Apakah Hitler Mati Di Indonesia? Analisa Foto Dan Kesimpulan
Tuesday, May 14, 2013
Edit
Hitler tewas pada tanggal 30 April 1945 di sebuah bunker di Jerman. Begitulah kisah resmi yang dipercayai oleh para sejarawan. Namun di Indonesia beredar sebuah rumor yang menyatakan bahwa Hitler tidak tewas pada tahun 1945. Ia berhasil melarikan diri ke Indonesia, menjadi dokter di Sumbawa dan meninggal di Surabaya pada tahun 1970. Benarkah demikian adanya?
Beberapa tahun yang lalu, saya sering sekali mendapatkan email yang menanyakan soal kebenaran kisah ini. Pada waktu itu, tentu saja saya tidak sanggup menjawabnya tanpa adanya data yang kuat. Jika ditanya demikian oleh para pembaca enigma, saya hanya mengatakan: "Kalau ada foto Dr.Poch yang disebut sebagai Hitler, maka saya akan memposting soal ini."
Itu beberapa tahun yang lalu.
Beberapa waktu yang lalu, sudah agak lama, ketika saya sedang pergi ke toko buku, saya melihat sebuah buku yang ditulis oleh KGPH Soeryo Goeritno Msc. Judulnya: Rahasia yang terkuak - Hitler mati di Indonesia.
Beberapa waktu yang lalu, sudah agak lama, ketika saya sedang pergi ke toko buku, saya melihat sebuah buku yang ditulis oleh KGPH Soeryo Goeritno Msc. Judulnya: Rahasia yang terkuak - Hitler mati di Indonesia.
Ketika saya melihat isinya sekilas, saya melihat foto Dr.Poch (lengkapnya Dr.Georg Anton Poch). Makara kini saya akan menepati kesepakatan yang pernah saya ucapkan.
Mungkin sebagian besar dari kalian sudah pernah membaca kisah bagaimana Dr. Sosrohusodo berjumpa dengan seorang dokter berjulukan Poch yang kemudian diyakininya sebagai Hitler. Namun bagi yang belum pernah mendengarnya, berikut ialah kutipan dari Vivanews:
"Cerita ini berawal dari sebuat artikel di Harian Pikiran Rakyat pada tahun 1983. Penulisnya berjulukan dr Sosrohusodo -- dokter lulusan Universitas Indonesia yang pernah bertugas di kapal yang dijadikan rumah sakit berjulukan 'Hope' di Sumbawa Besar.
Dia menceritakan pengalamannya bertemu dengan dokter bau tanah asal Jerman berjulukan Poch di Pulau Sumbawa Besar tahun 1960. Poch ialah pimpinan sebuah rumah sakit terbesar di pulau tersebut. Klaim yang diajukan dr Sosrohusodo jadi polemik. Dia menyampaikan dokter bau tanah asal Jerman yang beliau temui dan ajak bicara ialah Hitler di masa tuanya. Bukti-bukti yang diajukan Sosrohusodo, ialah bahwa dokter tersebut tak sanggup berjalan normal --- Dia selalu menyeret kaki kirinya ketika berjalan.
Kemudian, tangannya, kata Sosrohusodo, tangan kiri dokter Jerman itu selalu bergetar. Dia juga punya kumis vertikal menyerupai Charlie Chaplin, dan kepalanya gundul. Kondisi ini diyakini menyerupai dengan citra Hilter di masa tuanya -- yang ditemukan di sejumlah buku biografi sang Fuhrer. Saat bertemu dengannya di tahun 1960, orang yang diduga Hitler berusia 71 tahun.
Menurut Sosrohusodo, dokter asal Jerman yang beliau temui sangat misterius. Dia tidak punya lisensi untuk jadi dokter, bahkan beliau sama sekali tak punya keahlian perihal kesehatan. Keyakinan Sosro, bahwa beliau bertemu Hitler dan Eva Braun, membuatnya makin tertarik membaca buku dan artikel soal Hitler. Kata dia, setiap melihat foto Hitler di masa jayanya, beliau makin yakin bahwa Poch, dokter bau tanah asal Jerman yang beliau temui ialah Hitler.
Keyakinannya bertambah ketika seorang keponakannya, pada 1980, memberinya buku biografi Adolf Hitler karangan Heinz Linge yang diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia oleh Try Budi Satria. Dalam halaman 59 artikel itu diceritakan kondisi fisik Hitler di masa tua. "Sejumlah orang Jerman tahu Hitler menyeret kakinya ketika berjalan, penglihatannya makin kabur, rambutnya tak lagi tumbuh. Kala perang makin berkecamuk dan Jerman terus dipukul kalah, Hitler menderita kelainan syaraf."
