Teka-Teki Harta Karun Olivier Levasseur Yang Hilang
Sunday, January 17, 2010
Edit
Kita sering mendengar mengenai legenda bajak maritim dan harta karunnya yang tersembunyi. Tapi mungkin banyak yang belum pernah mendengar bahwa ada harta bajak maritim yang dihubungkan dengan perkumpulan freemason. Ini ialah cerita bajak maritim bermata satu, Olivier Levasseur.
Olivier Levasseur lahir di Calais, Perancis, sekitar tahun 1688 - 1690. Nama aliasnya ialah Le Buse atau La Bouche (elang). Julukan ini diperolehnya sebab kecepatannya dalam menyerang musuh. Kita mungkin mengira bahwa bajak maritim ialah mereka yang berasal dari kaum berandalan, namun tidak demikian dengan Levasseur. Ia lahir dari kalangan borjuis dan berada. Ia bahkan pernah mendapat pendidikan yang baik sampai karenanya menjadi anggota pasukan angkatan maritim Perancis.
Petualangannya dimulai ketika terjadi perang Spanish Succession tahun 1701-1714. Levasseur ditugaskan untuk bertempur di dalam perang ini. Ketika perang berakhir, ia dipanggil pulang oleh pemerintah Perancis. Namun ia menolak dan malah bergabung dengan bajak maritim Benjamin Hornigold tahun 1716. Akibat perang yang dijalaninya, Olivier membawa sebuah bekas luka di erat matanya yang menciptakan pandangannya menjadi lebih terbatas.
Setelah satu tahun melaksanakan banyak sekali pembajakan, perkumpulan Hornigold terpecah. Olivier berpisah dan mencoba peruntungannya di pantai barat Afrika. Pada tahun 1719, ia bekerja sama dengan bajak maritim Howell Davis dan Thomas Cocklyn.
Pada tahun 1720, mereka menyerang pelabuhan Ouidah di pantai benin dan berhasil menghancurkan benteng-benteng disana. Pada tahun yang sama ia mengalami tenggelam kapal di maritim merah dan terdampar di pulau Anjouan, salah satu pulau di Comoro. Saat itu, satu matanya sudah benar-benar menjadi buta dan ia memutuskan untuk menggunakan epilog mata.
Pada tahun 1721, ia membangun markasnya di pulau Saint Mary, di erat pantai Madagaskar. Bersama John Taylor dan Edward England, mereka berhasil melaksanakan beberapa pembajakan yang berhasil. Hasil pertama mereka ialah dikala mereka berhasil membajak kapal Laccadives dan berhasil mendapat harta senilai 75.000 pound (sekitar 10,35 juta pound dikala ini).
Kemudian, kesuksesan mereka yang terbesar tiba ketika mereka berhasil menaklukkan kapal portugis Nossa Senhora do Cabo (The Virgin of the Cape) yang penuh dengan harta milik uskup Goa yang juga ada di atas kapal. Harta yang didapat antara lain batangan emas dan perak, lusinan kotak penuh dengan koin golden guineas, berlian, mutiara, watu rubi, sutra dan objek-objek religius dari katedral Saint Catarina di Goa, termasuk Flaming Cross of Goa yang terbuat dari emas murni. Total harta ini diperkirakan bernilai 100 juta poundsterling pada tahun 1968.
Namun petualangan Levasseur berakhir ketika ia ditangkap dan digantung pada tanggal 7 Juli 1730 di pulau Bourbon. Dan dari sinilah legenda mengenai harta yang hilang mulai berkembang.
Legenda menyampaikan bahwa ketika ia berdiri di tiang gantungan dengan sepotong kain hitam menutupi matanya, ia mengenakan sebuah kalung yang berisi 17 baris pesan rahasia. Ia melemparkannya ke tengah kerumunan massa yang menyaksikannya dan berteriak,"Temukan hartaku bagi kalian yang sanggup mengartikannya!"
