Kisah Richard Parker - Premonition Atau Kebetulan Yang Luar Biasa?
Friday, April 16, 2010
Edit
Premonition, secara sederhana berarti: Firasat akan terjadinya sesuatu. Kadang, istilah ini juga disamakan dengan Precognition. Biarkan saya menunjukkan sebuah pola yang mungkin belum pernah kalian dengar. Ini kisah singkat mengenai seorang cowok berjulukan Richard Parker.
Orang yang percaya dengan hal-hal supranatural akan menyebutnya premonition. Tetapi, mereka yang skeptis akan menyebutnya kebetulan, walaupun kebetulan itu sangat luar biasa. Apakah kisah di bawah ini merupakan pola dari premonition ataukah hanya sekedar kebetulan, kalianlah yang menentukan.
novel misteri dan horor menerbitkan sebuah novel yang berjudul The Narrative of Arthur Gordon Pym of Nantucket.
Novel ini mendapat banyak kritikan dan dianggap sebagai buku yang tidak bermutu. Saking banyaknya kritikan, Poe sendiri kesudahannya baiklah dengan para kritikus dan menyebut novelnya sendiri dengan kalimat "a very silly book".
Tokoh utama dalam novel tersebut berjulukan Arthur Gordon Pym yang berlayar bersama rekan-rekannya dengan sebuah kapal penangkap ikan paus berjulukan Grampus.
Suatu hari terjadi pemberontakan di dalam kapal dimana sebagian besar awak dibunuh.
Pym bersama dua rekannya berjulukan Dirk Peters dan Augustus yang tidak ikut dibantai kemudian menyusun rencana untuk merebut kembali kapal tersebut.
Usaha mereka berhasil. Sekarang mereka bertiga ialah pemimpin kapal Grampus. Para pemberontak yang ditaklukkan kemudian dibunuh atau dilempar kelaut.
kapal yang lewat dan mereka berada 1.600 mil jauhnya dari daratan. Sebuah ombak besar tiba dan segera menenggelamkan Mignonette.
Empat penumpangnya berhasil lolos dengan memakai sebuah sekoci. Sayangnya, mereka tidak berhasil membawa persediaan masakan dan air yang cukup selain dua kaleng kecil lobak.
Selama sembilan belas hari berikutnya, mereka mengapung dengan memakan lobak itu bersama-sama. Namun, tidak butuh waktu usang sebelum keputusasaan menjalar.
Sang cukup umur yang kehausan malah meminum air bahari yang menyebabkannya kehilangan kesadaran.
Melihat insiden ini, kapten Dudley kemudian membicarakan sebuah pandangan gres bersama rekan-rekan lainnya.
Sesuatu harus dilakukan untuk mempertahankan hidup.
Ya, seseorang harus dikorbankan untuk menjadi masakan bagi yang lain. Jadi, kapten Dudley mengusulkan untuk segera mengadakan undian.
Sekonyong-konyong, sebuah pikiran merasuk ke dalam benaknya. Sepertinya, ada pandangan gres yang lebih baik ketimbang mengadakan undian. Kapten melihat ke arah cukup umur yang tergeletak tanpa sadar dan mengajak kedua rekannya untuk membunuh cukup umur itu.
Dua rekannya yang lain menganggap itu bukan pandangan gres yang baik, namun, kelaparan, kehausan dan harapan untuk bertahan hidup menyingkirkan semua keraguan di kepala mereka.
Kemudian, mereka bertiga berlutut dan berdoa.
Kapten Dudley menyentuh bahu cukup umur itu dan berkata: "Anakku, waktumu telah tiba."
Lalu, mereka membunuhnya dan mulai memakan mayatnya.
Dengan memakan jenazah itu, mereka berhasil bertahan hidup hingga 35 hari berikutnya hingga mereka diselamatkan oleh sebuah kapal lain yang lewat.
Ironisnya, nama kapal yang menyelamatkan mereka ialah SS Montezuma, yang diambil dari nama seorang raja Aztec yang kanibal.
Sepertinya, Kanibalisme telah menyelamatkan mereka sebanyak dua kali.
Sesudah diselamatkan, mereka bertiga mengakui perbuatannya dan pengadilan Victoria menjatuhkan eksekusi enam bulan kerja paksa.
Sampai sini, kalian akan berpikir, Memang ada kesamaan, tetapi tidak terlalu luar biasa sehingga dapat saja disebut sebagai sebuah kebetulan. Naluri bertahan hidup mungkin akan menciptakan semua orang melaksanakan hal yang sama.
Benar, hingga disini, kisah ini biasa saja, walaupun mempunyai kesamaan cukup menakjubkan dengan kisah dalam novel Poe. Tetapi yang membuatnya menjadi lebih absurd adalah, nama cukup umur yang dibunuh dan dimakan oleh kapten Dudley dan rekan-rekannya adalah: Richard Parker!
Sama dengan nama awak kapal yang dibunuh dan dimakan di novel Poe!
Seakan-akan, Poe mengalami premonition yang kemudian dituangkan ke dalam novelnya.
Jika semua ini hanyalah sebuah kebetulan, berdasarkan kalian, berapakah persentase kemungkinan terjadinya kebetulan ini?
Hmm, terlalu kebetulan, bahkan untuk sebuah kebetulan!
Seperti yang saya katakan, klarifikasi untuk insiden ini sangat tergantung dengan apa yang kalian percayai.
Kapten Tom Dudley menjalani hidup dengan rasa malu hingga simpulan hayatnya. Penduduk lokal mengenalnya dengan sebutan Cannibal Tom.
Walaupun sisa-sisa badan Richard Parker dibuang ke bahari oleh ketiga rekannya, sebuah nisan dibangun untuknya di Woolston, Southampton. Konon, kapten Dudley telah membayar satu keluarga lokal untuk merawat nisan tersebut.

Ini yang tertulis di atasnya:
(psychics.co.uk, wikipedia)
Orang yang percaya dengan hal-hal supranatural akan menyebutnya premonition. Tetapi, mereka yang skeptis akan menyebutnya kebetulan, walaupun kebetulan itu sangat luar biasa. Apakah kisah di bawah ini merupakan pola dari premonition ataukah hanya sekedar kebetulan, kalianlah yang menentukan.
novel misteri dan horor menerbitkan sebuah novel yang berjudul The Narrative of Arthur Gordon Pym of Nantucket.
Novel ini mendapat banyak kritikan dan dianggap sebagai buku yang tidak bermutu. Saking banyaknya kritikan, Poe sendiri kesudahannya baiklah dengan para kritikus dan menyebut novelnya sendiri dengan kalimat "a very silly book".
Tokoh utama dalam novel tersebut berjulukan Arthur Gordon Pym yang berlayar bersama rekan-rekannya dengan sebuah kapal penangkap ikan paus berjulukan Grampus.
Suatu hari terjadi pemberontakan di dalam kapal dimana sebagian besar awak dibunuh.
Pym bersama dua rekannya berjulukan Dirk Peters dan Augustus yang tidak ikut dibantai kemudian menyusun rencana untuk merebut kembali kapal tersebut.
Usaha mereka berhasil. Sekarang mereka bertiga ialah pemimpin kapal Grampus. Para pemberontak yang ditaklukkan kemudian dibunuh atau dilempar kelaut.
kapal yang lewat dan mereka berada 1.600 mil jauhnya dari daratan. Sebuah ombak besar tiba dan segera menenggelamkan Mignonette.
Empat penumpangnya berhasil lolos dengan memakai sebuah sekoci. Sayangnya, mereka tidak berhasil membawa persediaan masakan dan air yang cukup selain dua kaleng kecil lobak.
Selama sembilan belas hari berikutnya, mereka mengapung dengan memakan lobak itu bersama-sama. Namun, tidak butuh waktu usang sebelum keputusasaan menjalar.
