Precognitive Dream - Fenomena Mimpi Yang Menjadi Kenyataan
Monday, February 1, 2010
Edit
Pernahkah kalian bermimpi pada suatu hari dan mimpi kalian menjadi kenyataan pada hari berikutnya ? Pernahkah kalian memimpikan terjadinya sebuah bencana dan bencana tersebut benar-benar terjadi pada hari-hari berikutnya ? Fenomena inilah yang disebut precognitive dream, mimpi yang bermetamorfosis kenyataan.
Fenomena ini memang tidak akan bisa dipahami sepenuhnya dari segi sains. Karena itu, ketika menulis soal ini, kebanyakan sumber yang saya temukan yaitu situs new age atau paranormal. Jadi, jangan berharap goresan pena ini sanggup menjawab semua pertanyaan yang kalian miliki mengenai fenomena ini.
Saya akan mulai dari definisinya.
Precognitive Dream yaitu sebuah mimpi yang memperlihatkan kepada seseorang informasi mengenai apa yang akan terjadi di masa depan.
Dengan kata lain, mimpi ini mempunyai sifat meramalkan.
Precognitive Dream dan Manusia
Kebanyakan mimpi yang bersifat ramalan ini berkaitan dengan bencana, perang, pembunuhan, kecelakaan, bahkan kuda pacu yang akan keluar sebagai pemenang. Namun, kadang hanya bekerjasama dengan hal-hal kecil yang terjadi di lalu hari.
Oh ya, kalau saya berbicara mengenai precognitive dream, saya tidak sedang berbicara mengenai kemampuan khusus yang dimiliki oleh paranormal. Saya berbicara mengenai pengalaman yang dialami oleh sebagian besar insan di bumi ini, termasuk anda dan saya.
Pada konferensi Association for the Study of Dreams, Robert Waggoner, seorang psikolog dan peneliti mimpi, menyampaikan bahwa precognitive dream mengabaikan status, jabatan, budaya dan agama.
Karena itu, siapa saja di dunia ini, selama ia yaitu insan dan masih hidup niscaya bisa mengalaminya. Yang berbeda hanyalah intensitas pengalaman tersebut.
Sebuah studi yang dilakukan oleh universitas Baylor menemukan bahwa 52 persen masyarakat percaya dengan precognitive dream. Bahkan sebuah survei pernah menemukan adanya 66 persen responden yang mengalami precognitive dream yang akurat.
Dalam sejarah, Abaham Lincoln pernah bermimpi melihat tubuhnya terbaring di sebuah peti mati, dua ahad sebelum pembunuhannya. Lalu seorang insinyur dari Inggris berjulukan John Dunne pernah memimpikan mengenai letusan sebuah gunung api di Perancis yang lalu menjadi kenyataan.
Kategori Precognitive Dream
Menurut para peneliti yang sebagian besar yaitu psikolog, tidak semua mimpi yang menjadi kenyataan sanggup disebut sebagai precognitive. Untuk memenuhi syarat sebagai precognitive, maka mimpi yang menjadi kenyataan itu TIDAK BOLEH memenuhi empat unsur di bawah ini, yaitu :
Menjadi konkret lantaran probabilitas.
Contohnya, kita membaca isu bahwa 3 hari lagi akan diadakan demo besar-besaran. Lalu malamnya, kita bermimpi mengenai demo tersebut dan kita melihat terjadinya agresi lempar-lemparan kerikil antara pendemo dengan polisi.
3 Hari kemudian, memang ada demo besar-besaran dan terjadi agresi lempar-lemparan batu.
Mimpi kita menjadi kenyataan, namun tidak bisa disebut precognitive lantaran probabilitas terjadinya agresi anarki pada demo sangat tinggi.
Sang pemimpi sudah mengetahui mengenai kejadian tersebut.
Syarat ini mempunyai pola sama ibarat di atas. Kita telah mengetahui akan terjadi demo sebelumnya. Karena itu, ketika kita memimpikannya, kita tidak bisa menyebutnya sebagai precognitive.
Self fulfilling prophecy
Self Fulfilling prophecy (Ramalan yang dipenuhi sendiri) yaitu sebuah prediksi yang secara eksklusif ataupun tidak eksklusif menyebabkannya menjadi kenyataan.
