Lempeng Lolladoff Dan Kerikil Dropa - Bukti Kunjungan Alien Di Kala Lampau ?
Sunday, December 27, 2009
Edit
Batu Dropa dan Lempeng Lolladoff yaitu dua artefak masa purba yang sering dianggap sebagai bukti adanya kunjungan alien di masa lampau. Benarkah ?
Kebanyakan dari kalian mungkin sudah pernah mendengar mengenai Batu Dropa. Sedangkan soal lempeng Lolladoff, mungkin masih sedikit yang pernah mendengarnya. Namun alasannya yaitu kedua artefak ini sangat berkaitan, maka saya akan menulis mengenai keduanya di dalam goresan pena ini. Bagi yang belum pernah mendengar mengenai kedua artefak ini, mungkin kalian akan sedikit kesulitan mencerna isi goresan pena ini.
Lempeng Lolladoff
Inilah kisah resmi yang beredar mengenai Lempeng Lolladoff :
Lempeng Lolladoff yaitu sebuah lempeng watu yang ditemukan di wilayah Nepal dan diperkirakan telah berusia 12.000 tahun. Pada permukaan lempeng watu ini, terlihat adanya objek berbentuk piring terbang di tengah dengan makhluk berbentuk alien di sisinya (walaupun saya melihat makhluk itu lebih menyerupai Casper, the friendly ghost). Batu ini pertama kali diperlihatkan pada tahun 1947 oleh seorang profesor berjulukan Lolladoff kepada seorang peneliti Inggris yang kemudian mempublikasikan foto lempeng ini di bukunya.
Penjelasan lebih lanjut soal watu ini, akan saya berikan sesudah saya membahas soal watu Dropa.
Himalaya. Ekspedisi itu dipimpin oleh Prof. Chi Pu Tei.
Di wilayah itu mereka menemukan rangkaian gua dan terowongan yang tampaknya dibentuk dengan teknologi canggih. Di dalam gua-gua itu, mereka menemukan kuburan-kuburan berukuran kecil yang didalamnya terkubur kerangka-kerangka yang juga berukuran kecil.
Kerangka tersebut sanggup dipastikan bukan berasal dari anak kecil alasannya yaitu walaupun hanya mempunyai tinggi sekitar 1 - 1,2 meter, kerangka tersebut mempunyai ukuran tengkorak kepala yang besar.
Satu-satunya penanda yang ditemukan pada kuburan ini yaitu batu-batu lempeng berbentuk bulat yang masing-masingnya mempunyai diameter sekitar 30 cm dengan tebal hampir 1 cm. Batu-batu ini mempunyai lubang kecil di tengahnya dengan alur membentuk spiral ke arah sisi luar dan usianya diperkirakan sekitar 12.000 tahun. Batu-batu inilah yang kemudian disebut batu-batu Dropa. Total watu Dropa yang ditemukan oleh ekspedisi ini yaitu sebanyak 716 buah.
hierogliph yang berukuran mikroskopik terukir di atas watu Dropa.
Selain Dr.Tsum Um Nui, pihak Rusia juga menyatakan ketertarikannya atas artefak ini dan diberikan susukan oleh pihak Cina untuk menelitinya. Tim peneliti Rusia yang dipimpin oleh Dr. Vyatcheslav Saizev menemukan bahwa batu-batu ini mengandung konsentrasi Kobalt yang tinggi.
Mungkin artefak ini tidak mengandung arti yang terlalu signifikan. Namun apa yang menarik yaitu apa yang diceritakan oleh Hierogliph mikroskopis yang terukir di atasnya.
Hierogliph itu menceritakan bahwa pada masa lampau, sebuah ras alien bernama Dropa mendarat darurat di wilayah Himalaya. Pendaratan darurat ini mengakibatkan sebagian besar kru pesawat mereka tewas. Kaum Dropa yang selamat kemudian tinggal di dalam gua-gua alasannya yaitu mereka diburu oleh suku setempat, Suku Ham.
Setelah beberapa lama, kedua ras, Dropa dan Ham sanggup hidup berdampingan. Namun kaum Dropa ternyata tidak sanggup memperbaiki pesawatnya sehingga mereka terpaksa menghabiskan sisa hidupnya di bumi bersama manusia.
Hasil penelitian Dr. Tsum Um Nui ini kemudian dikumpulkan dalam sebuah paper akademik untuk diterbitkan. Sebelum sempat diterbitkan, Beijing Academy of pre-History melarang penerbitannya. Setelah melalui banyak sekali usaha, pada tahun 1962, hasil penelitian tersebut karenanya berhasil juga diterbitkan. Namun goresan pena itu segera menerima cemoohan dari kalangan ilmuwan. Dr Tsum Um Nui kemudian menarik diri dari dunia akdemis dan tinggal di Jepang hingga simpulan hayatnya.
Nah, kisah Dropa ini kemudian menarik perhatian para ufolog yang percaya bahwa nenek moyang insan berasal dari alien, atau paling tidak percaya bahwa di bumi ini ada beberapa ras keturunan alien.
Namun apa yang tidak diketahui oleh kebanyakan orang adalah, watu Dropa sudah semenjak usang dianggap sebagai Hoax, bahkan oleh sebagian ufolog dan penganut New Age.
Apa buktinya kalau watu Dropa yaitu sebuah hoax ?
Pertama. Tidak ada catatan bahwa pada tahun 1938 pernah diadakan ekspedisi oleh tim dari universitas Beijing ke Bayan Kara Ula. Jika inovasi watu ini benar-benar signifikan, bukankah harusnya ada catatan akademis mengenai ekspedisi ini ?
Kedua. Tidak pernah ada catatan mengenai ilmuwan berjulukan Tsum Um Nui dan Vyatcheslav Saizev. Bahkan kedua nama ini tidak pernah ditemukan di manapun. Dengan kata lain, dua nama ini yaitu fiktif. Nama Tsum Um Nui bahkan sama sekali bukan nama Cina.
Ketiga. Beijing Academy of pre-History yang disebut pernah melarang penerbitan hasil penelitian Dr Tsum Um Nui ternyata yaitu sebuah perguruan tinggi fiktif.
Keempat. Keberhasilan penerjemahan hierogliph pada watu Dropa dianggap sebagai kisah fiksi. Soalnya tidak pernah ada Rosetta Stone (kamus) untuk mengartikan bahasa Dropa. Kaprikornus boleh dibilang tidak mungkin seseorang sanggup menerjemahkannya hanya dalam waktu singkat menyerupai yang dilakukan oleh Tsum Um Nui.
Kelima. Suku Dropa memang ada dan mendiami wilayah Tibet utara. Namun suku ini bukan suku pigmi menyerupai yang disebut oleh Chi Pu Tei, melainkan berukuran menyerupai insan biasa dan hidup secara nomadik.
Keenam. Sumber awal yang menyebutkan adanya watu Dropa yaitu sebuah buku yang berjudul "Chariots of the Gods" yang ditulis oleh Erich von Daniken pada tahun 1968. Ketika buku ini terbit, demam ufo masa purba dimulai di seluruh dunia dan Daniken dianggap sebagai orang yang paling kuat dalam penyebarluasan teori ini. Namun belakangan tertangkap lembap ternyata Daniken banyak memasukkan fakta-fakta yang tidak benar di dalam buku tersebut. Daniken kemudian mengakui bahwa ia memang mengarang sebagian isi buku tersebut.
Ia juga mengakui bahwa inspirasinya menulis buku itu berasal dari goresan pena Alexander Kazantsev, seorang penulis science fiction dari Sovyet. Namun anehnya, Kazantsev menolak klaim Daniken dan malah menyampaikan bahwa ia menulis kisah-kisah science fictionnya menurut dongeng Daniken.
Yeahh. that tells everything.
Ketujuh. Tulisan berikutnya yang menyinggung mengenai watu Dropa dengan kisah perhiasan yaitu sebuah buku yang berjudul "Sungods in Exile" yang "diedit" oleh David Agamon tahun 1978. Agamon menyampaikan bahwa penulis buku tersebut yaitu Dr. Karyl Robin Evans, seorang peneliti Inggris.
Pada tahun 1988, David Agamon mengakui kepada majalah Fortean Times bahwa buku itu yaitu sebuah hoax dan Dr. Karyl Robin Evans yang disebutnya sebagai penulis buku tersebut hanyalah tokoh imajiner. Ia juga menyampaikan bahwa ia menulis buku itu alasannya yaitu terinspirasi oleh buku "Chariots of the Gods" goresan pena Daniken.
Bukankah sudah sangat terperinci ?
Tujuh argumen di atas tampaknya sudah cukup untuk menolak kisah watu Dropa. Tapi bila kalian merasa tidak cukup, maka tampaknya argumen kedelapan sanggup menutup kasus ini untuk selamanya.
Kedelapan. Tahukah kalian bahwa tidak pernah ada bukti bahwa watu Dropa benar-benar ada. Bayangkan, Chi Pu Tei disebut menemukan 716 lempeng batu. Tapi mengapa tidak pernah ada satupun foto yang memperlihatkan bahwa watu itu benar-benar ada ?
Lalu, mungkin kalian berkata, "lho, jadi foto watu di atas itu foto watu apa ?"
Di internet memang beredar beberapa foto lempeng watu yang disebut sebagai watu Dropa, namun bergotong-royong foto yang beredar itu yaitu foto watu Bi yang ditemukan dalam jumlah ribuan di Cina yang berasal dari tahun 3.000 SM. Foto yang saya pasang di atas yaitu foto watu Bi.
Batu Bi, tidak berdiameter 30 cm menyerupai yang dikatakan mengenai watu Dropa. Lagipula watu Bi terbuat dari watu Jade, bukan kobalt. Dan di permukaan watu Bi, tidak ada hierogliph mikroskopis yang ditemukan.
Batu-batu Dropa disebut disimpan di beberapa museum di Cina. Namun tidak pernah ditemukan adanya batu-batu dengan ciri-ciri menyerupai watu Dropa di museum-museum Cina. Jika sebuah penelitian ilmiah menyebutkan adanya sebuah objek arkeologi yang ditemukan, maka tentu saja itu berarti objek tersebut harus benar-benar ada. Apalagi kita sedang berbicara mengenai 716 buah batu.
Jadi kesimpulannya, kisah mengenai watu Dropa yang beredar hanyalah kisah fiksi yang disebarluaskan lewat internet.
Sekarang, saya sudah memperlihatkan alasan mengapa saya mewaspadai kisah watu Dropa. Lalu bagaimana dengan lempeng watu bergambar Casper, ehem..maaf, maksud saya alien. Untuk Lempeng Lolladoff, kasus ini sudah selesai semenjak lama. Ingatkah kalian apa yang saya tulis di atas mengenai lempeng Lolladoff ?
Saya menulis bahwa Prof Lolladoff yaitu orang yang pertama kali memperlihatkan lempeng ini kepada seorang peneliti Inggris pada tahun 1947 yang kemudian mempublikasikan foto lempeng itu di bukunya. Tahukah kalian siapa peneliti Inggris yang saya maksud ?
Peneliti Inggris yang saya maksud yaitu Dr. Karyl Robin Evans, tokoh fiktif dalam buku hoax "Sungods in Exile" yang diedit oleh David Agamon (lihat argumen ketujuh di atas). Foto lempeng yang kita lihat itu berasal dari buku hoax tersebut. Dengan kata lain, sama menyerupai watu Dropa, kisah lempeng Lolladoff yaitu kisah fiktif dan kita tidak akan pernah sanggup menemukan benda fisiknya dimanapun juga.
Penutup
Dalam goresan pena ini, saya tidak bermaksud untuk mempertanyakan teori ufo masa purba. Yang saya pertanyakan yaitu kredibiltas dua artefak yang sering dijadikan dasar argumen untuk mendukung teori ufo masa purba.
Seperti yang sudah saya tulis di atas, saya langsung mewaspadai kisah kedua artefak ini. Tapi, saya juga tahu, bahwa pembaca blog ini yaitu pembaca-pembaca yang kritis. Sebagian dari kalian akan segera membuka google sesudah membaca goresan pena ini untuk memverifikasi sendiri apa yang saya tulis. Karena itu, saya akan sangat bahagia bila kalian benar-benar sanggup menemukan lokasi kedua artefak ini dan memperlihatkan kepada saya bukti keberadaannya.