Kisah mengenai kalung misterius dan harta ini menghilang selama beberapa era dari publik sampai tahun 1923. Pada dikala itu, seorang perempuan berjulukan Mrs. Rose Savoy yang sedang berjalan-jalan menemukan beberapa gesekan di bebatuan di pantai Bel Ombre erat Beau Vallon di pulau Mahe, Seychelles.
Selama ini gesekan tersebut tersembunyi dari pandangan akhir air pasang. Namun sebab kondisi air yang surut tahun itu, gesekan itu mulai terlihat dan menawarkan bentuk anjing, ular, kura-kura, kuda, lalat, dua gambar hati yang bersatu, sebuah lubang kunci, mata, kotak, badan seorang perempuan dan kepala seorang pria.
Seorang notaris yang tinggal di Victoria yang mendengar informasi ini percaya bahwa gesekan ini pastilah dibentuk oleh para bajak laut. Ia kemudian mencari ke dalam arsip-arsip tuanya dan menemukan dua dokumen yang mungkin mempunyai korelasi dengan gesekan tersebut. Dokumen pertama ialah sebuah peta pantai Bel Ombre yang terbit tahun 1735 di Lisabon. Dalam peta tersebut tertulis : "Pemilik tanah..La Buse." La Buse ialah nama lain Levasseur.
Dokumen kedua ialah wasiat terakhir dari bajak maritim Bernardin Nageon de L'Estang alias Le Butin (penyair) yang meninggal 70 tahun sehabis Levasseur yang dengan suatu cara berhasil memiliki harta Levasseur. Dalam wasiat ini tetulis 3 baris Kriptogram dan dua surat.
Salah satu surat tersebut ditujukan untuk keponakannya :
"Aku kehilangan banyak dokumen selama tenggelam kapal. Aku telah berhasil mengumpulkan kembali sejumlah harta yang disembunyikan; Namun masih ada empat lagi yang tertinggal. Kamu sanggup menemukannya dengan kunci dan kombinasi dan dengan dokumen lainnya."
Lalu, surat lain yang ditujukan untuk abang laki-lakinya berbunyi :
"Kapten kami terluka. Ia berusaha memastikan bahwa saya ialah benar seorang freemason. Setelah yakin, ia mempercayakan kepadaku dokumen-dokumen dan rahasianya kepadaku. Berjanjilah bahwa anak tertuamu akan mencari harta tersebut dan memenuhi mimpiku membangun kembali rumah kita. Komandan akan menyerahkan dokumen-dokumen tersebut. Jumlahnya ada tiga."
Surat ini pertama kalinya menawarkan adanya kemungkinan keterkaitan antara perkumpulan freemason dengan harta Levasseur.
Notaris itu kemudian menghubungi Mrs. Savoy dan bantu-membantu mereka melaksanakan penggalian di watu yang ditemukan Mrs.Savoy. Dibawah watu yang mempunyai gesekan mata, mereka menemukan dua peti mati yang berisi dua kerangka beserta satu kerangka tanpa peti mati. Tiga kerangka tersebut dipercaya sebagai bajak maritim sebab cincin emas yang ada pada pendengaran kiri masing-masing. Tapi tidak ada harta yang ditemukan.
Pada tahun 1947, seorang Inggris berjulukan Reginald Cruise Wilkins, tetangga Mrs.Savoy mulai mempelajari dokumen-dokumen tersebut. Ia mulai dari tiga kriptogram dan dua surat yang ditemukan dan menemukan bahwa alphabet misterius tersebut memiiki korelasi dengan simbol masonik.
Wilkins juga menemukan bahwa kriptogram tersebut mempunyai korelasi dengan Zodiak, buku clavicles of Solomon dan Dua belas kiprah Herkules. Buku Clavicles of Solomon ialah sebuah buku yang berasal dari era pertengahan yang berisi gaib masa reinassance. Sedangkan dua belas kiprah Herkules ialah mitos dari Yunani mengenai dua belas kiprah yang harus diselesaikan oleh Herkules.