Misalnya, ada sebuah ramalan palsu yang diberitakan. Namun ketika ia dideklarasikan sebagai ramalan sejati, maka deklarasi ini mungkin akan mensugesti orang-orang untuk membuatnya menjadi kenyataan.
Contoh paling sederhana yaitu rumor.
Misalnya, di masyarakat beredar sebuah rumor bahwa bank enigmus (misalnya) mengalami kesulitan likuiditas dan mungkin akan ditutup oleh pemerintah. Padahal kenyataannya bank enigmus sama sekali tidak mengalami kesulitan keuangan apapun. Rumor itu dihembuskan oleh para pesaingnya untuk menjatuhkan reputasi bank tersebut. Lalu para nasabah yang jumlahnya banyak menjadi khawatir dengan rumor tersebut dan segera berbondong-bondong ke bank untuk menarik simpanan mereka.
Tebak, apa yang terjadi selanjutnya ?
Bank enigmus yang baik-baik saja mengalami kolaps lantaran penarikan dana secara besar-besaran. Bank enigmus pun dilikuidasi (atau di bail out) oleh pemerintah. Dan nasabah pun akan berkata,"Ternyata rumor tersebut benar !"
Inilah self fulfilling prophecy.
Jadi, Jika kalian memimpikan sebuah kejadian dan turut serta dalam menjadikannya kenyataan, maka terang itu bukan precognitive.
Pengaruh telepati
Sigmund Freud, bapa psikoanalisa pernah mempelajari relasi antara mimpi dan pikiran bawah sadar. Ia pernah berkata "Adalah sebuah fakta yang tidak terbantahkan bahwa tidur merupakan kondisi yang sangat baik untuk telepati."
Percaya atau tidak, pernyataan ini terbukti dari banyak eksperimen. Salah satunya yaitu eksperimen yang dilakukan oleh psikiater Italia berjulukan GC Ermacora dimana Ia berhasil memperlihatkan pesan kepada seseorang yang sedang tertidur dan bermimpi.
Jadi, dengan kata lain, mimpi seseorang bisa dipengaruhi oleh telepati. Tentu saja, kalau mimpi yang dialami berasal dari imbas telepati, maka mimpi tersebut tidak bisa dikategorikan sebagai precognitive.
Precognitive Dream dan Tekanan Psikologi
"Para pemimpi yang mendapatkan mimpi precognitive sering menyampaikan bahwa mereka mencicipi perasaan yang berbeda ketika mendapatkan mimpi itu dibanding dengan mimpi biasa." Kata EW Kellog III.Ph.D.
Mereka juga akan menjadi sangat terganggu. Banyak juga yang melaporkan perasaan yang sangat konkret sehabis terbangun dan bahkan mereka benar-benar percaya bahwa mimpi itu akan segera terjadi.
Pemimpi yang lain menyampaikan bahwa ingatan akan mimpi itu biasanya menempel terus di dalam pikiran mereka selama bertahun-tahun. Karena itulah, banyak pemimpi precognitive yang depresi. Mereka ketakutan lantaran berpikir bahwa sebuah kecelakaan terjadi lantaran mereka memimpikannya atau memikirkannya.
Namun ketakutan ini tidak beralasan lantaran precognitive dream TIDAK mengakibatkan sesuatu terjadi. Precognitive dream HANYA mendapatkan informasi mengenai apa yang akan terjadi di lalu hari.
Siapa yang biasa mengalaminya ?
Hasil uji scan terhadap otak memperlihatkan bahwa manisfestasi precognition berasal dari belahan otak yang mengontrol emosi. Pada individu yang mempunyai emosi yang lebih terkendali, akurasi precognition juga menjadi lebih tinggi.
Studi terbaru juga memperlihatkan bahwa individu yang kreatif memperlihatkan akurasi yang lebih tinggi atas uji precognitive.
Lalu, pada artikel berjudul "Time : Exploring the Unexplained", penelitian memperlihatkan bahwa mereka yang secara aktif dan teratur mengikuti disiplin mental ibarat yoga dan meditasi juga mempunyai tingkat akurasi precognitive yang tinggi.
Dari hasil studi ini, kita bisa menyimpulkan bahwa pemimpi precognitive terang bukan orang gila atau orang aneh, melainkan orang yang mempunyai emosi yang terkendali dan kreatif.