Jika kalian sudah menemukannya, beritahukan kepada saya, maka saya akan segera merevisi goresan pena ini.
(bibliotecapleyades.net, helium.com, crystalinks.com)
Kebanyakan dari kalian mungkin sudah pernah mendengar mengenai Batu Dropa. Sedangkan soal lempeng Lolladoff, mungkin masih sedikit yang pernah mendengarnya. Namun alasannya yaitu kedua artefak ini sangat berkaitan, maka saya akan menulis mengenai keduanya di dalam goresan pena ini. Bagi yang belum pernah mendengar mengenai kedua artefak ini, mungkin kalian akan sedikit kesulitan mencerna isi goresan pena ini.
Lempeng Lolladoff
Inilah kisah resmi yang beredar mengenai Lempeng Lolladoff :
Lempeng Lolladoff yaitu sebuah lempeng watu yang ditemukan di wilayah Nepal dan diperkirakan telah berusia 12.000 tahun. Pada permukaan lempeng watu ini, terlihat adanya objek berbentuk piring terbang di tengah dengan makhluk berbentuk alien di sisinya (walaupun saya melihat makhluk itu lebih menyerupai Casper, the friendly ghost). Batu ini pertama kali diperlihatkan pada tahun 1947 oleh seorang profesor berjulukan Lolladoff kepada seorang peneliti Inggris yang kemudian mempublikasikan foto lempeng ini di bukunya.
Penjelasan lebih lanjut soal watu ini, akan saya berikan sesudah saya membahas soal watu Dropa.
Himalaya. Ekspedisi itu dipimpin oleh Prof. Chi Pu Tei.
Di wilayah itu mereka menemukan rangkaian gua dan terowongan yang tampaknya dibentuk dengan teknologi canggih. Di dalam gua-gua itu, mereka menemukan kuburan-kuburan berukuran kecil yang didalamnya terkubur kerangka-kerangka yang juga berukuran kecil.
Kerangka tersebut sanggup dipastikan bukan berasal dari anak kecil alasannya yaitu walaupun hanya mempunyai tinggi sekitar 1 - 1,2 meter, kerangka tersebut mempunyai ukuran tengkorak kepala yang besar.
Satu-satunya penanda yang ditemukan pada kuburan ini yaitu batu-batu lempeng berbentuk bulat yang masing-masingnya mempunyai diameter sekitar 30 cm dengan tebal hampir 1 cm. Batu-batu ini mempunyai lubang kecil di tengahnya dengan alur membentuk spiral ke arah sisi luar dan usianya diperkirakan sekitar 12.000 tahun. Batu-batu inilah yang kemudian disebut batu-batu Dropa. Total watu Dropa yang ditemukan oleh ekspedisi ini yaitu sebanyak 716 buah.
hierogliph yang berukuran mikroskopik terukir di atas watu Dropa.
Selain Dr.Tsum Um Nui, pihak Rusia juga menyatakan ketertarikannya atas artefak ini dan diberikan susukan oleh pihak Cina untuk menelitinya. Tim peneliti Rusia yang dipimpin oleh Dr. Vyatcheslav Saizev menemukan bahwa batu-batu ini mengandung konsentrasi Kobalt yang tinggi.
Mungkin artefak ini tidak mengandung arti yang terlalu signifikan. Namun apa yang menarik yaitu apa yang diceritakan oleh Hierogliph mikroskopis yang terukir di atasnya.
Hierogliph itu menceritakan bahwa pada masa lampau, sebuah ras alien bernama Dropa mendarat darurat di wilayah Himalaya. Pendaratan darurat ini mengakibatkan sebagian besar kru pesawat mereka tewas. Kaum Dropa yang selamat kemudian tinggal di dalam gua-gua alasannya yaitu mereka diburu oleh suku setempat, Suku Ham.
Setelah beberapa lama, kedua ras, Dropa dan Ham sanggup hidup berdampingan. Namun kaum Dropa ternyata tidak sanggup memperbaiki pesawatnya sehingga mereka terpaksa menghabiskan sisa hidupnya di bumi bersama manusia.
Hasil penelitian Dr. Tsum Um Nui ini kemudian dikumpulkan dalam sebuah paper akademik untuk diterbitkan. Sebelum sempat diterbitkan, Beijing Academy of pre-History melarang penerbitannya. Setelah melalui banyak sekali usaha, pada tahun 1962, hasil penelitian tersebut karenanya berhasil juga diterbitkan. Namun goresan pena itu segera menerima cemoohan dari kalangan ilmuwan. Dr Tsum Um Nui kemudian menarik diri dari dunia akdemis dan tinggal di Jepang hingga simpulan hayatnya.
Nah, kisah Dropa ini kemudian menarik perhatian para ufolog yang percaya bahwa nenek moyang insan berasal dari alien, atau paling tidak percaya bahwa di bumi ini ada beberapa ras keturunan alien.
Namun apa yang tidak diketahui oleh kebanyakan orang adalah, watu Dropa sudah semenjak usang dianggap sebagai Hoax, bahkan oleh sebagian ufolog dan penganut New Age.
Apa buktinya kalau watu Dropa yaitu sebuah hoax ?
Pertama. Tidak ada catatan bahwa pada tahun 1938 pernah diadakan ekspedisi oleh tim dari universitas Beijing ke Bayan Kara Ula. Jika inovasi watu ini benar-benar signifikan, bukankah harusnya ada catatan akademis mengenai ekspedisi ini ?
Kedua. Tidak pernah ada catatan mengenai ilmuwan berjulukan Tsum Um Nui dan Vyatcheslav Saizev. Bahkan kedua nama ini tidak pernah ditemukan di manapun. Dengan kata lain, dua nama ini yaitu fiktif. Nama Tsum Um Nui bahkan sama sekali bukan nama Cina.
Ketiga. Beijing Academy of pre-History yang disebut pernah melarang penerbitan hasil penelitian Dr Tsum Um Nui ternyata yaitu sebuah perguruan tinggi fiktif.
Keempat. Keberhasilan penerjemahan hierogliph pada watu Dropa dianggap sebagai kisah fiksi. Soalnya tidak pernah ada Rosetta Stone (kamus) untuk mengartikan bahasa Dropa. Kaprikornus boleh dibilang tidak mungkin seseorang sanggup menerjemahkannya hanya dalam waktu singkat menyerupai yang dilakukan oleh Tsum Um Nui.
Kelima. Suku Dropa memang ada dan mendiami wilayah Tibet utara. Namun suku ini bukan suku pigmi menyerupai yang disebut oleh Chi Pu Tei, melainkan berukuran menyerupai insan biasa dan hidup secara nomadik.
Keenam. Sumber awal yang menyebutkan adanya watu Dropa yaitu sebuah buku yang berjudul "Chariots of the Gods" yang ditulis oleh Erich von Daniken pada tahun 1968. Ketika buku ini terbit, demam ufo masa purba dimulai di seluruh dunia dan Daniken dianggap sebagai orang yang paling kuat dalam penyebarluasan teori ini. Namun belakangan tertangkap lembap ternyata Daniken banyak memasukkan fakta-fakta yang tidak benar di dalam buku tersebut. Daniken kemudian mengakui bahwa ia memang mengarang sebagian isi buku tersebut.
Ia juga mengakui bahwa inspirasinya menulis buku itu berasal dari goresan pena Alexander Kazantsev, seorang penulis science fiction dari Sovyet. Namun anehnya, Kazantsev menolak klaim Daniken dan malah menyampaikan bahwa ia menulis kisah-kisah science fictionnya menurut dongeng Daniken.
Yeahh. that tells everything.
Ketujuh. Tulisan berikutnya yang menyinggung mengenai watu Dropa dengan kisah perhiasan yaitu sebuah buku yang berjudul "Sungods in Exile" yang "diedit" oleh David Agamon tahun 1978. Agamon menyampaikan bahwa penulis buku tersebut yaitu Dr. Karyl Robin Evans, seorang peneliti Inggris.
Pada tahun 1988, David Agamon mengakui kepada majalah Fortean Times bahwa buku itu yaitu sebuah hoax dan Dr. Karyl Robin Evans yang disebutnya sebagai penulis buku tersebut hanyalah tokoh imajiner. Ia juga menyampaikan bahwa ia menulis buku itu alasannya yaitu terinspirasi oleh buku "Chariots of the Gods" goresan pena Daniken.