Dalam usahanya yang panjang dan melelahkan, Wilkins berhasil memecahkan sebagian isi kriptogram tersebut. Ia menemukan petunjuk bahwa harta tersebut berada di sebuah ruang belakang layar di dalam tanah. Ruangan itu dilindungi oleh air pasang yang membutuhkan bendungan untuk menahannya dan harus didekati dari sebelah utara. Akses ke dalamnya harus dilakukan lewat tangga watu dan terowongan yang menuju ke bawah pantai.
Wilikins melaksanakan beberapa penggalian di pulau Mahe. Di dalam sebuah gua, ia menemukan beberapa pistol kuno, beberapa koin dan peti mati bajak laut. Namun Ia tidak menemukan harta karun. Setiap penggalian yang dilakukannya, selalu merujuk kepada petunjuk berikutnya. Mengenai korelasi harta tersebut dengan freemasonry juga masih menjadi misteri yang belum terpecahkan.
Setelah mencari selama 27 tahun, Wilkins mulai kehabisan dana. Para investor yang tidak sabar mulai menolak mensponsorinya. Lagipula kesehatannya semakin menurun. Namun Wilkins percaya bahwa ia sudah sangat mendekati lokasi harta tersebut. Sayang, pada tanggal 3 Mei 1977 Wilkins meninggal dunia tanpa berhasil memecahkan potongan terakhir arahan belakang layar tersebut. Saat ini anaknya, John, yang berprofesi sebagai guru sejarah, meneruskan usahanya untuk menemukan harta tersebut.
"Temukan hartaku, bagi kalian yang sanggup mengartikannya!" Dan bunyi tawa Levasseur terdengar menggema dari dalam kuburannya.
Notes :
Kuburan Olivier Levasseur dikala ini berada di pulau Reunion, wilayah Perancis yang terletak di maritim Hindia, sebelah selatan Madagaskar. Sedangkan Seychelles daerah harta itu berada ialah sebuah negara kepulauan yang kecil di Samudera Hindia, Timur Laut Madagaskar. Negara ini diapit oleh Mauritius, pulau Reunion, Komoro, Mayotte dan Maladewa. Luasnya sekitar 455 km persegi dengan jumlah penduduk sekitar 80.000 jiwa.
(wikipedia)
Olivier Levasseur lahir di Calais, Perancis, sekitar tahun 1688 - 1690. Nama aliasnya ialah Le Buse atau La Bouche (elang). Julukan ini diperolehnya sebab kecepatannya dalam menyerang musuh. Kita mungkin mengira bahwa bajak maritim ialah mereka yang berasal dari kaum berandalan, namun tidak demikian dengan Levasseur. Ia lahir dari kalangan borjuis dan berada. Ia bahkan pernah mendapat pendidikan yang baik sampai karenanya menjadi anggota pasukan angkatan maritim Perancis.
Petualangannya dimulai ketika terjadi perang Spanish Succession tahun 1701-1714. Levasseur ditugaskan untuk bertempur di dalam perang ini. Ketika perang berakhir, ia dipanggil pulang oleh pemerintah Perancis. Namun ia menolak dan malah bergabung dengan bajak maritim Benjamin Hornigold tahun 1716. Akibat perang yang dijalaninya, Olivier membawa sebuah bekas luka di erat matanya yang menciptakan pandangannya menjadi lebih terbatas.
Setelah satu tahun melaksanakan banyak sekali pembajakan, perkumpulan Hornigold terpecah. Olivier berpisah dan mencoba peruntungannya di pantai barat Afrika. Pada tahun 1719, ia bekerja sama dengan bajak maritim Howell Davis dan Thomas Cocklyn.