Mendengar ini, mungkin kalian akan menjadi sedikit besar hati menjadi seorang precog dreamer.
Teori-teori precognitive
Precognitive dream yaitu sebuah fenomena yang belum bisa dijelaskan oleh sains secara sempurna. Walaupun begitu, ketertarikan akan subyek ini telah bermula semenjak masa Aristoteles. Pada masa yang lebih modern kini ini, beberapa teori sains lahir untuk menjelaskan, atau paling tidak, memperlihatkan sedikit citra mengenai fenomena ini. Ini diantara teori-teori tersebut yang saya anggap cukup menarik.
Teori Frekuensi
Sebelum terjadi gempa, hewan-hewan akan berlarian keluar. Para ilmuwan percaya bahwa pergeseran lempeng bumi telah membuat frekuensi yang sanggup ditangkap oleh otak hewan. Bumi, dalam kondisi normal mempunyai frekuensi sekitar 7,83 hertz. Seseorang (atau hewan) yang selaras dengan frekuensi tersebut sanggup mencicipi perubahan itu, lantaran itu mereka berlarian keluar.
Berdasarkan argumen ini, lahirlah teori frekuensi. Menurut teori ini, selama bermimpi, pikiran bawah sadar kita mulai terbebas dari belenggu pikiran sadar dan mulai sanggup mengontrol belahan otak yang mengatur intuisi dan emosi. Dan hasilnya yaitu "tune in" dengan frekuensi yang lain yang mengakibatkan terjadinya precognitive dream.
Masalahnya dengan teori ini adalah, apakah "waktu masa depan" mempunyai frekuensinya sendiri ?
Sains tidak bisa menjawab ini.
Law of Large Numbers
Teori ini diajukan oleh seorang skeptis berjulukan Robert Todd Carroll, penulis buku "The Skeptic's Dictionary'. Ia mengatakannya sebagai berikut :
Teori ini, sejalan dengan argumen lain yang menyebutkan bahwa keberhasilan precognitive dream gotong royong terjadi lantaran bias memori.
Bias Memori
Artinya, Memori kita hanya akan mengingat mimpi yang menjadi kenyataan dan melupakan mimpi yang tidak menjadi kenyataan.
Ketika sebuah kejadian terjadi, otomatis, sang pemimpi hanya mengingat mimpinya yang akurat dan ia akan berkata,"Aku sudah pernah memimpikannya !" Tapi ketika mimpi itu tidak menjadi kenyataan, ia akan segera melupakan mimpi tersebut.
Teori ini mungkin ada benarnya juga. Dalam salah satu eksperimen, subyek diminta untuk menulis mimpi mereka dalam sebuah buku catatan. Hal ini dilakukan untuk mencegah memori selektif bekerja. Setelah dibandingkan dengan kejadian nyata, mimpi yang tercatat tersebut tampaknya kehilangan akurasinya.
Kesimpulannya, kita bermimpi banyak. Banyak yang tidak akurat dan sebagian akurat. Semuanya hanyalah kebetulan semata.
Ya, saya tahu, kalian tidak puas dengan teori-teori ini. Tapi memang sains tidak bisa menjelaskan fenomena ini dengan sempurna. Mau apa lagi ?
Sekarang, sehabis sedikit mengasah otak dengan beberapa teori yang rumit, kita akan masuk ke dalam pertanyaan terpentingnya, yaitu : why me ?
Mengapa precognitive dream terjadi ?
Ini yaitu pertanyaan yang banyak ditanya oleh para pemimpi precognitive.
Sekali lagi, para peneliti tidak mempunyai tanggapan yang pasti. Mereka hanya mengatakan, Mungkin mimpi itu terjadi sebagai belahan dari prosedur pertahanan hidup manusia. Dengan suatu cara, mereka diingatkan akan ancaman yang akan datang. Banyak kesaksian yang menyebutkan adanya perubahan jadwal perjalanan tiba-tiba yang menyelamatkan seseorang dari bencana - Ingat film Final Destination.
Lalu, kalian mungkin akan berkata,"Ya, itu mimpi yang berkaitan dengan diri kita sendiri. Bagaimana dengan mimpi yang berkaitan dengan orang lain ? Bagaimana kalau saya memimpikan mengenai kecelakaan yang akan dialami oleh sahabat saya ?"
