Apakah Jenazah Berjalan Toraja Tertangkap Kamera?

Tulisan ini benar-benar terlambat. Namun, walaupun sudah sering dan bahkan sudah cukup lama diberitakan, saya masih mendapatkan email pertanyaan mengenai mayat berjalan tanah Toraja. Awalnya, saya sama sekali tidak berniat untuk menulis soal ini alasannya saya enggan mengomentari soal-soal mistik. Tapi, tampaknya pertanyaan yang masuk rata-rata berkisar pada problem foto. Jadi, saya menghabiskan dua hari ini untuk mencari informasi mengenai Toraja dan berusaha menjawab pertanyaan apakah foto itu menunjukkan mayat yang berjalan di tanah Toraja?


Jadi, sayapun memutuskan untuk menulis soal ini. Namun, saya hanya akan membatasi soal foto sang mayat. Ada dua pertanyaan yang akan saya jawab.

  1. Apakah foto itu menunjukkan prosesi mayat yang sedang berjalan?
  2. Kalau tidak menunjukkan mayat yang sedang berjalan, prosesi apakah yang sedang tergambar di foto tersebut?
(Warning: Tulisan ini berisi foto-foto yang kurang menyenangkan untuk dilihat. Jadi, kalau kalian yang membaca ini sedang makan, sebaiknya kalian selesaikan dulu, gres membaca)

Sebelumnya, mari kita lihat kutipan dari kisah yang beredar luas. Ada beberapa versi yang beredar. Namun, saya akan mengutip dari email yang saya terima dari pembaca.
Konon disebuah gua di desa Sillanang sedjak tahun 1905 telah ditemukan majat insan jang utuh, tidak amis hingga sekarang. Majat itu tidak dibalsem mirip jang dilakukan orang-orang Mesir Purba bahkan tidak diberi ramuan apapun. Tapi sanggup tetap utuh.

Menurut pendapat Tampubolon, kemungkinan ada sematjam zat digua itu jang chasiatnja sanggup mengawetkan majat manusia. Kalau sadja ada hebat geologi dan kimia jang mau membuang waktu menjelidiki tempat itu, agaknja teka teki gua Sillanang sanggup dipetjahkan.

Di samping majat jang anti husuk, ada pula majat insan jang sanggup berdjalan diatas kedua kakinja, bagaikan orang hidup jang tidak kurang suatu apa. Kalau mau ditjari djuga perbedaannja, ada, tapi tidak begitu kentara. Konon berdasarkan Tampubolon, sang majat berdjalan kaku dan agak tersentak-sentak.

Dan dalam perdjalanan itu ia tidak sanggup sendirian, harus ditemani oleh satu orang hidup jang mengawalnja, hingga ketudjuan achir jaitu rumahnja sendiri. Mengapa harus demikian?

Tjeritanja begini. Orang-orang Toradja biasa mendjeladjah daerahnja jang bergunung-gunung dan banjak tjeruk itu hanja dengan berdjalan kaki. Dari zaman purba hingga kini tetap begitu. Mereka tidak mengenal pedati, delman, gerobak atau jang sematjamnja. Nah dalam perdjalanan jang berat itu kemungkinan djatuh sakit dan mati selalu ada.

Supaja majat tidak hingga ditinggal didaerah jang tidak dikenal (orang Toradja menghormati roh setiap orang jang meninggal) dan djug supaja ia tidak menjusahkan insan lainnja (akan sangat mustahil menggotong terus-menerus djenazah sepandjang perdjalanan jang makan waktu berhari-hari), maka dengan satu ilmu gaib, mungkin sedjenis hipnotisme berdasarkan istilah saman sekarang, majat diharuskan pulang berdjalan kaki dan gres berhenti bila ia sudah meletakkan badannja didalam rumahnja sendiri.
Tulisan di atas kemudian disertai dengan sebuah foto.

torajacybernews.blogspot.com dan disitu disebutkan kalau goresan pena itu yaitu saduran dari sebuah goresan pena lama bertanggal 19 Februari 1972.

Ejaan yang kita kenal kini atau Ejaan yang disempurnakan (EYD) diresmikan penggunaannya pada tanggal 16 Agustus 1972. Dengan demikian, dongeng di atas masih memakai ejaan sebelumnya, yaitu ejaan Republik.

Jadi, kini kalian tahu mengapa goresan pena di atas memakai ejaan yang cukup asing.

Karena itu pula, foto tersebut tidak berkaitan dengan isi goresan pena itu alasannya foto tersebut terang bukan berasal dari kamera tahun 1972.

Nah, kini masuk ke pertanyaan pertama: apakah foto di atas menunjukkan foto mayat berjalan?

Menurut saya Tidak.

Apa yang terjadi bahwasanya yaitu sebuah prasangka. Bayangkan, sebuah artikel mengenai mayat berjalan yang disertai sebuah foto mayat yang sedang berdiri. Bukankah itu akan menciptakan kita menganggapnya sebagai foto mayat berjalan? Walaupun bahwasanya belum tentu.

Contoh lain: Misalnya, ada sebuah gosip mengenai seorang perampok yang tertangkap polisi. Lalu pada gosip tersebut, dilampiri sebuah foto yang menunjukkan seorang laki-laki bertampang sangar. Apa yang terpikir oleh kalian?

Kalian akan menganggap laki-laki itu sebagai perampok yang tertangkap. Padahal sanggup saja ia yaitu polisi berpakaian preman yang telah menangkap perampok itu.

Soal prasangka mirip ini sudah pernah saya bahas sedikit di postingan mengenai penemuan jejak tapak kaki raksasa di Aceh.

Coba lihat foto di atas. Ada dua hal yang sanggup menjadi petunjuk.