Pada tahun 1720, mereka menyerang pelabuhan Ouidah di pantai benin dan berhasil menghancurkan benteng-benteng disana. Pada tahun yang sama ia mengalami tenggelam kapal di maritim merah dan terdampar di pulau Anjouan, salah satu pulau di Comoro. Saat itu, satu matanya sudah benar-benar menjadi buta dan ia memutuskan untuk menggunakan epilog mata.
Pada tahun 1721, ia membangun markasnya di pulau Saint Mary, di erat pantai Madagaskar. Bersama John Taylor dan Edward England, mereka berhasil melaksanakan beberapa pembajakan yang berhasil. Hasil pertama mereka ialah dikala mereka berhasil membajak kapal Laccadives dan berhasil mendapat harta senilai 75.000 pound (sekitar 10,35 juta pound dikala ini).
Kemudian, kesuksesan mereka yang terbesar tiba ketika mereka berhasil menaklukkan kapal portugis Nossa Senhora do Cabo (The Virgin of the Cape) yang penuh dengan harta milik uskup Goa yang juga ada di atas kapal. Harta yang didapat antara lain batangan emas dan perak, lusinan kotak penuh dengan koin golden guineas, berlian, mutiara, watu rubi, sutra dan objek-objek religius dari katedral Saint Catarina di Goa, termasuk Flaming Cross of Goa yang terbuat dari emas murni. Total harta ini diperkirakan bernilai 100 juta poundsterling pada tahun 1968.
Namun petualangan Levasseur berakhir ketika ia ditangkap dan digantung pada tanggal 7 Juli 1730 di pulau Bourbon. Dan dari sinilah legenda mengenai harta yang hilang mulai berkembang.
Legenda menyampaikan bahwa ketika ia berdiri di tiang gantungan dengan sepotong kain hitam menutupi matanya, ia mengenakan sebuah kalung yang berisi 17 baris pesan rahasia. Ia melemparkannya ke tengah kerumunan massa yang menyaksikannya dan berteriak,"Temukan hartaku bagi kalian yang sanggup mengartikannya!"
Kisah mengenai kalung misterius dan harta ini menghilang selama beberapa era dari publik sampai tahun 1923. Pada dikala itu, seorang perempuan berjulukan Mrs. Rose Savoy yang sedang berjalan-jalan menemukan beberapa gesekan di bebatuan di pantai Bel Ombre erat Beau Vallon di pulau Mahe, Seychelles.
Selama ini gesekan tersebut tersembunyi dari pandangan akhir air pasang. Namun sebab kondisi air yang surut tahun itu, gesekan itu mulai terlihat dan menawarkan bentuk anjing, ular, kura-kura, kuda, lalat, dua gambar hati yang bersatu, sebuah lubang kunci, mata, kotak, badan seorang perempuan dan kepala seorang pria.
Seorang notaris yang tinggal di Victoria yang mendengar informasi ini percaya bahwa gesekan ini pastilah dibentuk oleh para bajak laut. Ia kemudian mencari ke dalam arsip-arsip tuanya dan menemukan dua dokumen yang mungkin mempunyai korelasi dengan gesekan tersebut. Dokumen pertama ialah sebuah peta pantai Bel Ombre yang terbit tahun 1735 di Lisabon. Dalam peta tersebut tertulis : "Pemilik tanah..La Buse." La Buse ialah nama lain Levasseur.Dokumen kedua ialah wasiat terakhir dari bajak maritim Bernardin Nageon de L'Estang alias Le Butin (penyair) yang meninggal 70 tahun sehabis Levasseur yang dengan suatu cara berhasil memiliki harta Levasseur. Dalam wasiat ini tetulis 3 baris Kriptogram dan dua surat.
Salah satu surat tersebut ditujukan untuk keponakannya :
"Aku kehilangan banyak dokumen selama tenggelam kapal. Aku telah berhasil mengumpulkan kembali sejumlah harta yang disembunyikan; Namun masih ada empat lagi yang tertinggal. Kamu sanggup menemukannya dengan kunci dan kombinasi dan dengan dokumen lainnya."