Saya tidak menemukan tanggapan pertanyaan ini dari para ilmuwan. Tapi kalau kalian bertanya kepada saya, maka saya akan menjawab :
"Tuhan ingin menggunakan kalian untuk memperingatkan mereka. Jadi, angkat teleponmu dan hubungi ia !"
Precognitive Dream - Last Words
Kita bukan sebuah robot yang terdiri dari mesin-mesin mekanis. Kita yaitu insan yang terdiri dari darah, daging dan roh. Karena itu, insan disebut juga makhluk spiritual.
Siapa yang bisa mengambil roh insan dan menelitinya di bawah mikroskop ?
Sebagai makhluk spiritual, yaitu hal yang masuk akal kalau kita mengalami beberapa pengalaman spiritual. Jika kita bisa memahami ini dan menerimanya apa adanya, maka mungkin kita bisa menjadi lebih damai dan bahagia.
Dalam kasus precognitive dream, saya lebih suka menganggapnya sebagai wilayah spiritual dibanding sains.
Just food for thought :)
(wikipedia, psychic-abilities.suite101.com)
Komentar Pilihan
Mr. Jonathan Archer memperlihatkan komentar di bawah ini di goresan pena saya sebelumnya mengenai deja vu. Mungkin ini cocok untuk menggambarkan pola mengenai Precognitive dream (atau bukan dream).
Jonathan Archer said...
Hai om enigma,mau share n tanya:
Dari kecil saya (kadang) bisa ngeliat gambaran/kejadian apa yg terjadi d masa depan ttng khidupan saya/org lain,kadang lewat mimpi,kadang skedar lewat aja/flashing gk jelas. And ketika terjadinya mimpi ke kenyataan sangat cepat,butuh waktu jam-an saja,gk harian...contoh2nya:
1.tragedi Wtc 11 sept,ada kluarga jauh yg mw nek psawat itu,gk tw sebabnya apa,tw2 saya telp mreka,suruh cancel penerbangan,aku sampe maki2 mreka semoga ngebatalin,akhirnya batal...5 org kluargaku selamat.
2.tsunami di aceh,aku lg tdur,berasa aneh,mimpi kabur gk jelas,latar belakang merah darah,org2 teriak,ksakitan,dll.pas bangun,badan lemes,kasur berair ama keringet,mata sembab,mimpi skitar 1 jam an,stelah baca berita,d waktu yg sama dgn mimpi,terjadi tsunami.
3.gempa jogja:lg telp2an ama pacar,tau2 kaya sejenis flashing memory gt,tiba2 ngomong ma pacar: yank,hari ini bakal ada gempa besar,hati2 ya...2 jam kmudian,jogja bergoya.
4.gempa padang kmarin2,mimpi tau2 kebangun dr tdur jam 1an,bingung,kosong,tau2 nelp pacar: hri ini sumatra bakal kena gempa besar,pacar cuma nenangin aja,cuma mimpi,tenang aja.tau2 sore/mlm hari dy telp,coba liat berita...padang gempa. Banyak lg contohnya,tp kpanjangan ntar.
Kadang bingung,mimpi apa yg akan kejadian,mana yg cuma mimpi,tapi ciri2nya,kuping kiri saya berdenging 5-10 menit,migrain tiba2...
Tolong yg om enigma,kira2 dgn crita saya,saya ngalami apa?saya pernah sampe k suatu masa d mana saya down bgt wacana anomali saya,n sempet mau bunuh diri,krna berpikir org2 yg jd korban itu meninggal krn mimpi saya...mu ke psikolog,kyanya sia2,crita2 ke temen,disangka orang gila.ya udah dah,saya share kesini aja...tambahan informasi,saya muslim,tp gk bgitu taat,gak punya ilmu macem2,n gk niat mw punya sesuatu yg lebih,saya cuma mu jd insan biasa tanpa beban mimpi2 n petunjuk2 kelas berat itu...please help!!
