Misteri Flying Rod - Penjelasan
Tuesday, March 16, 2010
Edit
Sebenarnya sudah usang saya ingin memposting soal ini, namun selalu lupa. Kali ini, saya ingat, dan saya memposting goresan pena ini dengan tujuan untuk mengakhiri misteri Flying Rod yang membingungkan.
Pada awal-awal saya membuat blog ini pada Februari 2009, saya memang tidak meneliti sebuah cerita lebih mendalam. Karena itu, banyak tulisan-tulisan awal blog ini berisi isu yang kemungkinan memang hoax. Tapi, saya berniat untuk mengevaluasi beberapa topik yang saya curigai sebagai hoax. Kaprikornus tunggu saja.
Soal Flying Rod, pada goresan pena saya di tanggal 12 Februari 2009, saya menulis kalau Monster Quest dari History Channel pernah memecahkan misteri Flying Rod dengan memakai dua kamera berkecepatan tinggi, namun saya tidak mengelaborasinya lebih jauh. Di goresan pena ini, saya akan membahas pemecahan ini.
Bagi yang belum tahu mengenai makhluk ini, berikut klarifikasi singkat :
Flying Rod, yang juga sering disebut sebagai sky fish yaitu entitas yang pertama kali ditemukan oleh Jose Escamilla pada tanggal 19 Maret 1994 ketika ia sedang merekam acara base jumping di gua Swallow, Meksiko. Dalam rekaman tersebut, terlihat adanya makhluk terbang berbentuk tongkat berwarna putih dengan membran tipis ibarat ubur-ubur.

Makhluk misterius ini tampaknya terlihat di seluruh dunia, ibarat yang terlihat dalam rekaman foxnews yang sedang meliput perang Irak di bawah ini.
Anehnya, makhluk ini tidak pernah terlihat dengan mata telanjang. Mereka hanya terlihat dengan kamera. Karena itu makhluk ini dianggap mempunyai kecepatan terbang yang sangat tinggi.
Sebagian orang beranggapan kalau Flying Rods yaitu entitas cryptid terbaru yang belum teridentifikasi oleh sains modern.

Sebagian orang lagi percaya kalau Rod mempunyai hubungan dengan UFO. Bahkan Jose Escamilla menamai websitenya Roswellrods.com. Jose menjadi sangat terkenal dan kaya alasannya yaitu penemuannya ini.
Namun, misteri yang membingungkan ini bekerjsama telah terpecahkan dengan tepat dan saya rasa bukti yang diberikan sangat konklusif.
Pada tanggal 8 September 2005, salah satu stasiun televisi di Cina, CCTV (China Central Television), menayangkan dua seri dokumenter mengenai Flying Rod. Di dalam film itu disebutkan kalau pada bulan Mei-Juni 2005, kamera pengawas di perusahaan farmasi Zhenguo di kota Tonghua menangkap flying rod beterbangan di sekitar bangunan kantor.
Para peneliti yang kebingungan kemudian mencoba untuk menangkap makhluk itu hidup-hidup. Lalu, mereka memasang jaring besar dan mulai menyalakan kamera pengawas. Ketika Flying Rods terlihat di kamera, mereka segera melihat ke jaring yang telah dipasang.
Mereka menemukan ngengat dan serangga!
Flying Rod ternyata hanya serangga!
Para peneliti Cina kemudian mengambil kesimpulan kalau serangga tersebut sanggup terlihat ibarat Flying Rod alasannya yaitu dampak kecepatan rana (shutter speed) kamera. Kesimpulan ini kemudian diteguhkan kembali oleh para peneliti program televisi Monster Quest dari History Channel.
Dalam usahanya untuk membuat ulang makhluk ini, Monster Quest memasang dua kamera. Satu kamera dengan kecepatan rana rendah dan satu lagi berkecepatan tinggi. Kedua kamera tersebut mengarah ke lokasi yang sama.
Kemudian, seekor ngengat lewat. Pada kamera berkecepatan tinggi, terlihat seekor ngengat sedang terbang. Namun pada kamera berkecepatan rendah, ngengat tersebut terlihat sebagai Flying Rod.
Lihat gambar di bawah ini. Di sebelah kanan, yaitu tampilan layar kamera dengan kecepatan rana yang tinggi, sedangkan di sebelah kiri yaitu tampilan layar kamera dengan kecepatan rana yang rendah.

Ini terang merupakan bukti yang sangat konklusif!
Bagaimana kamera sanggup membuat dampak ibarat itu?
Untuk mengerti hal itu, kita harus memahami cara kerja sebuah kamera video.
Penjelasan gampangnya ibarat ini:
Jika kita memotret seekor burung dengan kamera foto, maka kita akan mendapat sebuah gambar dua dimensi.
Cara kerja kamera foto ini berbeda dengan cara kerja kamera video.
Kamera video memperlihatkan kepada kita sebuah gambar bergerak dengan cara menggabung-gabungkan gambar-gambar yang terdapat dalam frame. Kalian yang suka mengedit video dengan software niscaya mengerti maksud saya.
Jika kita mem-pause rekaman kita, maka kita akan mendapat sebuah gambar di dalam sebuah frame.
Di dalam kamera, Satu Frame sanggup dibagi-bagi ke dalam Fields (mini frame).
Format video yang biasa digunakan dalam kamera video modern yaitu NTSC. Format ini mempunyai kecepatan 1/60. Artinya, kamera ini menangkap 60 fields dalam 1 detik. Sedangkan untuk format PAL, kecepatannya 1/50.
Jika kita merekam seekor burung yang mempunyai kecepatan kepak sayap lebih dari 60 kali perdetik, maka itu berarti ada lebih banyak kepakan sayap burung dibanding jumlah field dalam satu detik. Ini menyebabkan dalam 1 field sanggup terdapat beberapa kali kepakan sayap yang hasilnya membuat gambar burung menjadi blur.



Dari klarifikasi di atas, kita tahu bahwa semakin rendah kecepatan rana kamera, gambar yang dihasilkan akan semakin blur. Contoh lain, yaitu foto kendaraan beroda empat di bawah ini yang direkam dengan dua kamera yang berbeda kecepatan.

Sama kasusnya dengan serangga.
Serangga mempunyai kepakan sayap bervariasi antara 10 sampai 250 kepakan perdetik. Ini artinya dalam satu field sanggup terdapat lebih dari satu kepakan sayap yang menyebabkan gambar serangga menjadi blur.

Serangga yang bergerak maju dikombinasikan dengan blur ini akan menghasilkan dampak Flying Rods.

Semakin rendah kecepatan rana kamera, maka semakin banyak jumlah kepakan sayap dalam satu field yang membuat dampak ini menjadi semakin indah.
Kalian juga sanggup membuat flying rod kalian sendiri dengan melaksanakan ibarat petunjuk di atas. Jika kalian mengubah kecepatan kamera menjadi 1/30 dan mulai merekam serangga yang lewat, kalian akan mendapat Flying Rod. Akan lebih cantik kalau serangga itu diberi cahaya komplemen alasannya yaitu Flying Rod akan menjadi lebih indah.

Bukti-bukti mengenai ini begitu konsklusif sehingga saya menolak untuk memperdebatkannya lagi.
Walaupun begitu, Jose Escamilla dan teman-temannya masih menolak mengakui hasil eksperimen ini dan bahkan mengakui pernah mendapat rekaman Flying Rod di dalam laut. Anyway, saya memeriksanya dan ada satu masalah: Saya tidak sanggup menemukan Rod di dalam rekaman itu :)
Lalu, ada lagi rumor bahwa seorang anak di Inggris berhasil menangkap Flying Rod yang disimpan di dalam toples. Saya yang ingin tahu segera membuka video itu dan ternyata yang ditangkapnya yaitu seekor ngengat!
Beberapa klaim lain yang menyampaikan bahwa mereka pernah menangkap Flying Rod tidak pernah terbukti.
Jadi, berdasarkan saya, sudah saatnya Jose Escamilla say Goodbye to Fame and Fortune!
Pada awal-awal saya membuat blog ini pada Februari 2009, saya memang tidak meneliti sebuah cerita lebih mendalam. Karena itu, banyak tulisan-tulisan awal blog ini berisi isu yang kemungkinan memang hoax. Tapi, saya berniat untuk mengevaluasi beberapa topik yang saya curigai sebagai hoax. Kaprikornus tunggu saja.
Soal Flying Rod, pada goresan pena saya di tanggal 12 Februari 2009, saya menulis kalau Monster Quest dari History Channel pernah memecahkan misteri Flying Rod dengan memakai dua kamera berkecepatan tinggi, namun saya tidak mengelaborasinya lebih jauh. Di goresan pena ini, saya akan membahas pemecahan ini.
Bagi yang belum tahu mengenai makhluk ini, berikut klarifikasi singkat :
Flying Rod, yang juga sering disebut sebagai sky fish yaitu entitas yang pertama kali ditemukan oleh Jose Escamilla pada tanggal 19 Maret 1994 ketika ia sedang merekam acara base jumping di gua Swallow, Meksiko. Dalam rekaman tersebut, terlihat adanya makhluk terbang berbentuk tongkat berwarna putih dengan membran tipis ibarat ubur-ubur.

Makhluk misterius ini tampaknya terlihat di seluruh dunia, ibarat yang terlihat dalam rekaman foxnews yang sedang meliput perang Irak di bawah ini.
Sebagian orang beranggapan kalau Flying Rods yaitu entitas cryptid terbaru yang belum teridentifikasi oleh sains modern.

Sebagian orang lagi percaya kalau Rod mempunyai hubungan dengan UFO. Bahkan Jose Escamilla menamai websitenya Roswellrods.com. Jose menjadi sangat terkenal dan kaya alasannya yaitu penemuannya ini.
Namun, misteri yang membingungkan ini bekerjsama telah terpecahkan dengan tepat dan saya rasa bukti yang diberikan sangat konklusif.
Pada tanggal 8 September 2005, salah satu stasiun televisi di Cina, CCTV (China Central Television), menayangkan dua seri dokumenter mengenai Flying Rod. Di dalam film itu disebutkan kalau pada bulan Mei-Juni 2005, kamera pengawas di perusahaan farmasi Zhenguo di kota Tonghua menangkap flying rod beterbangan di sekitar bangunan kantor.
Para peneliti yang kebingungan kemudian mencoba untuk menangkap makhluk itu hidup-hidup. Lalu, mereka memasang jaring besar dan mulai menyalakan kamera pengawas. Ketika Flying Rods terlihat di kamera, mereka segera melihat ke jaring yang telah dipasang.
Mereka menemukan ngengat dan serangga!
Flying Rod ternyata hanya serangga!
Para peneliti Cina kemudian mengambil kesimpulan kalau serangga tersebut sanggup terlihat ibarat Flying Rod alasannya yaitu dampak kecepatan rana (shutter speed) kamera. Kesimpulan ini kemudian diteguhkan kembali oleh para peneliti program televisi Monster Quest dari History Channel.
Dalam usahanya untuk membuat ulang makhluk ini, Monster Quest memasang dua kamera. Satu kamera dengan kecepatan rana rendah dan satu lagi berkecepatan tinggi. Kedua kamera tersebut mengarah ke lokasi yang sama.
Kemudian, seekor ngengat lewat. Pada kamera berkecepatan tinggi, terlihat seekor ngengat sedang terbang. Namun pada kamera berkecepatan rendah, ngengat tersebut terlihat sebagai Flying Rod.
Lihat gambar di bawah ini. Di sebelah kanan, yaitu tampilan layar kamera dengan kecepatan rana yang tinggi, sedangkan di sebelah kiri yaitu tampilan layar kamera dengan kecepatan rana yang rendah.
Ini terang merupakan bukti yang sangat konklusif!
Bagaimana kamera sanggup membuat dampak ibarat itu?
Untuk mengerti hal itu, kita harus memahami cara kerja sebuah kamera video.
Penjelasan gampangnya ibarat ini:
Jika kita memotret seekor burung dengan kamera foto, maka kita akan mendapat sebuah gambar dua dimensi.
Cara kerja kamera foto ini berbeda dengan cara kerja kamera video.
Kamera video memperlihatkan kepada kita sebuah gambar bergerak dengan cara menggabung-gabungkan gambar-gambar yang terdapat dalam frame. Kalian yang suka mengedit video dengan software niscaya mengerti maksud saya.Jika kita mem-pause rekaman kita, maka kita akan mendapat sebuah gambar di dalam sebuah frame.
Di dalam kamera, Satu Frame sanggup dibagi-bagi ke dalam Fields (mini frame).
Format video yang biasa digunakan dalam kamera video modern yaitu NTSC. Format ini mempunyai kecepatan 1/60. Artinya, kamera ini menangkap 60 fields dalam 1 detik. Sedangkan untuk format PAL, kecepatannya 1/50.
Jika kita merekam seekor burung yang mempunyai kecepatan kepak sayap lebih dari 60 kali perdetik, maka itu berarti ada lebih banyak kepakan sayap burung dibanding jumlah field dalam satu detik. Ini menyebabkan dalam 1 field sanggup terdapat beberapa kali kepakan sayap yang hasilnya membuat gambar burung menjadi blur.



Dari klarifikasi di atas, kita tahu bahwa semakin rendah kecepatan rana kamera, gambar yang dihasilkan akan semakin blur. Contoh lain, yaitu foto kendaraan beroda empat di bawah ini yang direkam dengan dua kamera yang berbeda kecepatan.
Sama kasusnya dengan serangga.
Serangga mempunyai kepakan sayap bervariasi antara 10 sampai 250 kepakan perdetik. Ini artinya dalam satu field sanggup terdapat lebih dari satu kepakan sayap yang menyebabkan gambar serangga menjadi blur.
Serangga yang bergerak maju dikombinasikan dengan blur ini akan menghasilkan dampak Flying Rods.

Semakin rendah kecepatan rana kamera, maka semakin banyak jumlah kepakan sayap dalam satu field yang membuat dampak ini menjadi semakin indah.
Kalian juga sanggup membuat flying rod kalian sendiri dengan melaksanakan ibarat petunjuk di atas. Jika kalian mengubah kecepatan kamera menjadi 1/30 dan mulai merekam serangga yang lewat, kalian akan mendapat Flying Rod. Akan lebih cantik kalau serangga itu diberi cahaya komplemen alasannya yaitu Flying Rod akan menjadi lebih indah.

Bukti-bukti mengenai ini begitu konsklusif sehingga saya menolak untuk memperdebatkannya lagi.
Walaupun begitu, Jose Escamilla dan teman-temannya masih menolak mengakui hasil eksperimen ini dan bahkan mengakui pernah mendapat rekaman Flying Rod di dalam laut. Anyway, saya memeriksanya dan ada satu masalah: Saya tidak sanggup menemukan Rod di dalam rekaman itu :)
Lalu, ada lagi rumor bahwa seorang anak di Inggris berhasil menangkap Flying Rod yang disimpan di dalam toples. Saya yang ingin tahu segera membuka video itu dan ternyata yang ditangkapnya yaitu seekor ngengat!
Beberapa klaim lain yang menyampaikan bahwa mereka pernah menangkap Flying Rod tidak pernah terbukti.
Jadi, berdasarkan saya, sudah saatnya Jose Escamilla say Goodbye to Fame and Fortune!