Lalu, surat lain yang ditujukan untuk abang laki-lakinya berbunyi :
"Kapten kami terluka. Ia berusaha memastikan bahwa saya ialah benar seorang freemason. Setelah yakin, ia mempercayakan kepadaku dokumen-dokumen dan rahasianya kepadaku. Berjanjilah bahwa anak tertuamu akan mencari harta tersebut dan memenuhi mimpiku membangun kembali rumah kita. Komandan akan menyerahkan dokumen-dokumen tersebut. Jumlahnya ada tiga."
Surat ini pertama kalinya menawarkan adanya kemungkinan keterkaitan antara perkumpulan freemason dengan harta Levasseur.
Notaris itu kemudian menghubungi Mrs. Savoy dan bantu-membantu mereka melaksanakan penggalian di watu yang ditemukan Mrs.Savoy. Dibawah watu yang mempunyai gesekan mata, mereka menemukan dua peti mati yang berisi dua kerangka beserta satu kerangka tanpa peti mati. Tiga kerangka tersebut dipercaya sebagai bajak maritim sebab cincin emas yang ada pada pendengaran kiri masing-masing. Tapi tidak ada harta yang ditemukan.
Wilkins juga menemukan bahwa kriptogram tersebut mempunyai korelasi dengan Zodiak, buku clavicles of Solomon dan Dua belas kiprah Herkules. Buku Clavicles of Solomon ialah sebuah buku yang berasal dari era pertengahan yang berisi gaib masa reinassance. Sedangkan dua belas kiprah Herkules ialah mitos dari Yunani mengenai dua belas kiprah yang harus diselesaikan oleh Herkules.
Dalam usahanya yang panjang dan melelahkan, Wilkins berhasil memecahkan sebagian isi kriptogram tersebut. Ia menemukan petunjuk bahwa harta tersebut berada di sebuah ruang belakang layar di dalam tanah. Ruangan itu dilindungi oleh air pasang yang membutuhkan bendungan untuk menahannya dan harus didekati dari sebelah utara. Akses ke dalamnya harus dilakukan lewat tangga watu dan terowongan yang menuju ke bawah pantai.
Wilikins melaksanakan beberapa penggalian di pulau Mahe. Di dalam sebuah gua, ia menemukan beberapa pistol kuno, beberapa koin dan peti mati bajak laut. Namun Ia tidak menemukan harta karun. Setiap penggalian yang dilakukannya, selalu merujuk kepada petunjuk berikutnya. Mengenai korelasi harta tersebut dengan freemasonry juga masih menjadi misteri yang belum terpecahkan.
Setelah mencari selama 27 tahun, Wilkins mulai kehabisan dana. Para investor yang tidak sabar mulai menolak mensponsorinya. Lagipula kesehatannya semakin menurun. Namun Wilkins percaya bahwa ia sudah sangat mendekati lokasi harta tersebut. Sayang, pada tanggal 3 Mei 1977 Wilkins meninggal dunia tanpa berhasil memecahkan potongan terakhir arahan belakang layar tersebut. Saat ini anaknya, John, yang berprofesi sebagai guru sejarah, meneruskan usahanya untuk menemukan harta tersebut.
"Temukan hartaku, bagi kalian yang sanggup mengartikannya!" Dan bunyi tawa Levasseur terdengar menggema dari dalam kuburannya.
Notes :
Kuburan Olivier Levasseur dikala ini berada di pulau Reunion, wilayah Perancis yang terletak di maritim Hindia, sebelah selatan Madagaskar. Sedangkan Seychelles daerah harta itu berada ialah sebuah negara kepulauan yang kecil di Samudera Hindia, Timur Laut Madagaskar. Negara ini diapit oleh Mauritius, pulau Reunion, Komoro, Mayotte dan Maladewa. Luasnya sekitar 455 km persegi dengan jumlah penduduk sekitar 80.000 jiwa.
(wikipedia)