Sang cukup umur yang kehausan malah meminum air bahari yang menyebabkannya kehilangan kesadaran.
Melihat insiden ini, kapten Dudley kemudian membicarakan sebuah pandangan gres bersama rekan-rekan lainnya.
Sesuatu harus dilakukan untuk mempertahankan hidup.
Ya, seseorang harus dikorbankan untuk menjadi masakan bagi yang lain. Jadi, kapten Dudley mengusulkan untuk segera mengadakan undian.
Sekonyong-konyong, sebuah pikiran merasuk ke dalam benaknya. Sepertinya, ada pandangan gres yang lebih baik ketimbang mengadakan undian. Kapten melihat ke arah cukup umur yang tergeletak tanpa sadar dan mengajak kedua rekannya untuk membunuh cukup umur itu.
Dua rekannya yang lain menganggap itu bukan pandangan gres yang baik, namun, kelaparan, kehausan dan harapan untuk bertahan hidup menyingkirkan semua keraguan di kepala mereka.
Kemudian, mereka bertiga berlutut dan berdoa.
Kapten Dudley menyentuh bahu cukup umur itu dan berkata: "Anakku, waktumu telah tiba."
Lalu, mereka membunuhnya dan mulai memakan mayatnya.
Dengan memakan jenazah itu, mereka berhasil bertahan hidup hingga 35 hari berikutnya hingga mereka diselamatkan oleh sebuah kapal lain yang lewat.
Ironisnya, nama kapal yang menyelamatkan mereka ialah SS Montezuma, yang diambil dari nama seorang raja Aztec yang kanibal.
Sepertinya, Kanibalisme telah menyelamatkan mereka sebanyak dua kali.
Sesudah diselamatkan, mereka bertiga mengakui perbuatannya dan pengadilan Victoria menjatuhkan eksekusi enam bulan kerja paksa.
Sampai sini, kalian akan berpikir, Memang ada kesamaan, tetapi tidak terlalu luar biasa sehingga dapat saja disebut sebagai sebuah kebetulan. Naluri bertahan hidup mungkin akan menciptakan semua orang melaksanakan hal yang sama.
Benar, hingga disini, kisah ini biasa saja, walaupun mempunyai kesamaan cukup menakjubkan dengan kisah dalam novel Poe. Tetapi yang membuatnya menjadi lebih absurd adalah, nama cukup umur yang dibunuh dan dimakan oleh kapten Dudley dan rekan-rekannya adalah: Richard Parker!
Sama dengan nama awak kapal yang dibunuh dan dimakan di novel Poe!
Seakan-akan, Poe mengalami premonition yang kemudian dituangkan ke dalam novelnya.
Jika semua ini hanyalah sebuah kebetulan, berdasarkan kalian, berapakah persentase kemungkinan terjadinya kebetulan ini?
Hmm, terlalu kebetulan, bahkan untuk sebuah kebetulan!
Seperti yang saya katakan, klarifikasi untuk insiden ini sangat tergantung dengan apa yang kalian percayai.
Kapten Tom Dudley menjalani hidup dengan rasa malu hingga simpulan hayatnya. Penduduk lokal mengenalnya dengan sebutan Cannibal Tom.
Walaupun sisa-sisa badan Richard Parker dibuang ke bahari oleh ketiga rekannya, sebuah nisan dibangun untuknya di Woolston, Southampton. Konon, kapten Dudley telah membayar satu keluarga lokal untuk merawat nisan tersebut.

Ini yang tertulis di atasnya:
To the memory of Richard Parker Aged 17 who died at sea July 25th 1884 after nineteen days dreadful suffering in the open boat in the tropics having been wrecked in the yacht Mignonette
Though He slay me yet I trust in Him.
JOB 13:15
Lord, lay not this sin to their charge
ACTS 11.60
Though He slay me yet I trust in Him.
JOB 13:15
Lord, lay not this sin to their charge
ACTS 11.60
(psychics.co.uk, wikipedia)