Bukankah sudah sangat terperinci ?
Tujuh argumen di atas tampaknya sudah cukup untuk menolak kisah watu Dropa. Tapi bila kalian merasa tidak cukup, maka tampaknya argumen kedelapan sanggup menutup kasus ini untuk selamanya.
Kedelapan. Tahukah kalian bahwa tidak pernah ada bukti bahwa watu Dropa benar-benar ada. Bayangkan, Chi Pu Tei disebut menemukan 716 lempeng batu. Tapi mengapa tidak pernah ada satupun foto yang memperlihatkan bahwa watu itu benar-benar ada ?
Lalu, mungkin kalian berkata, "lho, jadi foto watu di atas itu foto watu apa ?"
Di internet memang beredar beberapa foto lempeng watu yang disebut sebagai watu Dropa, namun bergotong-royong foto yang beredar itu yaitu foto watu Bi yang ditemukan dalam jumlah ribuan di Cina yang berasal dari tahun 3.000 SM. Foto yang saya pasang di atas yaitu foto watu Bi.
Batu Bi, tidak berdiameter 30 cm menyerupai yang dikatakan mengenai watu Dropa. Lagipula watu Bi terbuat dari watu Jade, bukan kobalt. Dan di permukaan watu Bi, tidak ada hierogliph mikroskopis yang ditemukan.
Batu-batu Dropa disebut disimpan di beberapa museum di Cina. Namun tidak pernah ditemukan adanya batu-batu dengan ciri-ciri menyerupai watu Dropa di museum-museum Cina. Jika sebuah penelitian ilmiah menyebutkan adanya sebuah objek arkeologi yang ditemukan, maka tentu saja itu berarti objek tersebut harus benar-benar ada. Apalagi kita sedang berbicara mengenai 716 buah batu.
Jadi kesimpulannya, kisah mengenai watu Dropa yang beredar hanyalah kisah fiksi yang disebarluaskan lewat internet.
Sekarang, saya sudah memperlihatkan alasan mengapa saya mewaspadai kisah watu Dropa. Lalu bagaimana dengan lempeng watu bergambar Casper, ehem..maaf, maksud saya alien. Untuk Lempeng Lolladoff, kasus ini sudah selesai semenjak lama. Ingatkah kalian apa yang saya tulis di atas mengenai lempeng Lolladoff ?
Saya menulis bahwa Prof Lolladoff yaitu orang yang pertama kali memperlihatkan lempeng ini kepada seorang peneliti Inggris pada tahun 1947 yang kemudian mempublikasikan foto lempeng itu di bukunya. Tahukah kalian siapa peneliti Inggris yang saya maksud ?
Peneliti Inggris yang saya maksud yaitu Dr. Karyl Robin Evans, tokoh fiktif dalam buku hoax "Sungods in Exile" yang diedit oleh David Agamon (lihat argumen ketujuh di atas). Foto lempeng yang kita lihat itu berasal dari buku hoax tersebut. Dengan kata lain, sama menyerupai watu Dropa, kisah lempeng Lolladoff yaitu kisah fiktif dan kita tidak akan pernah sanggup menemukan benda fisiknya dimanapun juga.
Penutup
Dalam goresan pena ini, saya tidak bermaksud untuk mempertanyakan teori ufo masa purba. Yang saya pertanyakan yaitu kredibiltas dua artefak yang sering dijadikan dasar argumen untuk mendukung teori ufo masa purba.
Seperti yang sudah saya tulis di atas, saya langsung mewaspadai kisah kedua artefak ini. Tapi, saya juga tahu, bahwa pembaca blog ini yaitu pembaca-pembaca yang kritis. Sebagian dari kalian akan segera membuka google sesudah membaca goresan pena ini untuk memverifikasi sendiri apa yang saya tulis. Karena itu, saya akan sangat bahagia bila kalian benar-benar sanggup menemukan lokasi kedua artefak ini dan memperlihatkan kepada saya bukti keberadaannya.
Jika kalian sudah menemukannya, beritahukan kepada saya, maka saya akan segera merevisi goresan pena ini.
(bibliotecapleyades.net, helium.com, crystalinks.com)