Pertama, mayat perempuan tersebut terlihat mirip mumi. Ini artinya ia telah meninggal dalam waktu yang cukup lama.


Kedua, pada foto itu, terlihat adanya sebuah peti mati di kanan bawah. Peti mati tersebut terlihat kotor. Ini menunjukkan kalau peti mati itu telah digunakan untuk waktu yang cukup lama.

Kedua petunjuk ini bertentangan dengan dongeng mengenai mayat berjalan di atas. Di dongeng itu, dikisahkan kalau orang Toraja yang merantau dan meninggal dalam perjalanannya, agar tidak meninggal di tanah abnormal dan tidak merepotkan orang lain, dengan suatu ilmu gaib akan dibentuk berjalan sendiri hingga hingga ke rumahnya untuk mendapatkan proses pemakaman yang layak.

Itu artinya, mayat berjalan Toraja yaitu mayat yang masih baru meninggal dan belum pernah ditaruh ke dalam peti. Ini tidak sesuai dengan foto yang kita miliki.

Lagipula, torajacybernews tidak pernah menyebutnya sebagai foto mayat berjalan.

Lalu, pertanyaan keduanya. Jika bukan menunjukkan mayat berjalan, prosesi apakah yang ditunjukkan oleh foto di atas?
Saya percaya kalau foto tersebut menunjukkan bab dari tradisi Toraja yang disebut Ma'nene, sejenis tradisi penghormatan kepada leluhur yang telah meninggal. Bagian dari tradisi ini yaitu mengeluarkan mayit anggota keluarga yang telah lama meninggal dari makam dan mengganti pakaiannya sebagai bentuk penghormatan kepada mereka.

Tradisi Ma'nene pernah ditulis secara singkat oleh ekorusdianto.blogspot.com. Eko bahkan melampirkan dua foto yang menunjukkan prosesi yang sangat mirip dengan yang tergambar di foto kita.
 walaupun sudah sering dan bahkan sudah cukup lama diberitakan Apakah mayat berjalan Toraja tertangkap kamera? walaupun sudah sering dan bahkan sudah cukup lama diberitakan Apakah mayat berjalan Toraja tertangkap kamera?
Eko menceritakan mengenai mayat yang sedang dibersihkan:

Namanya Bapak Lambaa, meninggal usia 70 tahun. Tingginya sekitar 165 cm. Keluarganya menggulung celana dengan perlahan hingga lutut. Yang lain ikut mendandani Ambe Lambaa. Pakaian lama yang dikenakannya bertahun-tahun kini ikut diganti. Kaos kaki, jas, celana luar dan dalam. Hingga rambut harus disisir.

Kini bapak Lambaa kembali memakai pakaian bersih. Perlahan-lahan ditidurkan kembali pada rumah petinya.
Jadi, bukankah foto misterius kita lebih sesuai dengan deskripsi mayit yang sedang dibersihkan dan diganti pakaiannya dibanding mayat berjalan?

Namun, sebelumnya, saya perlu menegaskan kalau saya sama sekali tidak kesulitan mendapatkan wangsit adanya ilmu gaib yang sanggup menciptakan mayat berjalan sendiri. Jadi, goresan pena ini tidak bermaksud untuk menyangkal adanya tradisi itu.

Seperti yang saya katakan di atas, semua ini hanya pendapat saya pribadi. Jika berbicara soal tradisi daerah, saya yakin, pembaca yang orisinil Toraja akan lebih mengerti. Jadi, kalau saya melaksanakan kesalahan dalam goresan pena ini, dengan bahagia hati saya mendapatkan koreksi.

(semua sumber dan linkback sudah saya sertakan di dalam tulisan)


Komentar Pilihan


Anonymous said...

Saya percaya kalo gambar pertama di atas yaitu gambar mayat yang sedang berjalan...karena tradisi ma'nene selalu diadakan di "teras"sebuah kuburan yang mirip rumah...bukan di jalan!!!!! nalar sehat kita memang susah mendapatkan tetapi nggak di pungkiri kalo insiden mirip ini memang ada di kawasan toraja..klo mas pengen lebih yakin boleh jalan2 ke toraja, skalian liburan....^_^

(May 18, 2010 3:39 PM)




To Toraya
said...


3 Foto di atas memang foto2 dari program ma'nene dari kawasan toraja bab utara (foto ini beredar melalui facebook anak2 toraja---foto2nya masih ada lebih banyak)...jadi bukan mayat yang berjalan
.

Walaupun memang di toraja di kenal dengan mayat berjalannya....

tradisi mayat berjalan mgkin masih ada di daerah2 pedalaman toraja (khususnya kawasan toraja barat)...karena efek dari agama kristen (mayoritas orang tator beragama kristen)sudah jarang tradisi itu dilakukan!!

Tradisi Ma'Nene (nene'== nenek == leluhur) sdri adlah salah satu tradisi dari iktikad aluk todolo (agama nenek moyang orang toraja)..tradisi lebih bertujuan kepada penghormatan kepada orang yg sudah meninggal....jadi mayat2 di atas memang di ganti bajunya (caranya??? tnya sama yg ahlinya :D)..


Mayat berjalan toraja bukan cuman mayat gres meninggal, akan tetapi berdasarkan dongeng orang mayat lamapun bisa..dulu katanya mayat2 tersebut sanggup digunakan untuk membantu ngangkat2 kayu dll
.

Oh iyaa....orang toraja dan orang batak sama sekali berbeda :). walaupun adab dan karakteristik hampir sama akan tetapi asal nenek moyang berbeda.


Walaupun hingga kini saya blom pernah secara eksklusif melihat tradisi mayat berjalan tetapi saya percaya tradsi itu masih ada hingga sekarang...

(May 18, 2010 11:07 PM )

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel