat ke timur, sebuah perjalanan yang menandai permulaan petualangan kaum polynesia. Teori Thor Hayerdahl terbantahkan.
Penelitian lain terhadap artefak pulau paskah dengan memakai metode karbon menawarkan bahwa para pelaut polynesia itu tiba di pulau paskah sekitar tahun 700 Masehi. Dan bukti-bukti menawarkan bahwa 1.000 tahun kemudian, para polynesian masih hidup terisolasi di pulau berukuran 22 X 11 Km itu.
Para penduduk pulau paskah hidup dari menangkap ikan dan bercocok tanam. Pada awalnya diperkirakan penduduknya berjumlah 12.000 orang. Keberhasilan membangun kebudayaan di kawasan itu dimanifestasikan dengan sebuah karya monumental, sebuah karya yang masih menjadi misteri sampai ketika ini, yaitu patung moai.
Bagaimana mereka menciptakan patung itu ?
Moai telah menjadikan rasa ingin tahu semenjak penemuannya pertama kali pada tahun 1722. Tidak ada satupun patung itu yang berdiri ketika para ilmuwan tiba di kawasan itu. Patung-patung yang berdiri ketika ini yaitu hasil perbaikan dan penyusunan yang dilakukan oleh para ilmuwan. Pertanyaannya adalah, bagaimana caranya sebuah lingkungan masyarakat jaman watu membuat, mengukir dan memindahkan patung-patung itu ke tempatnya ? dan untuk apa ?
Saat ini kita sanggup menemukan 900 moai di seluruh pulau paskah dengan tahapan konstruksi yang berbeda-beda. Beberapa patung mempunyai berat sampai 80 ton masing-masing, dua kali lipat dari sebongkah watu Stonehenge di Inggris. Dan luar biasanya, kawasan berdirinya patung itu berjarak sekitar 16 km dari kawasan asal watu itu diambil. Bagaimana mereka memindahkan batu seberat itu dan sejauh itu ? Pertanyaan ini belum terjawab sampai ketika ini.
tengkorak-tengkorak yang ditemukan terkubur di pulau itu. Sepertinya para penduduk saling membunuh. Kejadian ini terjadi pada ketika yang bersamaan dengan berkurangnya populasi burung dan binatang yang biasa dimakan.
Sebuah tabrakan kayu kuno menawarkan adanya tabrakan orang-orang kurus kering diatasnya, merujuk kepada insiden kelaparan. Peristiwa kelaparan ini mungkin telah membawa penduduk pulau paskah saling memakan temannya. Populasi penduduk pulau itu telah melebihi pertumbuhan sumber-sumber alamnya.
Bukti lain yang mendukung yaitu sebuah studi yang dilakukan oleh John Flenley. Ia menemukan bukti bahwa pada suatu masa, pulau itu dipenuhi oleh pohon palem. Namun penjelajah Belanda yang tiba di pulau itu pada tahun 1722 menyampaikan bahwa pulau itu hanya sedikit sekali mempunyai pohon. Sekali lagi, insiden lenyapnya pohon-pohon ini dipercaya mendahului perang saudara diantara penduduk. Keterbatasan pohon mengakibatkan mereka tidak sanggup menciptakan kapal untuk menangkap ikan. Karena itu kelaparan melanda. Erosi tanah menghantam pulau beberapa kali dan tidak ada kapal untuk melarikan diri. Flenley percaya bahwa pulau paskah yaitu pola kehancuran ekologis yang sistematis.
Pemulihan sumber daya
Apabila terjadi kelaparan dan kehancuran masyarakat, mengapa penjelajah Belanda yang mendarat tahun 1722 menyampaikan bahwa mereka menemukan penduduk yang sehat dan ladang gandum yang subur ? Jawabannya terletak pada sebuah kawasan di pulau itu yang berjulukan Orongo, sebuah tebing yang terletak diantara sebuah gunung berapi dan pulau kecil di laut. Disana ditemukan tabrakan kayu kuno yang menawarkan adanya "birdman" atau "manusia burung".
Catatan sejarah menawarkan adanya sebuah kontes antar suku di pulau itu. Masing-masing suku mengutus satu orang untuk saling berlomba berenang sekitar 1 mil ke arah bahari dan lalu memanjat sebuah tebing disitu untuk mengambil sebuah sarang burung. Suku mana yang menang, maka kepala sukunya akan menjadi pemimpin pulau selama satu tahun dan ia punya hak untuk mengalokasikan sumber masakan yang terbatas. Di dalam masa yang penuh kekerasan dan keterbelakangan, demokrasi ditegakkan sampai kemakmuran kembali menghampiri pulau itu. Ya, mereka berhasil mengatasi tantangan alam dengan "birdman", Namun pulau itu tidak siap menghadapi tragedi terbesar mereka yang akan segera datang.
that2cold)
(wikipedia)