Random Event Generator - Bisakah Sebuah Mesin Memprediksikan Kejadian Masa Depan?
Wednesday, February 9, 2011
Edit
Apakah kita bisa mempengaruhi sebuah mesin dengan kekuatan pikiran kita? Sejumlah ilmuwan dari banyak sekali negara percaya kalau jawabannya yaitu ya. Hasil dari keyakinan ini yaitu sebuah mesin yang berjulukan Random Event Generator yang bahkan bisa melaksanakan sesuatu yang tidak diduga sebelumnya, yaitu meramalkan terjadinya sebuah insiden besar menyerupai serangan 11 September.
Awalnya, Random Event Generator atau REG dikembangkan bukan untuk meramal. Kemampuan itu ditemukan tanpa sengaja ketika para peneliti mencoba untuk melihat imbas pikiran populasi dunia terhadap mesin tersebut.
pikiran mereka ke sebuah mesin yang secara terus menerus mengeluarkan output berupa angka nol dan satu. Hasilnya cukup mengejutkan. Output yang dihasilkan oleh mesin mengalami anomali sehingga Prof.Jahn menyimpulkan kalau pikiran insan memang bisa mempengaruhi sebuah sistem fisik menyerupai mesin.
Dr.Nelson yang terinspirasi kemudian mencoba untuk menerapkan eksperimen ini dalam skala yang lebih besar. Lalu ia menciptakan sebuah mesin atau "kotak hitam" yang juga menghasilkan output berupa angka nol dan satu secara acak. Mesin ini dipasang di banyak sekali negara dan terhubung dengan sebuah server di Laboratoriumnya di Princeton.
tsunami Asia yang membunuh seperempat juta orang.
Hasil ini mengejutkan alasannya yaitu mungkin mesin ini telah mengkonfirmasikan teori mengenai kemampuan precognitive (mengetahui apa yang akan terjadi) manusia! Sebagian peneliti memang percaya kalau pikiran bawah sadar insan sebetulnya bisa "merasakan" insiden yang akan terjadi.
Dengan demikian, ada dua pertanyaan yang berusaha dijawab oleh eksperimen ini.
Pertama, Apakah pikiran (kolektif) insan bisa mempengaruhi sebuah benda fisik (Mind over matter)?
Dan kedua, Apakah insan benar-benar mempunyai kemampuan untuk mengetahui insiden yang akan terjadi?
Tentu saja, kedua pertanyaan ini akan sangat sulit dijawab alasannya yaitu selama ini para ilmuwan lebih sering menolak untuk terlibat dalam dua hal tersebut.
Menurut Dr.Nelson:
Prof.Chris French, seorang psikolog di Goldsmith College di London juga setuju.
Mengenai kemampuan REG untuk meramal, ia berkata; "Anehnya, tidak ada satupun aturan fisika yang menolak kemungkinan melihat masa depan."
Tetapi, tidak semua peneliti sependapat. Ada yang menganggap kalau Dr.Nelson telah memilah-milah data dan hanya melihat data yang diinginkannya. Efek ini disebut Confirmation Bias dan memang biasa terjadi, terutama dalam kasus ramal-meramal.
Dalam kasus insiden 11 September, beberapa hari sebelum insiden tersebut terjadi, grafik di REG sebetulnya memperlihatkan adanya fluktuasi serupa. Namun fluktuasi ini tidak disinggung oleh Dr.Nelson alasannya yaitu pada hari itu tidak terjadi sesuatu yang istimewa. Hal inilah yang dianggap sebagai bias bagi para skeptis yang menolak hasil eksperimen ini.
Lagipula, bila memang mesin itu bisa menangkap perubahan-perubahan dalam pikiran umat manusia, mengapa banyak insiden besar di dunia tidak bisa "dirasakan" oleh mesin tersebut?
Roger Nelson juga mengakui kurangnya bukti untuk mendukung hipotesisnya.
Namun, untuk menandakan keberadaan "kesadaran global" yang bisa mempengaruhi sebuah mesin atau meramal insiden masa depan, mungkin kita masih butuh waktu dan penelitian yang lebih panjang. Dan untuk itu kita bersyukur untuk peneliti menyerupai Dr.Roger Nelson.
Baca juga: Precognitive dream dan Telekinesis.
(skepticnews.com)
Awalnya, Random Event Generator atau REG dikembangkan bukan untuk meramal. Kemampuan itu ditemukan tanpa sengaja ketika para peneliti mencoba untuk melihat imbas pikiran populasi dunia terhadap mesin tersebut.
pikiran mereka ke sebuah mesin yang secara terus menerus mengeluarkan output berupa angka nol dan satu. Hasilnya cukup mengejutkan. Output yang dihasilkan oleh mesin mengalami anomali sehingga Prof.Jahn menyimpulkan kalau pikiran insan memang bisa mempengaruhi sebuah sistem fisik menyerupai mesin.
Dr.Nelson yang terinspirasi kemudian mencoba untuk menerapkan eksperimen ini dalam skala yang lebih besar. Lalu ia menciptakan sebuah mesin atau "kotak hitam" yang juga menghasilkan output berupa angka nol dan satu secara acak. Mesin ini dipasang di banyak sekali negara dan terhubung dengan sebuah server di Laboratoriumnya di Princeton.
tsunami Asia yang membunuh seperempat juta orang.