January 27, 2010 3:59 PM
Fenomena ini memang tidak akan bisa dipahami sepenuhnya dari segi sains. Karena itu, ketika menulis soal ini, kebanyakan sumber yang saya temukan yaitu situs new age atau paranormal. Jadi, jangan berharap goresan pena ini sanggup menjawab semua pertanyaan yang kalian miliki mengenai fenomena ini.
Saya akan mulai dari definisinya.
Precognitive Dream yaitu sebuah mimpi yang memperlihatkan kepada seseorang informasi mengenai apa yang akan terjadi di masa depan.
Dengan kata lain, mimpi ini mempunyai sifat meramalkan.
Precognitive Dream dan Manusia
Kebanyakan mimpi yang bersifat ramalan ini berkaitan dengan bencana, perang, pembunuhan, kecelakaan, bahkan kuda pacu yang akan keluar sebagai pemenang. Namun, kadang hanya bekerjasama dengan hal-hal kecil yang terjadi di lalu hari.
Oh ya, kalau saya berbicara mengenai precognitive dream, saya tidak sedang berbicara mengenai kemampuan khusus yang dimiliki oleh paranormal. Saya berbicara mengenai pengalaman yang dialami oleh sebagian besar insan di bumi ini, termasuk anda dan saya.
Pada konferensi Association for the Study of Dreams, Robert Waggoner, seorang psikolog dan peneliti mimpi, menyampaikan bahwa precognitive dream mengabaikan status, jabatan, budaya dan agama.
Karena itu, siapa saja di dunia ini, selama ia yaitu insan dan masih hidup niscaya bisa mengalaminya. Yang berbeda hanyalah intensitas pengalaman tersebut.
Sebuah studi yang dilakukan oleh universitas Baylor menemukan bahwa 52 persen masyarakat percaya dengan precognitive dream. Bahkan sebuah survei pernah menemukan adanya 66 persen responden yang mengalami precognitive dream yang akurat.
Dalam sejarah, Abaham Lincoln pernah bermimpi melihat tubuhnya terbaring di sebuah peti mati, dua ahad sebelum pembunuhannya. Lalu seorang insinyur dari Inggris berjulukan John Dunne pernah memimpikan mengenai letusan sebuah gunung api di Perancis yang lalu menjadi kenyataan.
Kategori Precognitive Dream
Menurut para peneliti yang sebagian besar yaitu psikolog, tidak semua mimpi yang menjadi kenyataan sanggup disebut sebagai precognitive. Untuk memenuhi syarat sebagai precognitive, maka mimpi yang menjadi kenyataan itu TIDAK BOLEH memenuhi empat unsur di bawah ini, yaitu :
- Menjadi konkret lantaran probabilitas
- Sang pemimpi sudah mengetahui kejadian tersebut akan terjadi.
- Self fulfilling prophecy
- Pengaruh Telepati
Menjadi konkret lantaran probabilitas.
Contohnya, kita membaca isu bahwa 3 hari lagi akan diadakan demo besar-besaran. Lalu malamnya, kita bermimpi mengenai demo tersebut dan kita melihat terjadinya agresi lempar-lemparan kerikil antara pendemo dengan polisi.
3 Hari kemudian, memang ada demo besar-besaran dan terjadi agresi lempar-lemparan batu.
Mimpi kita menjadi kenyataan, namun tidak bisa disebut precognitive lantaran probabilitas terjadinya agresi anarki pada demo sangat tinggi.
Sang pemimpi sudah mengetahui mengenai kejadian tersebut.
Syarat ini mempunyai pola sama ibarat di atas. Kita telah mengetahui akan terjadi demo sebelumnya. Karena itu, ketika kita memimpikannya, kita tidak bisa menyebutnya sebagai precognitive.
Self fulfilling prophecy
Self Fulfilling prophecy (Ramalan yang dipenuhi sendiri) yaitu sebuah prediksi yang secara eksklusif ataupun tidak eksklusif menyebabkannya menjadi kenyataan.
Misalnya, ada sebuah ramalan palsu yang diberitakan. Namun ketika ia dideklarasikan sebagai ramalan sejati, maka deklarasi ini mungkin akan mensugesti orang-orang untuk membuatnya menjadi kenyataan.
Contoh paling sederhana yaitu rumor.
