Misteri Ular Terbang - Mitos Atau Fakta
Monday, November 16, 2009
Edit
Konon di hutan Kalimantan yang misterius, para penduduk sekitar menceritakan mengenai adanya ular yang biasa terbang dan hinggap di kepala insan untuk menyantapnya. Di Lombok, ada kisah mengenai ular Berare yang disebut-sebut juga sebagai ular terbang. Apakah makhluk yang disebut ular terbang hanya sebuah mitos ataukah memang ada di dunia faktual ?
Ular terbang ternyata bukan sekedar mitos. Makhluk ini juga telah terdokumentasi dengan baik oleh dunia sains. Namun pada awal penampakannya, bahkan para zoologyst asingpun tidak sanggup mempercayainya. Sebenarnya ular ini tidak benar-benar terbang, namun nama ini telah menempel pada binatang yang satu ini selama lebih dari 100 tahun.
Laporan mengenai ular terbang di Indonesia pertama kali diceritakan oleh para Misionaris asing yang bekerja di Sumatera.
Pada suatu hari di tahun 1833, seorang sesepuh penduduk lokal di Sumatera mendatangi dua misionaris barat yang sedang bekerja di sana untuk menceritakan pengalaman anehnya.
Sesepuh yang berjulukan Tam Basar itu bersumpah bahwa ia dan para penduduk lainnya pernah melihat ular yang sedang terbang di udara. Takut dengan ancaman yang mungkin ditimbulkannya, mereka segera membunuh ular itu sesaat sesudah mendarat di bersahabat mereka.
Kedua misionaris barat itu tidak begitu saja mempercayai kisah itu. Namun Tam Basar bersikeras bahwa ia menceritakan hal yang sesungguhnya. Ia juga menambahkan bahwa ular itu mempunyai panjang sekitar 1,2 meter dan tidak mempunyai sayap.
Satu tahun kemudian, pada Januari 1834, salah satu diantara misionaris tersebut, NM Ward, sedang berjalan melewati hutan bersahabat sungai Pedang Bessie, sekitar 1,6 km dari lokasi dimana Tam basar melihat ular terbang.
Ia dan sobat seperjalanannya berhenti sebentar untuk mempelajari sebuah pohon tinggi di bersahabat situ. Ketika mereka melihat ke atas, mereka begitu terkejut alasannya yaitu melihat seekor ular yang sedang terbang, persis menyerupai yang diceritakan oleh Tam Basar. Ular itu terlihat bergerak dengan cepat di udara di bawah pohon kawasan mereka berdiri.
Ward lalu menceritakan pengalamannya dalam surat kabar "Missionary Herald" edisi Maret 1841. "Dengan demikian, saya menjadi yakin dengan adanya ular terbang. Para penduduk lokal yang mengenal wilayah hutan di situ juga mengetahui fakta ini dengan jelas." Katanya.
Walaupun kedengarannya aneh, namun kini kita sanggup mengetahui bahwa di Asia Tenggara paling tidak ada lima spesies "ular terbang". Ular-ular tersebut bekerjsama tidak terbang, melainkan meluncur atau melompat dan keberadaan ular ini bahkan sudah dibuktikan dengan beberapa foto dan rekaman video.
Di bawah ini yaitu ular terbang jenis Chrysopelea Pelias :
Di bawah ini yaitu ular terbang jenis Chrysopelea Ornata :
Ini yaitu foto ular terbang dari jenis Chrysopelea Paradisi ketika sedang take off. Tubuhnya yang membentuk abjad S membantunya untuk memperlihatkan daya dorong yang lebih berpengaruh :
Ular-ular jenis Chrysopelea ini termasuk ular yang mempunyai bisa. Namun sanggup racun pada ular jenis ini tidak mematikan bagi manusia.
Jadi misteri ular terbang Indonesia bekerjsama sudah tersingkap dengan jelas. Hewan ini benar-benar ada dan hidup hingga sekarang. Bahkan bukan hanya di Indonesia, melainkan juga di negara Asia dan Amerika.
Namun soal ular di Kalimantan yang katanya menyantap kepala orang, hmm...saya tidak tahu pasti.
Walaupun dongeng ini singkat, tapi menambah pengetahuan kan ?
Lihat video dari NatGeo berikut ini:
(forteantimes.com, flyingsnake.org)
Ular terbang ternyata bukan sekedar mitos. Makhluk ini juga telah terdokumentasi dengan baik oleh dunia sains. Namun pada awal penampakannya, bahkan para zoologyst asingpun tidak sanggup mempercayainya. Sebenarnya ular ini tidak benar-benar terbang, namun nama ini telah menempel pada binatang yang satu ini selama lebih dari 100 tahun.
Laporan mengenai ular terbang di Indonesia pertama kali diceritakan oleh para Misionaris asing yang bekerja di Sumatera.
Pada suatu hari di tahun 1833, seorang sesepuh penduduk lokal di Sumatera mendatangi dua misionaris barat yang sedang bekerja di sana untuk menceritakan pengalaman anehnya.
Sesepuh yang berjulukan Tam Basar itu bersumpah bahwa ia dan para penduduk lainnya pernah melihat ular yang sedang terbang di udara. Takut dengan ancaman yang mungkin ditimbulkannya, mereka segera membunuh ular itu sesaat sesudah mendarat di bersahabat mereka.
Kedua misionaris barat itu tidak begitu saja mempercayai kisah itu. Namun Tam Basar bersikeras bahwa ia menceritakan hal yang sesungguhnya. Ia juga menambahkan bahwa ular itu mempunyai panjang sekitar 1,2 meter dan tidak mempunyai sayap.
Satu tahun kemudian, pada Januari 1834, salah satu diantara misionaris tersebut, NM Ward, sedang berjalan melewati hutan bersahabat sungai Pedang Bessie, sekitar 1,6 km dari lokasi dimana Tam basar melihat ular terbang.
Ia dan sobat seperjalanannya berhenti sebentar untuk mempelajari sebuah pohon tinggi di bersahabat situ. Ketika mereka melihat ke atas, mereka begitu terkejut alasannya yaitu melihat seekor ular yang sedang terbang, persis menyerupai yang diceritakan oleh Tam Basar. Ular itu terlihat bergerak dengan cepat di udara di bawah pohon kawasan mereka berdiri.
Ward lalu menceritakan pengalamannya dalam surat kabar "Missionary Herald" edisi Maret 1841. "Dengan demikian, saya menjadi yakin dengan adanya ular terbang. Para penduduk lokal yang mengenal wilayah hutan di situ juga mengetahui fakta ini dengan jelas." Katanya.
Walaupun kedengarannya aneh, namun kini kita sanggup mengetahui bahwa di Asia Tenggara paling tidak ada lima spesies "ular terbang". Ular-ular tersebut bekerjsama tidak terbang, melainkan meluncur atau melompat dan keberadaan ular ini bahkan sudah dibuktikan dengan beberapa foto dan rekaman video.
Di bawah ini yaitu ular terbang jenis Chrysopelea Pelias :
Di bawah ini yaitu ular terbang jenis Chrysopelea Ornata :
Ini yaitu foto ular terbang dari jenis Chrysopelea Paradisi ketika sedang take off. Tubuhnya yang membentuk abjad S membantunya untuk memperlihatkan daya dorong yang lebih berpengaruh :
Ular-ular jenis Chrysopelea ini termasuk ular yang mempunyai bisa. Namun sanggup racun pada ular jenis ini tidak mematikan bagi manusia.
Jadi misteri ular terbang Indonesia bekerjsama sudah tersingkap dengan jelas. Hewan ini benar-benar ada dan hidup hingga sekarang. Bahkan bukan hanya di Indonesia, melainkan juga di negara Asia dan Amerika.
Namun soal ular di Kalimantan yang katanya menyantap kepala orang, hmm...saya tidak tahu pasti.
Walaupun dongeng ini singkat, tapi menambah pengetahuan kan ?
Lihat video dari NatGeo berikut ini:
(forteantimes.com, flyingsnake.org)