Hasil ini mengejutkan alasannya yaitu mungkin mesin ini telah mengkonfirmasikan teori mengenai kemampuan precognitive (mengetahui apa yang akan terjadi) manusia! Sebagian peneliti memang percaya kalau pikiran bawah sadar insan sebetulnya bisa "merasakan" insiden yang akan terjadi.
Dengan demikian, ada dua pertanyaan yang berusaha dijawab oleh eksperimen ini.
Pertama, Apakah pikiran (kolektif) insan bisa mempengaruhi sebuah benda fisik (Mind over matter)?
Dan kedua, Apakah insan benar-benar mempunyai kemampuan untuk mengetahui insiden yang akan terjadi?
Tentu saja, kedua pertanyaan ini akan sangat sulit dijawab alasannya yaitu selama ini para ilmuwan lebih sering menolak untuk terlibat dalam dua hal tersebut.
Menurut Dr.Nelson:
"Hal ini benar-benar menciptakan kami terheran-heran. Kami sedang berada dalam proses untuk mencari tahu apa yang sesungguhnya sedang terjadi disini. Sekarang, kami menyerupai sedang menusuk di dalam kegelapan."Mengenai pertanyaan pertama, Mark Pilkington, seorang jurnalis untuk majalah Fortean Times berkata: "Otak insan sebetulnya menyerupai dengan peralatan listrik. Kaprikornus masuk akal saja kalau ia bisa mempengaruhi medan magnet atau peralatan listrik lainnya."
"Jika melaksanakan kesalahan, kami sangat bersedia dikoreksi. Namun hingga ketika ini kami belum menemukan satupun. Demikian juga dengan orang lain."
Prof.Chris French, seorang psikolog di Goldsmith College di London juga setuju.
"Global Consciousness Project telah memperlihatkan hasil yang menarik yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Saya sendiri sedang terlibat dalam eksperimen serupa dan saya ingin melihat apakah saya mendapat hasil yang sama."Pernyataan ini cukup menarik mengingat Prof.French yaitu seorang skeptis.
Mengenai kemampuan REG untuk meramal, ia berkata; "Anehnya, tidak ada satupun aturan fisika yang menolak kemungkinan melihat masa depan."
Tetapi, tidak semua peneliti sependapat. Ada yang menganggap kalau Dr.Nelson telah memilah-milah data dan hanya melihat data yang diinginkannya. Efek ini disebut Confirmation Bias dan memang biasa terjadi, terutama dalam kasus ramal-meramal.
Dalam kasus insiden 11 September, beberapa hari sebelum insiden tersebut terjadi, grafik di REG sebetulnya memperlihatkan adanya fluktuasi serupa. Namun fluktuasi ini tidak disinggung oleh Dr.Nelson alasannya yaitu pada hari itu tidak terjadi sesuatu yang istimewa. Hal inilah yang dianggap sebagai bias bagi para skeptis yang menolak hasil eksperimen ini.
Lagipula, bila memang mesin itu bisa menangkap perubahan-perubahan dalam pikiran umat manusia, mengapa banyak insiden besar di dunia tidak bisa "dirasakan" oleh mesin tersebut?
Roger Nelson juga mengakui kurangnya bukti untuk mendukung hipotesisnya.
"Saya ingin menegaskan kembali kalau saya suka dengan ide mengenai kesadaran global. Namun ide ini memang masih sebatas spekulasi. Saya tidak ingin mengklaim kalau statistik dan grafik yang dihasilkan yaitu bukti adanya kesadaran global. Namun, di pihak lain, kami mempunyai bukti besar lengan berkuasa kalau terjadi anomali pada data yang seharusnya acak. Anomali ini mempunyai kekerabatan dengan ekspektasi orang-orang mengenai sebuah insiden yang penting baginya."Bagaimanapun juga Dr.Nelson tetap optimis, namun tidak untuk jangka pendek.
"Mungkin kami bisa memprediksikan sebuah insiden besar yang akan terjadi. Namun kami tidak bisa mengetahui dengan niscaya apa dan dimana insiden itu akan terjadi."
"Dengan kata lain - kami belum mempunyai mesin yang bisa kami jual ke CIA."Dr.Nelson kemudian memperlihatkan sedikit filosofi mengenai eksperimen ini.
"Kita selalu diajarkan untuk menjadi monster yang individualistik. Kita didorong oleh lingkungan kita untuk memisahkan diri dari yang lainnya. Hal itu tidak baik."Benar sekali.
"Ada kemungkinan kalau kita sebagai insan sebetulnya terhubung dengan yang lainnya lebih akrab daripada yang kita sadari."
Namun, untuk menandakan keberadaan "kesadaran global" yang bisa mempengaruhi sebuah mesin atau meramal insiden masa depan, mungkin kita masih butuh waktu dan penelitian yang lebih panjang. Dan untuk itu kita bersyukur untuk peneliti menyerupai Dr.Roger Nelson.
Baca juga: Precognitive dream dan Telekinesis.
(skepticnews.com)