Misalnya, di masyarakat beredar sebuah rumor bahwa bank enigmus (misalnya) mengalami kesulitan likuiditas dan mungkin akan ditutup oleh pemerintah. Padahal kenyataannya bank enigmus sama sekali tidak mengalami kesulitan keuangan apapun. Rumor itu dihembuskan oleh para pesaingnya untuk menjatuhkan reputasi bank tersebut. Lalu para nasabah yang jumlahnya banyak menjadi khawatir dengan rumor tersebut dan segera berbondong-bondong ke bank untuk menarik simpanan mereka.
Tebak, apa yang terjadi selanjutnya ?
Bank enigmus yang baik-baik saja mengalami kolaps lantaran penarikan dana secara besar-besaran. Bank enigmus pun dilikuidasi (atau di bail out) oleh pemerintah. Dan nasabah pun akan berkata,"Ternyata rumor tersebut benar !"
Inilah self fulfilling prophecy.
Jadi, Jika kalian memimpikan sebuah kejadian dan turut serta dalam menjadikannya kenyataan, maka terang itu bukan precognitive.
Pengaruh telepati
Sigmund Freud, bapa psikoanalisa pernah mempelajari relasi antara mimpi dan pikiran bawah sadar. Ia pernah berkata "Adalah sebuah fakta yang tidak terbantahkan bahwa tidur merupakan kondisi yang sangat baik untuk telepati."
Percaya atau tidak, pernyataan ini terbukti dari banyak eksperimen. Salah satunya yaitu eksperimen yang dilakukan oleh psikiater Italia berjulukan GC Ermacora dimana Ia berhasil memperlihatkan pesan kepada seseorang yang sedang tertidur dan bermimpi.
Jadi, dengan kata lain, mimpi seseorang bisa dipengaruhi oleh telepati. Tentu saja, kalau mimpi yang dialami berasal dari imbas telepati, maka mimpi tersebut tidak bisa dikategorikan sebagai precognitive.
Precognitive Dream dan Tekanan Psikologi
"Para pemimpi yang mendapatkan mimpi precognitive sering menyampaikan bahwa mereka mencicipi perasaan yang berbeda ketika mendapatkan mimpi itu dibanding dengan mimpi biasa." Kata EW Kellog III.Ph.D.
Mereka juga akan menjadi sangat terganggu. Banyak juga yang melaporkan perasaan yang sangat konkret sehabis terbangun dan bahkan mereka benar-benar percaya bahwa mimpi itu akan segera terjadi.
Pemimpi yang lain menyampaikan bahwa ingatan akan mimpi itu biasanya menempel terus di dalam pikiran mereka selama bertahun-tahun. Karena itulah, banyak pemimpi precognitive yang depresi. Mereka ketakutan lantaran berpikir bahwa sebuah kecelakaan terjadi lantaran mereka memimpikannya atau memikirkannya.
Namun ketakutan ini tidak beralasan lantaran precognitive dream TIDAK mengakibatkan sesuatu terjadi. Precognitive dream HANYA mendapatkan informasi mengenai apa yang akan terjadi di lalu hari.
Siapa yang biasa mengalaminya ?
Hasil uji scan terhadap otak memperlihatkan bahwa manisfestasi precognition berasal dari belahan otak yang mengontrol emosi. Pada individu yang mempunyai emosi yang lebih terkendali, akurasi precognition juga menjadi lebih tinggi.
Studi terbaru juga memperlihatkan bahwa individu yang kreatif memperlihatkan akurasi yang lebih tinggi atas uji precognitive.
Lalu, pada artikel berjudul "Time : Exploring the Unexplained", penelitian memperlihatkan bahwa mereka yang secara aktif dan teratur mengikuti disiplin mental ibarat yoga dan meditasi juga mempunyai tingkat akurasi precognitive yang tinggi.
Dari hasil studi ini, kita bisa menyimpulkan bahwa pemimpi precognitive terang bukan orang gila atau orang aneh, melainkan orang yang mempunyai emosi yang terkendali dan kreatif.
Mendengar ini, mungkin kalian akan menjadi sedikit besar hati menjadi seorang precog dreamer.
Teori-teori precognitive
Precognitive dream yaitu sebuah fenomena yang belum bisa dijelaskan oleh sains secara sempurna. Walaupun begitu, ketertarikan akan subyek ini telah bermula semenjak masa Aristoteles. Pada masa yang lebih modern kini ini, beberapa teori sains lahir untuk menjelaskan, atau paling tidak, memperlihatkan sedikit citra mengenai fenomena ini. Ini diantara teori-teori tersebut yang saya anggap cukup menarik.
Teori Frekuensi
Sebelum terjadi gempa, hewan-hewan akan berlarian keluar. Para ilmuwan percaya bahwa pergeseran lempeng bumi telah membuat frekuensi yang sanggup ditangkap oleh otak hewan. Bumi, dalam kondisi normal mempunyai frekuensi sekitar 7,83 hertz. Seseorang (atau hewan) yang selaras dengan frekuensi tersebut sanggup mencicipi perubahan itu, lantaran itu mereka berlarian keluar.
Berdasarkan argumen ini, lahirlah teori frekuensi. Menurut teori ini, selama bermimpi, pikiran bawah sadar kita mulai terbebas dari belenggu pikiran sadar dan mulai sanggup mengontrol belahan otak yang mengatur intuisi dan emosi. Dan hasilnya yaitu "tune in" dengan frekuensi yang lain yang mengakibatkan terjadinya precognitive dream.
Masalahnya dengan teori ini adalah, apakah "waktu masa depan" mempunyai frekuensinya sendiri ?
Sains tidak bisa menjawab ini.
Law of Large Numbers
Teori ini diajukan oleh seorang skeptis berjulukan Robert Todd Carroll, penulis buku "The Skeptic's Dictionary'. Ia mengatakannya sebagai berikut :
"Katakanlah, kemungkinannya yaitu satu juta banding satu ketika seorang individu memimpikan sebuah pesawat jatuh dan keesokan harinya sebuah pesawat benar-benar jatuh. Dengan adanya 6 milyar insan yang mempunyai sekitar 250 tema mimpi yang berbeda setiap malam, maka pastilah akan ada sekitar 1,5 juta insan dalam sehari yang mempunyai mimpi yang tampaknya bersifat meramalkan."Bagi Robert, precognitive dream hanyalah sebuah kebetulan atau sebuah probabilitas yang muncul lantaran aturan statistik.
Teori ini, sejalan dengan argumen lain yang menyebutkan bahwa keberhasilan precognitive dream gotong royong terjadi lantaran bias memori.
Bias Memori
Artinya, Memori kita hanya akan mengingat mimpi yang menjadi kenyataan dan melupakan mimpi yang tidak menjadi kenyataan.
Ketika sebuah kejadian terjadi, otomatis, sang pemimpi hanya mengingat mimpinya yang akurat dan ia akan berkata,"Aku sudah pernah memimpikannya !" Tapi ketika mimpi itu tidak menjadi kenyataan, ia akan segera melupakan mimpi tersebut.
Teori ini mungkin ada benarnya juga. Dalam salah satu eksperimen, subyek diminta untuk menulis mimpi mereka dalam sebuah buku catatan. Hal ini dilakukan untuk mencegah memori selektif bekerja. Setelah dibandingkan dengan kejadian nyata, mimpi yang tercatat tersebut tampaknya kehilangan akurasinya.
Kesimpulannya, kita bermimpi banyak. Banyak yang tidak akurat dan sebagian akurat. Semuanya hanyalah kebetulan semata.
Ya, saya tahu, kalian tidak puas dengan teori-teori ini. Tapi memang sains tidak bisa menjelaskan fenomena ini dengan sempurna. Mau apa lagi ?
Sekarang, sehabis sedikit mengasah otak dengan beberapa teori yang rumit, kita akan masuk ke dalam pertanyaan terpentingnya, yaitu : why me ?
Mengapa precognitive dream terjadi ?
Ini yaitu pertanyaan yang banyak ditanya oleh para pemimpi precognitive.
Sekali lagi, para peneliti tidak mempunyai tanggapan yang pasti. Mereka hanya mengatakan, Mungkin mimpi itu terjadi sebagai belahan dari prosedur pertahanan hidup manusia. Dengan suatu cara, mereka diingatkan akan ancaman yang akan datang. Banyak kesaksian yang menyebutkan adanya perubahan jadwal perjalanan tiba-tiba yang menyelamatkan seseorang dari bencana - Ingat film Final Destination.
Lalu, kalian mungkin akan berkata,"Ya, itu mimpi yang berkaitan dengan diri kita sendiri. Bagaimana dengan mimpi yang berkaitan dengan orang lain ? Bagaimana kalau saya memimpikan mengenai kecelakaan yang akan dialami oleh sahabat saya ?"
Saya tidak menemukan tanggapan pertanyaan ini dari para ilmuwan. Tapi kalau kalian bertanya kepada saya, maka saya akan menjawab :
"Tuhan ingin menggunakan kalian untuk memperingatkan mereka. Jadi, angkat teleponmu dan hubungi ia !"
Precognitive Dream - Last Words
Kita bukan sebuah robot yang terdiri dari mesin-mesin mekanis. Kita yaitu insan yang terdiri dari darah, daging dan roh. Karena itu, insan disebut juga makhluk spiritual.
Siapa yang bisa mengambil roh insan dan menelitinya di bawah mikroskop ?
Sebagai makhluk spiritual, yaitu hal yang masuk akal kalau kita mengalami beberapa pengalaman spiritual. Jika kita bisa memahami ini dan menerimanya apa adanya, maka mungkin kita bisa menjadi lebih damai dan bahagia.
Dalam kasus precognitive dream, saya lebih suka menganggapnya sebagai wilayah spiritual dibanding sains.
Just food for thought :)
(wikipedia, psychic-abilities.suite101.com)
Komentar Pilihan
Mr. Jonathan Archer memperlihatkan komentar di bawah ini di goresan pena saya sebelumnya mengenai deja vu. Mungkin ini cocok untuk menggambarkan pola mengenai Precognitive dream (atau bukan dream).
Jonathan Archer said...
Hai om enigma,mau share n tanya:
Dari kecil saya (kadang) bisa ngeliat gambaran/kejadian apa yg terjadi d masa depan ttng khidupan saya/org lain,kadang lewat mimpi,kadang skedar lewat aja/flashing gk jelas. And ketika terjadinya mimpi ke kenyataan sangat cepat,butuh waktu jam-an saja,gk harian...contoh2nya:
1.tragedi Wtc 11 sept,ada kluarga jauh yg mw nek psawat itu,gk tw sebabnya apa,tw2 saya telp mreka,suruh cancel penerbangan,aku sampe maki2 mreka semoga ngebatalin,akhirnya batal...5 org kluargaku selamat.
2.tsunami di aceh,aku lg tdur,berasa aneh,mimpi kabur gk jelas,latar belakang merah darah,org2 teriak,ksakitan,dll.pas bangun,badan lemes,kasur berair ama keringet,mata sembab,mimpi skitar 1 jam an,stelah baca berita,d waktu yg sama dgn mimpi,terjadi tsunami.
3.gempa jogja:lg telp2an ama pacar,tau2 kaya sejenis flashing memory gt,tiba2 ngomong ma pacar: yank,hari ini bakal ada gempa besar,hati2 ya...2 jam kmudian,jogja bergoya.
4.gempa padang kmarin2,mimpi tau2 kebangun dr tdur jam 1an,bingung,kosong,tau2 nelp pacar: hri ini sumatra bakal kena gempa besar,pacar cuma nenangin aja,cuma mimpi,tenang aja.tau2 sore/mlm hari dy telp,coba liat berita...padang gempa. Banyak lg contohnya,tp kpanjangan ntar.
Kadang bingung,mimpi apa yg akan kejadian,mana yg cuma mimpi,tapi ciri2nya,kuping kiri saya berdenging 5-10 menit,migrain tiba2...
Tolong yg om enigma,kira2 dgn crita saya,saya ngalami apa?saya pernah sampe k suatu masa d mana saya down bgt wacana anomali saya,n sempet mau bunuh diri,krna berpikir org2 yg jd korban itu meninggal krn mimpi saya...mu ke psikolog,kyanya sia2,crita2 ke temen,disangka orang gila.ya udah dah,saya share kesini aja...tambahan informasi,saya muslim,tp gk bgitu taat,gak punya ilmu macem2,n gk niat mw punya sesuatu yg lebih,saya cuma mu jd insan biasa tanpa beban mimpi2 n petunjuk2 kelas berat itu...please help!!
January 27, 2010 3:59 PM