Saat membaca buku tersebut, Sosro makin yakin, alasannya ialah kondisi fisik yang sama beliau temukan pada diri Poch. Dalam buku tersebut juga diceritakan tangan kiri Hitler selalu bergetar semenjak pertempuran Stalingrad (1942 -1943) -- yang merupakan pukulan dahsyat bagi tentara Jerman. Sosro mengaku masih ingat beberapa percakapannya dengan Poch yang diduga ialah Hitler. Poch selalu memuji-muji Hitler. Dia juga menyampaikan tak ada pembunuhan di Auschwitz, kamp konsentrasi yang diyakini sebagai lokasi pembantaian orang-orang Yahudi. "Saat saya bertanya soal janjkematian Hitler, beliau menyampaikan tak tahu.
Sebab, ketika itu situasi di Berlin dalam keadaan chaos. Semua orang berusaha menyelamatkan diri masing-masing," kata Sosrohusodo, menyerupai dimuat laman Militariana. Sosro mengaku pernah mengusut tangan kiri Poch yang selalu bergetar. Saat menanyakan kapan tanda-tanda ini mulai terjadi, Poch kemudian bertanya pada istrinya yang kemudian menjawab, "ini terjadi ketika Jerman kalah di pertempuran bersahabat Moskow. Saat itu Goebbels menyampaikan padamu bahwa kamu memukuli meja berkali-kali."
Goebbels yang disebut istri Poch diduga ialah Joseph Goebbe, menteri propaganda Jerman yang dikenal loyal dengan Hilter. Kata Sosro, istri Poch, yang diduga Eva Braun, beberapa kali memanggil suaminya 'Dolf', yang diduga abreviasi dari Adolf Hitler. Usai membaca artikel-artikel tersebut, Sosro mengaku menghubungi Sumbawa Besar. Dari sana, beliau memperoleh informasi dr Poch meninggal di Surabaya.
Poch meninggal pada 15 Januari 1970 pukul 19.30 di Rumah Sakit Karang Menjangan Surabaya lantaran serangan jantung, dalam usia 81 tahun. Dia dimakamkan sehari kemudian di tempat Ngagel. Sementara istrinya yang asal Jerman pulang ke tanah airnya, Poch diketahui menikah lagi dengan perempuan Sunda asal Bandung berinisial S. Dia diketahui tinggal di Babakan Ciamis. Setelah menutup mulut, S karenanya memberi semua dokumen milik suaminya pada Sosro, termasuk foto perkawinan, surat izin mengemudi lengkap dengan sidik jari Poch.
Ada juga buku catatatan berisi nama-nama orang Jerman yang tinggal di beberapa negara, menyerupai Argentina, Italia, Pakistan, Afrika Selatan, dan Tibet. Juga beberapa goresan pena tangan steno dalan bahasa Jerman Buku catatan Poch berisi dua kode, J.R. KepaD No.35637 dan 35638, instruksi simbol lelaki dan perempuan. "Ada kemungkinan buku catatatan dimiliki dua orang, Hitler dan Eva Braun," kata Sosro.
Ada juga goresan pena yang diduga rute pelarian Hitler -- yakni B (Berlin), S (Salzburg), G (Graz), J (Jugoslavia), B (Belgrade), S (Sarajevo), R (Rome), sebelum beliau ke Sumbawa Besar. Istri kedua Poch, S juga menceritakan suatu hari beliau melihat suaminya mencukur kumis dengan gaya menyerupai Hitler. Ketika beliau bertanya, suaminya menjawab, "jangan bilang siapa-siapa." Sosro mengaku tak ada maksud tersembunyi di balik pengakuannya. "Saya hanya ingin menandakan Hitler meninggal di Indonesia," kata dia. Hingga ketika ini apakah Hitler tewas di bunker, di Argentina, Brazil, atau Indonesia, belum sanggup dipastikan. Kisah janjkematian 'sang Fuhrer' terus jadi misteri."
Pada ketika itu, teori Dr.Sosrohusodo menerima perhatian cukup luas di media lokal. Ini mungkin menginspirasi Peter Levenda, penulis Amerika Serikat, untuk menulis sebuah buku mengenai teori ini pada tahun 2012 yang secara efektif menciptakan klaim Dr.Sosrohusodo menjadi cukup populer di barat.
Ketika saya menjelajah internet untuk mencari publikasi media mengenai hal ini, agak mengherankan lantaran kebanyakan media tidak mencoba untuk mengelaborasinya lebih mendalam. Inilah salah satu alasannya ialah yang menciptakan saya memutuskan untuk memposting info yang sudah cukup busuk ini.
Baiklah, pertama, saya tahu, akan sangat sia-sia bila saya mencoba untuk mendebat argumen Dr.Sosrohusodo lantaran hal itu hanya akan menjadi debat teoritis yang terang tidak akan ada ujungnya. Saya sendiri tidak pernah mewawancarai Dr.Sosrohusodo, jadi saya juga tidak sanggup memahami lebih dalam dasar yang digunakannya untuk menarik kesimpulan. Namun, bila saya memakai reportase media saja, maka bukti yang diajukan Dr. Sosrohusodo saya anggap sangat lemah.
Misalnya kutipan mengenai argumen Dr.Sosrohusodo.
Misalnya kutipan mengenai argumen Dr.Sosrohusodo.
"Bukti-bukti yang diajukan Sosrohusodo, ialah bahwa dokter tersebut tak sanggup berjalan normal --- Dia selalu menyeret kaki kirinya ketika berjalan. Kemudian, tangannya, kata Sosrohusodo, tangan kiri dokter Jerman itu selalu bergetar. Dia juga punya kumis vertikal menyerupai Charlie Chaplin, dan kepalanya gundul. Kondisi ini diyakini menyerupai dengan citra Hilter di masa tuanya -- yang ditemukan di sejumlah buku biografi sang Fuhrer. Saat bertemu dengannya di tahun 1960, orang yang diduga Hitler berusia 71 tahun."
(Notes: Hitler lahir tahun 1889 sehingga pada tahun 1960, ia memang berusia 71 tahun).
Bayangkan, kita bertemu dengan seorang Jerman tua, pincang, tangan lemah, mempunyai kumis menyerupai Charlie Chaplin, kepala gundul dan mempunyai umur yang sama dengan Hitler. Lalu kita mengambil kesimpulan kalau orang ini pastilah Hitler.
Jelas cara pengambilan kesimpulan menyerupai ini ialah sebuah fallacy.
Jelas cara pengambilan kesimpulan menyerupai ini ialah sebuah fallacy.
Tetapi anggaplah kalau reportase media tidak secara lengkap menayangkan argumen Dr Sosrohusodo dan ternyata memang ia mengambil kesimpulan berdasar akreditasi Dr.Poch beserta bukti-bukti lainnya, maka dengan demikian, kita boleh beranggapan bahwa argumen Dr Sosrohusodo sudah tepat.
Kalau begitu bagaimana kita sanggup menilai kebenaran klaim ini?
Kalau begitu bagaimana kita sanggup menilai kebenaran klaim ini?
Well, kita mempunyai foto Dr.Poch. Cara yang paling praktis ialah membandingkan foto Hitler dengan foto Dr.Poch. Dan bila kita beruntung, kita sanggup mematahkan atau membenarkan klaim Dr.Sosrohusodo.
Untuk awalnya, ini beliau foto Dr.Poch yang diklaim sebagai Hitler bersama Istrinya yang berasal dari Indonesia.
Sedangkan foto berikut ialah Hitler sendiri.
Setelah melihat foto tersebut, mungkin kalian akan segera yakin kalau Dr.Poch bukanlah Hitler lantaran postur dan wajah yang tidak mirip. Satu-satunya kesamaan mungkin hanya kumisnya. Tapi tunggu dulu.. postur tubuh dan wajah seseorang sanggup berubah seiring pertambahan usia atau seiring berkurang dan bertambahnya berat badan. Argumen menyerupai itu tidak sanggup dipakai.
Kalau begitu argumen apa yang akan kita pakai?
Seperti yang saya katakan di atas, bila kita beruntung, maka kita sanggup mengambil kesimpulan yang konkrit dari perbandingan foto ini. Dan saya rasa, kita beruntung kali ini.
Pada awalnya, saya begitu takjub dengan kesamaan wajah antara Dr.Poch dengan Hitler sehingga saya hampir yakin kalau keduanya ialah orang yang sama. Jika kalian tidak percaya, lihatlah foto Hitler berikut ketika ia masih muda dan kurus, kemudian bandingkan dengan foto Dr.Poch.
Hitler ialah laki-laki di sebelah kanan yang berkumis tebal. Bukankah wajahnya sangat menyerupai dengan Dr.Poch?
Namun kemudian, saya menyadari satu hal. Ada perbedaan fundamental yang kemudian menciptakan saya mewaspadai kalau keduanya ialah orang yang sama.
Bentuk tubuh dan bahkan bentuk wajah sanggup berubah bila kita bertambah tua, bertambah kurus atau bertambah gemuk, Tapi ada satu yang tidak akan berubah.Yaitu Lobule telinga atau Earlobe.
Dr.Poch dan Hitler mempunyai Earlobe yang berbeda.
Walaupun insan mempunyai banyak rupa daun telinga, namun untuk Earlobe, biasanya para mahir anatomi hanya membaginya menjadi dua belahan besar. Yaitu Free Earlobe dan Attached Earlobe.
Hitler mempunyai Free Earlobe sedangkan Dr.Poch mempunyai Attached Earlobe.
Attached Earlobe artinya ujung daun indera pendengaran pribadi menyatu dengan sisi wajah kita. Sedangkan Free Earlobe, ujung daun indera pendengaran melengkung, menyisakan satu belahan yang "bebas".
Attached Earlobe artinya ujung daun indera pendengaran pribadi menyatu dengan sisi wajah kita. Sedangkan Free Earlobe, ujung daun indera pendengaran melengkung, menyisakan satu belahan yang "bebas".
Sekarang bandingkan Earlobe Hitler dan Dr.Poch.
Ini perbandingan satu lagi yang lebih terang lantaran Dr.Poch terpotret dari samping.
Apakah kalian sanggup melihat perbedaannya sekarang?
Apakah kalian sanggup melihat perbedaannya sekarang?
Bahkan kalian sanggup melihat kalau bentuk daun indera pendengaran kedua orang tersebut berbeda. Hal ini pun terlihat terang ketika kita membandingkan foto Poch dengan Hitler yang masih kurus.
Artinya cuma satu. Dr.Poch bukan Hitler.
Artinya cuma satu. Dr.Poch bukan Hitler.
Lalu, mungkin di antara kalian ada yang bertanya: "Apakah earlobe sanggup berubah seiring bertambahnya usia?"
Jawabannya bisa. Namun justru dalam kasus Hitler Poch ini malah memperkuat dugaan kalau keduanya ialah orang berbeda.
Perubahan pada earlobe terjadi ketika kita bertambah tua. Ketika usia kita bertambah, terjadi pengurangan produksi kolagen di dalam tubuh sehingga elastisitas kulit berkurang. Akibatnya earlobe insan akan menjadi bertambah kendur. Namun tidak pernah ada kasus Earlobe seseorang berubah dari Attached menjadi Free atau sebaliknya.
Jika Hitler bertambah tua, maka Free Earlobe yang dimilikinya JUSTRU akan bertambah kendur sehingga lengkungannya terlihat semakin jelas. Hal ini tidak sanggup kita temukan pada indera pendengaran Dr.Poch.
Kalian sanggup melihat perubahan kekenduran earlobe pada pemeran Man in Black, Tommy Lee Jones berikut ini. Bagian yang "bebas" dari earlobenya terlihat semakin "besar".
Berikut foto Obama sewaktu kecil dan dewasa. Ia mempunyai Free Earlobe dan tidak berubah ketika ia dewasa.
Atau Jimmy Carter, mantan presiden Amerika Serikat. Ia mempunyai memiliki Attached earlobe dan tetap demikian adanya ketika ia berusia lanjut. Jadi, dengan metode yang sederhana ini, kita sanggup menemukan sebuah lubang besar dalam klaim Dr.Sosrohusodo.
Nah, sekarang, belahan terpenting dari postingan ini yaitu apa yang telah ditanyakan para pembaca enigma bertahun-tahun lampau, yaitu: "Bro enigma, apakah Hitler benar-benar mati di Indonesia?"
Nah, sekarang, belahan terpenting dari postingan ini yaitu apa yang telah ditanyakan para pembaca enigma bertahun-tahun lampau, yaitu: "Bro enigma, apakah Hitler benar-benar mati di Indonesia?"
Jawabannya: "Saya tidak tahu. Tapi yang saya pastikan ialah Dr.Poch bukan Hitler."
Baca juga: Tengkorak yang dianggap milik Hitler ternyata milik seorang perempuan!
Baca juga: Tengkorak yang dianggap milik Hitler ternyata milik seorang perempuan!
Sumber tambahan:












